1. Identifikasi

Suatu penyakit infeksi oleh bakteri yang sangat jarang terjadi dengan spektrum gejala klinis mulai dari tanpa gejala atau konsolidasi paru-paru yang asimptomatik sampai kepada pneumonia nekrotis dan atau septicemia yang fatal. Dapat menyerupai demam tifoid, atau lebih sering menyerupai TBC; gambaran klinis dapat berupa terbentuknya cavernae pada paru-paru, empiema, abses kronis dan osteomielitis.

Diagnosa ditegakkan dengan isolasi kuman penyebab; peningkatan titer antibodi pada pemeriksaan serologis merupakan diagnosa pasti. Kemungkinan diagnosa melioidosis harus dipikirkan pada setiap penderita dengan gejala supurasi yang tidak dapat dijelaskan, terutama pada penderita penyakit paru-paru dengan kavitasi dan orang tersebut tinggal atau baru kembali dari Asia Tenggara dan wilayah endemis lainnya; dapat juga penyakit ini baru tampak gejalanya 25 tahun setelah terpajan.

2. Penyebab Infeksi: Pseudomonas pseudomallei, basilus whitmore.

3. Distribusi Penyakit

Penyakit ini dengan gejala klinis yang jelas jarang terjadi, umumnya penyakit ini menyerang orang-orang dengan kulit terkelupas, sobek, terbakar yang kontak erat dengan tanah atau air yang terkontaminasi. Dapat timbul sebagai komplikasi dari luka yang jelas atau setelah teraspirasi air.

Penderita penyakit ini pernah dilaporkan tidak hanya terbatas di Asia Tenggara (Myanmar, Thailand, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Filipina), Iran, Turki, Australia, Papua Nugini, Guam, Burkina Faso (Volta Hulu), Ivory Coast, Sri Lanka, Madagaskar, Brazil, Ekuador, Panama, Meksiko, Haiti, El Savador, Puerto Rico dan Aruba, di tempat lain kemungkinan penyakit ini juga ada. Di beberapa tempat di wilayah tersebut 5-20% dari pekerja di bidang pertanian ditemukan antibodi di dalam tubuhnya tapi tidak ada riwayat dari penyakit ini secara jelas; di Thailand dianggap sebagai penyakit petani beras.

4. Reservoir

Organisme ini saprofit di tanah dan di air. Beberapa jenis binatang seperti kambing, domba, kuda, babi, monyet dan roden (dan beberapa binatang lainnya dan burung di kebun binatang) bisa terinfeksi. Tidak ada bukti bahwa mereka merupakan reservoir yang penting kecuali bahwa mereka berperan memindahkan agen ke fokus baru.

5. Cara penularan

Biasanya melalui kontak dengan tanah atau air yang terkontaminasi melalui luka kulit yang nampak jelas atau yang tidak nampak, melalui aspirasi atau tertelannya cairan yang terkontaminasi atau melalui inhalasi debu tanah.

6. Masa inkubasi

Dapat singkat hanya 2 hari. Tapi bisa juga berlangsung beberapa tahun sejak terpajan hingga timbulnya gejala penyakit.

7. Periode penularan

Tidak terbukti adanya penularan dari orang ke orang. Pernah dilaporkan terjadi penularan setelah kontak seksual dengan orang yang menderita infeksi prostat. Infeksi yang didapat karena bekerja di laboratorium jarang terjadi, tetapi bisa terjadi terutama apabila cara kerja pemeriksaan laboratorium tersebut menghasilkan uap (aerosol).

8. Kerentanan dan kekebalan

Penyakit ini jarang terjadi pada manusia, bahkan pada orang yang tinggal di daerah endemis yang mempunyai kontak dekat dengan tanah atau air yang mengandung agen ini.

Banyak penderita kronis tanpa gejala, timbul gejala klinis setelah suatu luka berat, luka baker atau penyakit timbul oleh karena adanya kondisi predisposisi yang mendasarinya seperti diabetes atau gagal ginjal. Kondisi-kondisi ini dapat memicu penyakit atau recrudescense penyakit pada individu yang terinfeksi namun tanpa memperlihatkan gejala.

9. Cara-cara pemberantasan

A. Cara-cara pencegahan

1) Orang dengan debilitas dan penyakit-penyakit lain yang menurunkan imunitas dan mereka dengan luka akibat trauma harus menghindarkan diri dari terpajan dengan tanah atau air seperti misalnya di sawah di daerah endemis.
2) Di daerah endemis lecet di kulit, abrasi atau luka bakar yang terkontaminasi dengan tanah atau air permukaan harus segera dibersihkan dengan benar.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1) Laporan ke Dinas Kesehatan setempat: tidak ada pelaporan resmi, Kelas 5.
2) Isolasi: Hati-hati terhadap discharge sinus dan saluran nafas.
3) Disinfeksi serentak: Buanglah discharge dengan cara yang aman.
4) Karantina: Tidak dilakukan.
5) Imunisasi kontak: Tidak dilakukan.
6) Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Carrier pada manusia tidak ada.
7) Pengobatan spesifik: yang paling efektif adalah TMP-SMX. Pengobatan ini memberikan hasil yang baik jika diberikan kepada kasus-kasus subakut dan kronis.

Untuk penderita dengan sepsis akut, direkomendasikan pemberian ceftazidime dikombinasikandengan TMP-SMX dan gentamicin. Dari hasil penelitian di Thailand, relaps berkurang setelah pemberian terapi dengan obat kombinasi per oral kloramfenikol, doksisiklin dan TMP-SMX. Obat terbaik untuk kasus-kasus septikemi berat adalah ceftazidime intravena dengan amoksisiklin / clavulanate sebagai obat alternatif.

C. Penanggulangan wabah
Prosedur dan cara-cara penanggulangan wabah/KLB tidak diterapkan pada penyakit ini karena ia merupakan penyakit yang sporadis.

D. Implikasi bencana: Tidak ada.

E. Tindakan Internasional: Tidak ada.
Prosedur Internasional baku perlu dipertimbangkan apabila mengangkut / membawa binatang dari suatu daerah ke daerah yang selama ini belum pernah dilaporkan terjadi penyakit ini.

loading...