Demam adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal. Demam merupakan salah satu reaksi tubuh untuk melindungi dari infeksi. Beberapa studi menunjukkan demam memperpendek masa sakit karena virus dan meningkatkan survival terhadap infeksi bacterial. Demam juga mengaktifkan G-CSF sehingga terjadi netrofilia perifer dan marginasi netrofil ke daerah infeksi atau inflamasi.

Hipertermia adalah kondisi kegagalan pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) akibat ketidakmampuan tubuh melepaskan / mengeluarkan panas (misal pada heat stroke) atau produksi panas yang berlebihan oleh tubuh dengan pelepasan panas dalam laju yang normal.

Hipertermia dalam kaitannya dengan eliminasi infeksi salah satunya melalui aktivasi sinyal apoptosis sel T yang tidak diinginkan atau dalam kondisi teraktivasi berlebihan (misalnya pada reaksi alergi atau autoimun).

Penyebab hipertermia dapat dibagi menjadi 3:

1. Hipertermia karena peningkatan produksi panas:

  • Hipertermia maligna,
  • Neuroleptic malignant syndrome,
  • Serotonin syndrome,
  • Drug-induced hyperthermia,
  • Exercise-induced hyperthermia,
  • Endocrine hyperthermia,
  • Miscellaneous clinical disorders.


2. Hipertermia karena penurunan pelepasan panas:

  • Hipertermia neonatal,
  • Dehidrasi,
  • Heat stroke,
  • Renjatan hemorargik dan ensefalopati,
  • Sudden infant death syndrome (SIDS),
  • Drug-induced hyperthermia.


3. Penyebab tidak terklasifikasikan:

  • Factitious fever,
  • Induced illness dan Induced illness by proxy.


Suhu tubuh dipertahankan normal oleh keseimbangan antara pelepasan panas dengan kemampuan tubuh melepaskan / mengeluarkan panas. Panas diproduksi tubuh melalui proses metabolisme, aktivitas otot rangka, dan respons imun. Panas dikeluarkan oleh tubuh melalui kulit dan paru.

A. Hipertermia yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas

1. Hipertermia maligna

Hipertermia maligna biasanya dipicu oleh obat-obatan anesthesia. Hipertermia ini merupakan miopati akibat mutasi gen yang diturunkan secara autosomal dominan. Pada episode akut terjadi peningkatan kalsium intraselular dalam otot rangka sehingga terjadi kekakuan otot dan hipertermia. Pusat pengatur suhu di hipotalamus normal sehingga pemberian antipiretik tidak bemanfaat.

Gambaran klinis meliputi kekakuan otot terutama otot masseter sehingga menyebabkan rhabdomyolisis, peningkatan CO2 tidal, takikardia, dan peningkatan suhu tubuh yang cepat (0,50 – 1,0°C tiap 5 - 10 menit, suhu dapat mencapai 44°C).

Tatalaksana utama adalah menurunkan suhu tubuh dengan cepat dan agresif dengan total body cooling (air es/dingin lewat NGT, rectal, dan IV), segera menghentikan pemakaian obat anestesi, pemberian oksigen 100%, memperbaiki asidosis, furosemid (1 mg/kgBB), manitol 20% (1 g/kgBB), insulin, dextrose, hidrokortison, Dantrolone (antidote spesifik 2.5 mg/kg BB IV dan kemudian tiap 5-10 menit) dan mengatasi aritmia.

2. Exercise-Induced hyperthermia (Exertional heat stroke)

Hipertermia jenis ini dapat terjadi pada anak besar / remaja yang melakukan aktivitas fisik intensif dan lama pada suhu cuaca yang panas. Pencegahan dilakukan dengan pembatasan lama latihan fisik terutama bila dilakukan pada suhu 30°C atau lebih dengan kelembaban lebih dari 90%, pemberian minuman lebih sering (150 ml air dingin tiap 30 menit), dan pemakaian pakaian yang berwarna terang, satu lapis, dan berbahan menyerap keringat.

3. Endocrine Hyperthermia (EH)

Kondisi metabolic / endokrin yang menyebabkan hipertermia lebih jarang dijumpai pada anak dibandingkan dengan pada dewasa. Kelainan endokrin yang sering dihubungkan dengan hipertermia antara lain hipertiroidisme, diabetes mellitus, phaeochromocytoma, insufisiensi adrenal dan Ethiocolanolone suatu steroid yang diketahui sering berhubungan dengan demam (merangsang pembentukan pirogen leukosit).

B. Hipertermia yang disebabkan oleh penurunan pelepasan panas

1. Hipertermia neonatal

Peningkatan suhu tubuh secara cepat pada hari kedua dan ketiga kehidupan bisa disebabkan oleh:

- Dehidrasi

Dehidrasi pada masa ini sering disebabkan oleh kehilangan cairan atau paparan oleh suhu kamar yang tinggi. Hipertermia jenis ini merupakan penyebab kenaikan suhu ketiga setelah infeksi dan trauma lahir. Sebaiknya dibedakan antara kenaikan suhu karena hipertermia dengan infeksi. Pada demam karena infeksi biasanya didapatkan tanda lain dari infeksi seperti leukositosis / leucopenia, CRP yang tinggi, tidak berespon baik dengan pemberian cairan, dan riwayat persalinan prematur / resiko infeksi.

