1. Identifikasi

Merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus, di masyarakat Indonesia penyakit ini disebut gondongan atau radang kelenjar gondok. Di sebut juga parotitis infectiosa. Gejala klinis ditandai dengan timbulnya demam, pembengkakan dan melemahnya satu atau lebih kelenjar ludah. Biasanya kelenjar yang terkena adalah kelenjar parotis, kelenjar sublingualis dan kelenjar submaksilaris.

Dapat terjadi orchitis unilateral dan menyerang 20-30% dari laki-laki setelah usia pubertas. Sedangkan pada wanita dapat terjadi mastitis yang mengenai sekitar 31% dari wanita berusia 15 tahun ke atas walaupun dapat terjadi sterilitas namun kasusnya sangat jarang. Kira-kira 40-50% infeksi oleh virus mumps ini dapat menimbulkan gejala pada saluran pernafasan terutama pada anak usiadi bawah 5 tahun.

Tidak semua parotitis disebabkan oleh infeksi virus mumps; namun infeksi oleh organisme lain yang juga menyebabkan timbulnya parotitis tidak muncul dalam skala KLB seperti halnya pada infeksi oleh virus mumps. Infeksi mumps dapat menyebabkan hilangnya pendengaran sensorineural dengan insidensi kejadian 5/100.000 kasus. Ensefalitis dapat juga terjadi tetapi sangat jarang (1-2/10.000 kasus); pankreatitis biasanya ringan terjadi pada 4% dari penderita. Diduga pankreatitis ini dapat menyebabkan terjadinya diabetes, namun belum terbukti.

Gejala sisa yang permanen berupa paralysis, kejang dan hidrosefalus sangat jarang, seperti halnya kematian pada penderita mumps juga sangat jarang terjadi. Mumps yang terjadi pada trimester pertama kehamilan dapat meningkatkan terjadinya aborsi, namun belum terbukti infeksi mumps dapat menyebabkan kecacatan pada janin.

Infeksi akut oleh virus mumps dibuktikan dengan adanya kenaikan titer antibodi IgG secara bermakna dari serum akut dan serum konvalesens. Pemeriksaan serologis yang umum digunakan untuk mendiagnosa adanya infeksi mumps akut atau yang baru saja terjadi adalah ELISA, tes HI dan CF. Kekebalan terhadap mumps dapat diketahui dengan pemeriksaan EIA, IFA atau tes netralisasi. Virus dapat diisolasi dari mukosa buccal, 7 hari sebelum dan 9 hari sesudah terjadi pembesaran kelenjar ludah. Virus dapat juga diisolasi dari air seni 6 hari sebelum dan 15 hari sesudah terjadinya parotitis.

2. Penyebab Infeksi

Virus mumps (gondok), anggota dari famili Paramyxoviridae, genus Paramyxovirus, yang sifat antigenisitasnya sama dengan Parainfluenza virus.

3. Distribusi Penyakit

Mumps adalah penyakit yang jarang ditemukan jika dibandingkan dengan penyakit-penyakit lain yang umum menyerang anak seperti campak, cacar air, walaupun jarang terjadi namun pada masyarakat yang tidak diimunisasi, dalam suatu penelitian ditemukan 85% diantara mereka sampai dewasa sudah pernah mengalami infeksi virus mumps.

Kira-kira sepertiga mereka yang rentan yang terpajan dengan infeksi virus mumps merupakan infeksi tanpa gejala. Kebanyakan infeksi yang terjadi pada anak-anak usia di bawah 2 tahun bersifat subklinis. Penyakit ini paling sering muncul pada musim dingin dan musim semi.

Di AS, insidensi mumps menurun secara drastis sejak vaksinasi terhadap mumps dilakukan secara luas. Vaksin mumps pertama kali diijinkan beredar di AS pada tahun 1967. Penurunan ini terjadi pada semua umur, namun dengan tingginya cakupan imunisasi pada bayi, maka infeksi virus mumps bergeser pada usia anak yang lebih tua, adolescents dan dewasa muda.

KLB yang terjadi pada tahun 1980 disebabkan rendahnya cakupan imunisasi terhadap mumps, sehingga yang terserang adalah mereka yang tidak diimunisasi. Sedangkan KLB yang terjadi belakangan ini terjadi pada masyarakat yang cakupan imunisasinya tinggi. Selama tahun 1990-an insidensi tahunan mumps menurun secara pasti. Dan pada tahun 1997 di seluruh AS hanya dilaporkan kurang dari 700 kasus setahun.

4. Reservoir: Manusia.

5. Cara Penularan

Penularan terjadi melalui udara, melalui percikan ludah, atau karena kontak langsung dengan ludah orang yang terinfeksi.

