Hingga kini telah cukup banyak bukti (baik dari studi pre-klinik maupun klinik) yang menunjukkan manfaat astaxanthin, suatu xanthophylls, bagi kesehatan secara luas. Peran utama astaxanthin yaitu sebagai antioksidan kuat. Selain itu, berbagai manfaat lainnya meliputi prevensi dan terapi berbagai kondisi seperti yang terangkum di bawah ini:

Aktivitas astaxanthin sebagai antioksidan

  • Aktivitas antioksidan astaxanthin terbesar dibandingkan lutein, lycopene, a-carotene, b-carotene, a-tocopherol, 6-hydroxy-2,5,7,8- tetramethylchroman-2-carboxylic acid, maupun carotenoid lainnya.
  • Aktivitas astaxanthin 10 kali lebih tinggi dibandingkan carotenoid lain, seperti zeaxanthin, lutein, canthaxantin, dan ß-carotene; 100 kali lebih tinggi dibandingkan a-tocopherol / vitamin E.
  • Adanya bagian hydroxyl dan keto menyebabklan aktivitas antioksidan astaxanthin yang tinggi.
  • Astaxanthin tidak bersifat pro-oksidan.
  • Astaxanthin mengurangi oksidasi guanosine (komponen DNA).


Aktivitas astaxanthin sebagai anti-inflamasi

  • Dilaporkan bahwa astaxanthin dapat menghambat produksi mediator / sitokin inflamasi: nitrit oxide synthase, cycloosygenase-2, tumor necrosis factor a, dan interleukin-6.
    Astaxanthin meningkatkan fagositik neutrofil dan kemampuan membunuh bakteri, serta mengurangi produksi superoxide anion dan hydrogen peroxide.
    Pada pasien asma, terdapat suatu studi yang menyatakan benefit astaxanthin dalam mensupresi aktivitas sel T.


Aktivitas astaxanthin sebagai gastro-protektif

  • Astaxanthin mengurangi proliferasi dan inflamasi yang disebabkan H pylori.
  • Astaxanthin mengurangi timbulnya ulkus lambung pada mencit yang diinduksi stres.
  • Pemberian astaxanthin dosis tinggi (40 mg/hari) mengurangi gejala refluks pada pasien, terutama dengan infeksi H pylori.
  • Astaxanthin melindungi lambung terhadap kerusakan yang disebabkan ethanol pada mencit.


Aktivitas astaxanthin sebagai hepatoprotektif

  • Astaxanthin terakumulasi dalam mikrosom dan mitokondria hati dan berpotensi melindungi hati terhadap toksin melalui mekanisme hambatan peroksidasi lemak, stimulasi antioksidan seluler, dan modulasi proses inflamasi.
  • Pada studi hewan coba, astaxanthin terlihat menurunkan progresivitas keganasan dengan induksi karsinogen aflatoxin.
  • Astaxanthin melindungi hati terhadap iskemia – reperfusi.
  • Astaxanthin tidak memengaruhi efek antivirus terapi standar hepatitis C (pegylated interferon dan ribavirin).
  • Astaxanthin menghambat peningkatan berat badan, berat jaringan lemak, kadar trigliserida liver dan plasma, kolesterol total, dan meningkatkan sensitivitas insulin serta kerusakan hati pada mencit yang diberikan diet tinggi lemak.


Aktivitas astaxanthin sebagai antidiabetes

  • Diabetes mellitus berkaitan erat dengan stres oksidatif. Stres oksidatif yang diinduksi kadar gula berlebih dapat menyebabkan disfungsi pankreas.
  • Astaxanthin dapat mengurangi stres oksidatif pada sel ß pankreas (sel penghasil insulin) yang diinduksi kadar gula berlebih.
  • Astaxanthin terpantau meningkatkan sensitivitas insulin, toleransi glukosa, kadar insulin serum, dan menurunkan kadar gula darah.
  • Astaxanthin menghambar terjadinya disfungsi limfosit pada pasien diabetes.
  • Pada hewan coba, astaxanthin mengurangi kerusakan ginjal (nefropati) pada kondisi diabetes. Mekanismenya terutama melalui penurunan stres oksidatif pada ginjal.
  • Pada kondisi diabetes, astaxanthin mengembalikan aktivitas enzimatik kelenjar liur.


Aktivitas astaxanthin sebagai kardioprotektif

  • Carotenoid dipercaya bermanfaat melindungi jantung karena aktivitas antioksidannya.
  • Astaxanthin secara bermakna mengurangi infiltasi makrofag pada plak aterosklerosis dan mengurangi apoptosis makrofag dan ruptur (pecah) plak --> plaque stability.
  • Pemberian astaxanthin pada hewan coba terpantau menurunkan tekanan darah arteri pada kondisi hipertensi, serta mengurangi insidens stroke.
  • Astaxanthin terpantau mengurangi aktivitas sistem renin-angiotensin yang berhubungan dengan peningkatan tekanan darah.
  • Astaxanthin meningkatkan kontraktilitas jantung pada mencit.
  • Pada uji klinik, pemberian astaxanthin meningkatkan kadar adinopectin dan memperbaiki kadar trigliserida, dan highdensity lipoprotein. Pada uji klinik lainnya, astaxanthin terpantau memperbaiki rheology darah (parameter: blood transit time).