- Overheating

Pemakaian alat-alat penghangat yang terlalu panas, atau bayi terpapar sinar matahari langsung dalam waktu yang lama.

- Trauma lahir

Hipertermia yang berhubungan dengan trauma lahir timbul pada 24% dari bayi yang lahir dengan trauma. Suhu akan menurun pada 1-3 hari tapi bisa juga menetap dan menimbulkan komplikasi berupa kejang.

Tatalaksana dasar hipertermia pada neonatus termasuk menurunkan suhu bayi secara cepat dengan melepas semua baju bayi dan memindahkan bayi ke tempat dengan suhu ruangan. Jika suhu tubuh bayi lebih dari 39°C dilakukan tepid sponged 35°C sampai dengan suhu tubuh mencapai 37°C.

2. Heat stroke

Tanda umum heat stroke adalah suhu tubuh > 40,5°C atau sedikit lebih rendah, kulit teraba kering dan panas, kelainan susunan saraf pusat, takikardia, aritmia, kadang terjadi perdarahan miokard, dan pada saluran cerna terjadi mual, muntah, dan kram. Komplikasi yang bisa terjadi antara lain DIC, lisis eritrosit, trombositopenia, hiperkalemia, gagal ginjal, dan perubahan gambaran EKG. Anak dengan serangan heat stroke harus mendapatkan perawatan intensif di ICU, suhu tubuh segera diturunkan (melepas baju dan sponging dengan air es sampai dengan suhu tubuh 38,5°C kemudian anak segera dipindahkan ke atas tempat tidur lalu dibungkus dengan selimut), membuka akses sirkulasi, dan memperbaiki gangguan metabolic yang ada.

3. Haemorrhargic Shock and Encephalopathy (HSE)

Gambaran klinis mirip dengan heat stroke tetapi tidak ada riwayat penyelimutan berlebihan, kekurangan cairan, dan suhu udara luar yang tinggi. HSE diduga berhubungan dengan cacat genetic dalam produksi atau pelepasan serum inhibitor alpha-1-trypsin. Kejadian HSE pada anak adalah antara umur 17 hari sampai dengan 15 tahun (sebagian besar usia < 1 tahun dengan median usia 5 bulan). Pada umumnya HSE didahului oleh penyakit virus atau bakterial dengan febris yang tidak tinggi dan sudah sembuh (misalnya infeksi saluran nafas akut atau gastroenteritis dengan febris ringan). Pada 2 – 5 hari kemudian timbul syok berat, ensefalopati sampai dengan kejang / koma, hipertermia (suhu > 41°C), perdarahan yang mengarah pada DIC, diare, dan dapat juga terjadi anemia berat yang membutuhkan transfusi.

Pada pemeriksaan fisik dapat timbul hepatomegali dan asidosis dengan pernafasan dangkal diikuti gagal ginjal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis, hipernatremia, peningkatan CPK, enzim hati dan tripsin, hipoglikemia, hipokalsemia, trombositopenia, penurunan faktor II, V, hiperfibrinogenemia, dan alpha-1-antitripsin.

Pada HSE tidak ada tatalaksana khusus, tetapi pengobatan suportif seperti penanganan heat stroke dan hipertermia maligna dapat diterapkan. Mortalitas kasus ini tinggi sekitar 80% dengan gejala sisa neurologis yang berat pada kasus yang selamat. Hasil CT scan dan otopsi menunjukkan perdarahan fokal pada berbagai organ dan edema serebri.

4. Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)

Definisi SIDS adalah kematian bayi (usia 1-12 bulan) yang mendadak, tidak diduga, dan tidak dapat dijelaskan. Kejadian yang mendahului sering berupa infeksi saluran nafas akut dengan febris ringan yang tidak fatal. Hipertermia diduga kuat berhubungan dengan SIDS.

Angka kejadian tertinggi adalah pada bayi usia 2- 4 bulan. Hipotesis yang dikemukakan untuk menjelaskan kejadian ini adalah pada beberapa bayi terjadi mal-development atau maturitas batang otak yang tertunda sehingga berpengaruh terhadap pusat chemosensitivity, pengaturan pernafasan, suhu, dan respons tekanan darah. Beberapa faktor resiko dikemukakan untuk menjelaskan kerentanan bayi terhadap SIDS, tetapi yang terpenting adalah ibu hamil perokok dan posisi tidur bayi tertelungkup.

