1. Identifikasi

Pertama kali ditemukan di Pulau Luzon, Filipina pada tahun 1963. Penyakit ini secara klinis berupa enteropati yaitu hilangnya protein dalam jumlah besar disertai dengan sindroma malabsorpsi yang menyebabkan hilangnya berat badan dengan cepat dan terjadi emasiasi berat. Kasus fatal ditandai dengan ditemukannya parasit dalam jumlah besar didalam usus halus, disertai dengan asites dan transudasi pleura. CFR sekitar 10 %. Kasus subklinis juga terjadi, namun biasanya berkembang menjadi kasus klinis.

Diagnosa ditegakkan dengan melihat gejala klinis dan ditemukannya telur atau larva atau parasit dewasa di dalam tinja. Telur-telur ini mirip dengan telur Trichuris trichiura. Dengan melakukan biopsi jejunum bisa ditemukan adanya cacing pada mukosa.

2. Penyebab penyakit : Capillaria philippinensis

3. Distribusi penyakit

Capillariasis intestinal endemis di Kepulauan Filipina dan Thailand; beberapa kasus dilaporkan terjadi di Jepang, Korea, Taiwan dan Mesir. Satu kasus telah dilaporkan muncul di Iran, India, Indonesia dan Kolumbia. Penyakit ini mencapai tingkat endemis di Pulau Luzon, dimana sepertiga dari populasi telah terinfeksi. Pria berumur antara 20 dan 45 tahun adalah kelompok umur dengan risiko tinggi.

4. Reservoir

Tidak diketahui. Kemungkinan burung air berperan sebagai reservoir. Sedangkan ikan berperan sebagai hospes intermediair.

5. Cara penularan

Kebiasaan mengkonsumsi ikan kecil yang tidak dimasak dengan baik atau mengkonsumsi ikan mentah diketahui sebagai penyebab timbulnya penyakit. Pada percobaan laboratorium larva infektif berkembang dalam usus ikan air tawar setelah ikan tersebut menelan telur cacing. Monyet dan sejenis tikus Mongolia dan beberapa jenis burung pemakan ikan, terinfeksi parasit dan parasit ini menjadi dewasa didalam usus binatang tersebut.

6. Masa inkubasi

Masa inkubasi pada manusia tidak diketahui. Penelitian yang dilakukan pada hewan, masa inkubasi kira-kira1 bulan atau lebih.

7. Masa penularan : Tidak ditularkan dari orang ke orang.

8. Kekebalan dan kerentanan

Di daerah dimana prevalensi parasitnya tinggi semua orang rentan terhadap penyakit ini Attack rate dikalangan masyarakat didaerah tersebut biasanya tinggi.

9. Cara-cara pemberantasan.

A. Cara-cara pencegahan :
1. Jangan memakan ikan atau hewan air lainnya yang tidak dimasak yang hidup di daerah endemis.
2. Sediakan fasilitas jamban saniter yang memadai bagi masyarakat.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
1. Laporan kepada instansi kesehatan setempat, kasus-kasus dilaporkan dengan cara yang paling praktis, Kelas 3 B (Lihat tentang pelaporan penyakit menular).
2. Isolasi; tidak diperlukan.
3. Disinfeksi serentak; tdk dilakukan. Lakukan pembuangan tinja yang saniter
4. Karantina; tidak diperlukan
5. Imunisasi kontak; tidak dilakukan.
6. Investigasi kontak dan sumber infeksi; lakukan pemeriksaan tinja terhadap semua anggota keluarga dan orang-orang yang mengkonsumsi ikan mentah atau yang tidak dimasak dengan baik. Obati orang yang terinfeksi.
7. Pengobatan spesifik; Mebendazole (Vermox®), atau albendazole (Zentel®), adalah obat pilihan.

C. Tindakan penanggulangan wabah

Pencarian kasus dan kontak serta pengobatan yang tepat dari penderita. Memberikan informasi pada penduduk tentang pentingnya memasak semua jenis ikan.

D. Implikasi bencana : tidak ada.

E. Tindakan Internasional : tidak ada

loading...