Aktivitas astaxanthin sebagai antikanker

  • Di antara canthaxanthin dan ß-carotene, astaxanthin menunjukkan aktivitas antikanker tertinggi.
  • Efek inhibisi astaxanthin terpantau pada jenis kanker kolon, fibrosarkoma mulut, payudara, prostat, fibroblas embionik, dan beberapa jenis kanker lainnya.
  • Astaxanthin terpantau bersifat kemopreventif terhadap karsinogen pada hewan coba.
  • Pada hewan coba, pemberian astaxanthin sebelum mulai adanya tumor (diinduksi) menghambat pertumbuhan tumor payudara dan meningkatkan jumlah sel natural killer. Namun, pemberian setelah induksi tumor meningkatkan pertumbuhan tumor dan meningkatkan produksi sitokin proinflamasi.


Aktivitas astaxanthin sebagai neuroprotektif

  • Astaxanthin melindungi sel saraf dari kerusakan yang diinduksi, sehingga protektif terhadap penyakit neurodegeneratif (termasuk Parkinson dan Alzheimer). Namun belum ada uji klinik yang mengkonfirmasi hal ini.
  • Astaxanthin dapat mengurangi kerusakan yang diinduksi iskemia dan infark serebrum melalui hambatan stres oksidatif (antiapoptosis) pada jaringan otak.
  • Berbagai studi menemukan mekanisme – mekanisme neuroprotektif astaxanthin yang beragam, sehingga memberikan dasar evidens potensi astaxanthin dalam prevensi dan terapi berbagai penyakit / kelainan saraf.
  • Astaxanthin juga terpantau meningkatkan kemampuan sel punca neural (saraf).


Aktivitas astaxanthin protektif terhadap mata

  • Pada sukarelawan sehat (usia > 40 tahun), konsumsi astaxanthin 4 atau 12 mg/hari selama 28 hari memperbaiki penglihatan jarak jauh dan mempersingkat kemampuan akomodasi mata.
  • Pada uji klinik, astaxanthin terpantau memperbaiki fungsi retina dan kelelahan mata.
  • Astaxanthin terpantau meningkatkan aliran darah pada mata dan juga bersifat antiinfl amasi.
  • Studi pada hewan menunjukkan efek protektif astaxanthin pada lensa mata terhadap kerusakan oksidatif.


Aktivitas protektif terhadap kulit

  • Astaxanthin menghambat kerusakan akibat pajanan sinar ultraviolet.
  • Pada 3 uji klinik, astaxanthin terpantau mengurangi kerutan halus dan age spot, baik pada wanita maupun pria.


Aktivitas astaxanthin terhadap kemampuan fisik

  • Pada sukarelawan pria sehat, pemberian astaxanthin secara bermakna menurunkan kadar asam laktat (hasil buangan aktivitas otot) serum pasca latihan fisik. Sehingga astaxanthin berpotensi meningkatkan kemampuan latihan fisik / olahraga.
  • Astaxanthin terpantau mengurangi kerusakan otot rangka dan jantung yang diinduksi latihan fisik pada mencit.
  • Astaxanthin meningkatkan metabolisme lemak (dan penggunaan asam lemak), bukan meningkatkan penggunaan glukosa, sehingga menyebabkan perbaikan pengurangan jaringan lemak saat latihan fisik dan mengurangi penggunaan glikogen untuk digunakan kemudian (later stage of exercise), sehingga meningkatkan kemampuan latihan fisik dan menunda timbulnya rasa lelah.


Aktivitas astaxanthin terhadap fertilitas

  • Uji klinik menunjukkan bahwa pemberian astaxanthin sebagain terapi tambahan secara bermakna mengurangi pembentukan radikal bebas pada sel reproduksi.
  • Studi pada hewan coba menunjukkan manfaat astaxanthin dalam meningkatkan berat testis, jumlah dan morfologi spermatozoa yang diinduksi cyclophosphamide.


Aktivitas astaxanthin terhadap fungsi ginjal

  • Astaxanthin mengurangi dampak toksisitas merkuri terhadap ginjal. Mekanismenya melalui hambatan oksidasi lemak dan protein.


Potensi manfaat astaxanthin yang luas perlu dikonfirmasi dalam uji klinik. Jika sudah ada uji klinik dengan metode yang baik, maka besar kemungkinan astaxanthin akan menjadi suatu nutraseutikal yang direkomendasikan sebagai upaya prevensi / terapi penyakit.

Astaxanthin dapat ditemukan pada microalgae Haematococcus pluvialis, Chlorella zofi ngiensis, Chlorococcum sp, dan ragi merah Phaffia rhodozyma. Namun, H pluvialis memiliki kapasitas akumulasi astaxanthin tertinggi (hingga 4-5% berat kering).

REFERENSI:
1. Yuan JP, et al. Potential health-promoting eff ects of astaxanthin: A high-value carotenoid mostly from microalgae. Mol Nutr Food Res. 2011; 55:150-65.
2. Yamashita E.The eff ects of a dietary supplement containing astaxanthin on skin condition.Carotenoid Science.2006;10:91-5.
3. Tominaga K, et al.Cosmetic benefi ts of astaxanthin on humans subjects.Acta Biochimica Polonica.2012;59(1):43-7.

Sumber: CDK

loading...