Hipertermia diduga berhubungan dengan SIDS karena dapat menyebabkan hilangnya sensitivitas pusat pernafasan sehingga berakhir dengan apnea. Stanton mengemukakan bahwa 94% (32 dari 34 kasus) SIDS ditemukan meninggal dalam keadaan terbungkus baju rapat dengan suhu ruangan yang hangat dan suhu tubuh bayi panas serta berkeringat.

Penyelimutan / pembungkusan bayi yang berlebihan, suhu ruangan yang terlalu tinggi, dan posisi tidur bayi tertelungkup dapat menyebabkan terbatasnya pengeluaran panas. Posisi tidur telentang adalah yang paling aman untuk mencegah SIDS. Infeksi ringan dengan febris yang digabung dengan pembungkusan bayi berlebihan dapat menimbulkan heat stroke dan SIDS.

Hipertermia sendiri saat ini dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai kelainan musculoskeletal, kanker, dan beberapa kasus penyakit infeksi.17 Cippitelli (2005) mengemukakan bahwa terapi hipertermia mengaktifkan ekspresi sitotoksisitas FasL, fasL mRNA, dan aktivitas fasL pemicu pada sel T sehingga terjadi apoptosis sel tumor.

Daftar pustaka

1. Rice P, Martin E, Ju-Ren He, et.al Febrile-Range Hyperthermia Augments Neutrophil Accumulation and Enhances Lung Injury in Experimental Gram-Negative Bacterial Pneumonia. 2005. The Journal of Immunology, 174: 3676–85
2. Ellis GS, Carlson DE, Hester L. G-CSF, but not corticosterone, mediates circulating neutrophilia induced by febrile-range hyperthermia. 2005. J Appl Physiol 98: 1799–1804
3. El-Radhi AS, Caroll J, Klein N. Clinical Manual of Fever in Children. 2009. Springer-Verlag. Berlin Heidelberg: 25-43    
4. Meinander A, Thomas S. So¨derstro¨m, Kaunisto A. et.al. 2007. Fever-Like Hyperthermia Controls T Lymphocyte Persistence by Inducing Degradation of Cellular FLIPshort1. The Journal of Immunology, 178: 3944–53
5. Duke AM, Hopkins PM, Halsall PJ, Steele DS. Mg2+ dependence of Ca2+ release from the sarcoplasmic reticulum induced by sevoflurane or halothane in skeletal muscle from humans susceptible to malignant hyperthermia. 2006. British Journal of Anaesthesia 97 (3): 320–8
6. Nybo L. Hyperthermia and fatigue. 2008. J Appl Physiol 104: 871–878
7. Gonz´alez-Alonso J, Crandall CG, and Johnson JM.  The cardiovascular challenge of exercising in the heat. 2008. J Physiol 586.1:45–53
8. Aaron L. Chu, Ollie Jay, and Matthew D. White. The effects of hyperthermia and hypoxia on ventilation during low-intensity steady-state exercise. 2007. Am J Physiol Regul Integr Comp Physiol 292: R195–R203
9. Dalal S, Zhukovsky DS, Pathophysiology and Management of Fever. 2006. J Support Oncol;4: 9–16
10. Curran AK, Xia L, Leiter CJ, Bartlett D Jr. Elevated body temperature enhances the laryngeal chemoreflex in decerebrate piglets. 2005. J Appl Physiol 98: 780–786
11. Luxi Xia, Leiter JC, and Bartlett D, Jr., et.al. Laryngeal apnea in rat pups: effects of age and body temperature. 2008. J Appl Physiol; 104 (6): 1828-34
12. Phadke A, Broadman LM, BW Brandom, et.al. Postoperative Hyperthermia, Rhabdomyolysis, Critical Temperature, and Death in a Former Premature Infant After His Ninth General Anesthetic. 2007. Anesth Analg;105: 977–80
13. Blackwell CC, Moscovis SM, Gordon AE. Cytokine responses and sudden infant death syndrome: genetic, developmental, and environmental risk factors. 2005. J. Leukoc.Biol. 78: 1242–1254
14. Van Sleuwen BE, Engelberts AC, Boere-Boonekamp MM, et.al. Swaddling: A Systematic Review. 2007. Pediatrics; 120;e1097-e1106
15. Mitchell EA, Thompson JMD, Becroft DMO. Head Covering and the Risk for SIDS: Findings From the New Zealand and German SIDS Case-Control Studies. 2008. Pediatrics;121: e1478–e1483
16. Giombini A, Giovannini V, Di Cesare A. Hyperthermia induced by microwave diathermy in the management of muscle and tendon injuries. 2007. British Medical Bulletin; 83: 379–396
17. Cippitelli M, Fionda C, Di Bona D. Hyperthermia Enhances CD95-Ligand Gene Expression in T Lymphocytes. 2005. Journal of Immunology,174: 223–32
18. Siddiqui F, Chuan-Yuan Li, LaRue SM, et.al. A phase I trial of hyperthermia-induced interleukin-12 gene therapy in spontaneously arising feline soft tissue sarcomas. 2007. Mol Cancer Ther; 6(1)

loading...