Bunuh diri menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia; khususnya usia 15-35 tahun. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, hampir 1 juta orang bunuh diri di tahun 2000. Ini berarti ada satu kematian tiap 40 detik dan percobaan bunuh diri tiap tiga detik. Kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia hanyalah gambaran dari puncak gunung es.

Sejumlah faktor berkontribusi atas angka kematian bunuh diri di tiap negara; populasi, distribusi jenis kelamin dan usia, etos sosiobudaya, luasnya pengembangan sosioteknologi, ketersediaan metode bunuh diri dan upaya intervensi.

Di Ruang Rawat Dahlia Rumah Sakit Jiwa Provinsi NAD tercatat pasien berisiko bunuh diri yang dirawat berjumlah 6 orang sepanjang tahun 2006, dan menjadi hampir 2 kali lipat (11 kasus) di tahun 2007.1 Itu baru di satu ruang rawat saja, belum dari ruang rawat lain dan rumah sakit umum lain di Aceh. Sebagai perbandingan di Rumah Sakit Umum dr. Soetomo Surabaya, tercatat tiap bulan rata-rata 5 orang meninggal karena bunuh diri dan kebanyakan mereka adalah remaja. Psikiater yang juga Direktur RSJ Bali, dr. I Gusti Tirta, Sp.KJ mengungkapkan bahwa di Bali sepanjang 2006 tercatat 170 korban bunuh diri. Sedangkan data dari WHO menunjukkan angka bunuh diri di Indonesia diperkirakan 1,6-1,8 orang per 100.000 penduduk. Tercatat juga dari tahun 2005-2007, sejumlah lebih kurang 50.000 orang Indonesia bunuh diri. Dampak psikologi, sosial dan finansial dari bunuh diri pada keluarga dan komunitas juga tidak terhitungkan.2

Bunuh diri adalah tindakan agresi yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri adalah problem kesehatan masyarakat yang serius3 dan merupakan kedaruratan psikiatri karena pasien berada dalam keadaan tertekan yang tinggi dan menggunakan koping yang maladaptif. Bagaimanapun juga bunuh diri dapat dicegah.4

Kategori Bunuh Diri

Perilaku bunuh diri bersama dibagi dalam tiga kategori5:

1. Ancaman bunuh diri
Peringatan verbal atau nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang tersebut mungkin menemukan secara verbal bahwa ia tak akan berada di sekitar kita lebih lama lagi. Atau mengkomunikasikan secara non verbal melalui pemberian hadiah atau wasiat. Pesan ini harus dipertimbangkan dalam konteks peristiwa kehidupan berakhir. Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang tentang kematian, dan kurangnya respon positif dapat ditafsirkan sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.

2. Upaya bunuh diri
Semua tindakan yang dapat mengarah pada kematian jika tidak dapat dicegah.

3. Bunuh diri
Mungkin terjadi setelah tanda dan peringatan terlewatkan atau diabaikan.

Kenapa individu melakukan bunuh diri?

Ada banyak pendapat tentang penyebab atau alasan yang mendorong terjadinya tindakan bunuh diri, diantaranya adalah:
1. Kegagalan untuk adaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stres.
2. Perasaan terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal atau gagal melakukan hubungan yang berarti.
3. Perasaan marah atau bermusuhan. Bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.

Faktor sosial dan personal memainkan peranan penting.
Faktor sosial yang membuat seseorang merasa tidak bahagia dan mencoba untuk bunuh diri antara lain:

  • Hubungan & perkawinan yang tidak bahagia
  • Berbagai kesulitan ekonomi atau kehilangan pekerjaan
  • Kehilangan orang yang dicintai
  • Tidak memiliki teman untuk berbagi perasaan dan memecahkan masalah


Tiga gangguan mental yang dapat membuat individu berisiko untuk bunuh diri yaitu gangguan afektif, penyalahgunaan zat dan skizofrenia.

Beberapa kelompok berisiko yang didiagnosa dalam usaha bunuh diri:

  • Depresi (dalam bentuk apapun)
  • Gangguan kepribadian (anti sosial dan borderline dengan sifat yang impulsif, agresif dan perubahan mood yang sering)
  • Alkoholisme (dan/atau penyalahgunaan zat lain dalam masa remaja)
  • Skizofrenia


Apa tindakan yang harus diberikan pada klien dengan risiko bunuh diri?

Terdapat beberapa tindakan yang harus dilakukan pada klien risiko bunuh diri:

  • Menemani klien terus menerus sampai dapat dipindahkan ke tempat aman.
  • Jauhkan semua benda / senjata yang membahayakan. Jelaskan pada klien bahwa dia dalam keadaan aman dan anda melindungi klien hingga keinginan bunuh diri tidak ada lagi.
  • Diskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri yaitu dengan cara meminta bantuan dari keluarga atau teman.
  • Meningkatkan harga diri klien, dengan cara memberi kesempatan klien mengungkapkan perasaan. Beri pujian, yakinkan klien bahwa dirinya penting, merencanakan aktifitas yang dapat klien lakukan dan meningkatkan kemampuan klien menyelesaikan masalah.


Kesimpulan

Peran petugas kesehatan amat penting, khususnya para dokter, perawat jiwa dan gawat darurat yang sewaktu-waktu berurusan dengan kasus bunuh diri. Keinginan untuk bunuh diri mesti selalu dianggap serius dan jangan diremehkan.

Selain itu, klien dengan keinginan bunuh diri yang sebagian besar adalah penderita gangguan mental masih menjadi golongan yang tersisih, akibat kesadaran yang rendah dan adanya stigma negatif penderita serta ketertutupan keluarga akibat malu. Peran kelompok pendukung dan tenaga kesehatan menjadi “agen pembawa perubahan” bagi klien dan keluarga klien diharapkan dapat meminimalisasi angka kejadian bunuh diri secara nyata. Pendekatan psikososial dapat digunakan untuk mengajak anggota keluarga dan lingkungan berperan aktif dalam berinteraksi dengan klien.

Pustaka
1. Dahlia section RSJ Aceh Medical record
2.www.yakita.or.id/bunuh diri.htm
3. Scatcher, 1999
4.Keliat, 1995
5. Staurt & Sundeen, 1998

loading...