Garis tangan dipercaya berhubungan dengan nasib seseorang. Sedangkan kesehatan, penyakit, ketahanan hidup, vitalitas fisik, dan kekuatan emosional, misteri dalam golongan darah manusia.

Bertahun-tahun James D’Adamo dan Peter D’Adamo, keduanya dokter naturopatik Amerika Serikat, meneliti hubungan antara golongan darah dan konsumsi makanan yang tepat. Jika salah konsumsi makanan, tubuh secara tak langsung bakal menolak. Hasil akhir penolakannya itu adalah penyakit. Artinya salah makan mengundang kematian.

“Intinya jika darah sebagai sumber utama penyalur makanan pada tubuh, kemungkinan besar darah juga dapat mengidentifikasi perbedaan makanan,” kata Lukas Tersono Adi, herbalis di Tangerang, Provinsi Banten. Artinya, mensinergikan makanan dengan golongan darah menjadi salah satu cara membentengi diri dari penyakit.

Golongan darah manusia terbentuk lantaran kegiatan hidup. “O” golongan darah tertua di dunia, pertama kali ditemukan di Afrika. Huruf “O” berasal dari kata old yang berarti tua. Golongan darah A muncul seiring perubahan peradaban masyarakat agraris. Huruf “A” singkatan agrarian. Golongan darah B muncul saat manusia pindah ke belahan bumi utara yang lebih dingin. Sedangkan golongan darah AB merupakan adaptasi modern, perpaduan sifat golongan darah A dan B.

Beda karbohidrat

Menurut Lukas, “Jenis karbohidrat dan protein berupa lektin pada permukaan membran sel darah merah manusia berbeda satu sama lain". Pengaruh lektin pada berbagai jenis makanan itu berbeda pada setiap golongan darah. Jika lektin tidak cocok pada golongan darah tertentu, memicu penggumpalan sel-sel darah. Perbedaan jenis karbohidrat dan protein yang berbeda itulah yang menjelaskan perbedaan efek mengkonsumsi makanan dan herbal tertentu. Pengobatan herbal sesuai golongan darah, bisa mengembalikan fungsi penjagaan sistem tubuh dan memperbaiki metabolisme tubuh.

Sayang, terapi herbal berdasarkan golongan darah baru semarak di luar negeri, terutama di negara asalnya Amerika Serikat. Dokter sekaligus herbalis, Paulus Wahyudi Halim di Tangerang, menyatakan masih asing dengan pola diet berdasarkan golongan darah itu. Mengaitkan golongan darah tertentu dengan rentannya terhadap suatu jenis penyakit masih membingungkan. "Itu yang saya tidak sepakat. Misalnya bahwa golongan darah B lebih kuat terhadap penyakit jantung. Itu perlu penelitian lebih lanjut," kata dr Paulus.

Walau belum populer, Yuliana di Bogor mencoba-coba menggunakan terapi herbal berdasarkan golongan darah untuk mengatasi penyakit sinusitis. Penderitaan Yuliana berawal dari dada sesak yang menghampirinya saat berlari pagi. “Badan saya juga agak panas,” kata kelahiran 10 Oktober 1977. Selain itu, tenggorokan juga gatal dan ia batuk-batuk. Semula Yuliana menduga itu gejala flu biasa. Namun, ia mulai curiga. “Kalau flu, biasanya ingus keluar tanpa henti, tapi ini kok tidak,” katanya. Saat dikeluarkan, ingus tampak mengental dan berwarna kuning kehijauan. Selain itu, ingus asal saluran sinus maksilaris itu mengeluarkan aroma tak sedap. Akibatnya Yuliana menyadari dirinya terkena sinusitis.

Setelah itu, Yuliana was-was jika dirinya kelelahan. “Bisa-bisa saya tak bernapas sama sekali,” kata wanita kelahiran Bogor itu. Ketika bertandang ke ahli medis, ia disarankan untuk menghindari minuman dingin dan mengkonsumsi beberapa jenis obat pelega pernapasan. Seminggu berselang, obat-obatan itu memang mujarab menghadang rasa pusing akibat tekanan di hidung. Namun, hari kesepuluh mengkonsumsi obat-obatan, ia malah sulit bernapas saat malam hari. Hari-hari berikutnya sesak napas menjadi langganan wanita 30 tahun itu. Makanya ketika semua mata terlelap, mata Yuliana justru terpicing.

Walau begitu, konsumsi obat-obatan tetap diteruskan. Sampai akhirnya, ia menghadapi sesak napas yang luar biasa saat menghadiri resepsi pernikahan. ”Saat ramai orang, saya pengap. Hidung seperti tak mampu menghirup udara dengan leluasa,” kata Yuliana. Seorang teman memberinya permen jahe. Sesudah mengisapnya, rongga dadanya terasa plong dan napas pun jadi mudah. Semenjak itulah Yuliana tak pernah absen mengkonsumsi berbagai olahan jahe. Sayang, itu tak berlangsung lama. Jahe tak lagi mempan menghambat produksi lendir yang selalu menghadang udara di hidung.

Seorang herbalis yang dikunjungi Yuliana menyarankan untuk diet makanan berlendir. Alasannya, golongan darahnya—AB—sudah memproduksi lendir dalam jumlah banyak. Akibatnya jika konsumsi makanan tak dibatasi, penyakit saluran pernapasan paling dulu bertandang.

Konsumsi yang harus dikurangi adalah olahan susu. Garam yang dikonsumsi pun harus rendah natrium. Terapinya paling baik jika menggunakan lemon yang diseduh air panas. Sedangkan tanaman obat yang cocok mengurangi lendir antara lain daun sendok dan pegagan. “Jahe kurang tepat bagi golongan darah AB,” kata Lukas. Oleh sebab itu, “Sangat penting untuk mengetahui kecocokan antara penyakit dengan golongan darah. Jika tidak, kesembuhan hanya sebuah fatamorgana,” lanjut Lukas.

#Trubus

loading...