6. Masa Inkubasi

Sekitar 15-18 hari (rata-rata 14-25 hari).

7. Masa Penularan

Virus dapat diisolasi dari ludah 6-7 hari sebelum terjadi parotitis hingga 9 hari sakit. Penularan tertinggi dapat terjadi antara 2 hari sebelum hingga 4 hari setelah sakit. Infeksi yang laten dapat menular.

8. Kerentanan dan Kekebalan

Kekebalan yang timbul umumnya seumur hidup. Kekebalan dapat terbentuk setelah mengalami infeksi yang tidak kelihatan atau infeksi dengan gejala klinis. Sebagian besar orang dewasa, umumnya yang lahir sebelum tahun 1957, kemungkinan sudah terinfeksi secara alamiah dan kemungkinan sekali sudah kebal, walaupun mereka tidak menunjukkan gejala klinis. Ditemukannya antibodi IgG terhadap mumps melalui pemeriksaan serologis sebagai bukti adanya imunitas terhadap mumps.

9. Cara-cara Pemberantasan


A. Cara-cara pencegahan

1) Berikan penyuluhan kepada masyarakat, anjurkan masyarakat untuk mengimunisasikan anak-anak mereka yang berusia di atas satu tahun yang lahir pada tahun 1957 atau setelah itu. 2) Vaksin yang dibuat dari virus mumps yang telah dilemahkan (live attenuated) dengan menggunakan strain virus Jeryl Lynn, sudah beredar di AS sejak tahun 1967 sebagai vaksin tunggal atau dalam bentuk kombinasi dengan vaksin lain (MMR).

Timbulnya reaksi samping yang berat setelah pemberian imunisasi tergantung dari jenis virus yang dipakai untuk membuat vaksin. Pada salah satu uji coba yang dilakukan, insidensi timbulnya demam pada mereka yang diberi imunisasi dibandingkan dengan mereka yang diberikan placebo sama besar. Di AS dilaporkan bahwa 1% dari mereka yang diimunisasi mengalami parotitis, 2 minggu setelah diimunisasi. Sedangkan yang jarang sekali terjadi adalah meningitis aseptik, ensefalitis dan trombositopenia.

Pemberian imunisasi kepada orang yang sudah kebal karena imunisasi atau yang kebal karena infeksi alamiah tidak meningkatkan risiko timbulnya efek samping pasca imunisasi. Lebih dari 95% mereka yang diimunisasi kemungkinan kebal seumur hidup. Vaksin mumps dapat diberikan kapan saja setelah usia satu tahun, dalam bentuk MMR diberikan pada usia 12-15 bulan. Jadwal imunisasi yang dilakukan di AS dengan pemberian 2 dosis MMR, akan melindungi masyarakat dari infeksi virus mumps. Dosis pertama diberikan pada usia 12 bulan dan dosis kedua dianjurkan untuk diberikan pada usia 4-5 tahun. Namun pada saat dilakukan upaya akselerasi jadwal imunisasi MMR dan pada saat dilakukan upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi dengan “catch-up campaign”, maka dosis kedua diberikan 1 bulan (28 hari) setelah dosis pertama.

Upaya khusus perlu dilakukan untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak yang tidak jelas status imunisasinya sebelum mereka mencapai usia akil baliq. Mereka dengan status imunosupresi merupakan kontraindikasi pemberian imunisasi vaksin mumps. Namun mereka yang mendapat pengobatan steroid dengan dosis selang-seling dengan interval satu hari, atau mereka yang mendapat pengobatan steroid dalam bentuk aerosol atau topikal boleh diberikan imunisasi mumps.

Wanita hamil atau wanita yang merencanakan hamil tiga bulan lagi, tidak dianjurkan untuk diberikan imunisasi mumps dengan alasan teoritis dikhawatirkan akan terjadinya kelainan pada bayi mereka, walaupun secara praktis hal ini tidak pernah terjadi.

B. Penanganan penderita, kontak dan lingkungan

1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: laporan bersifat selektif, Kelas 3B.
2) Isolasi: Lakukan isolasi terhadap saluran pernafasan dan sediakan ruangan khusus selama 9 hari setelah timbulnya parotitis apabila disekitar mereka banyak orang yang rentan (tidak diimunisasi).
3) Disinfeksi serentak: Lakukan disinfeksi terhadap semua barang-barang yang tercemar oleh sekret hidung dan tenggorokan.
4) Karantina: Liburkan mereka yang rentan dan yang pernah terpajan dengan penderita dari sekolah atau pekerjaan selama 12-25 hari setelah terpajan, apabila di lingkungan sekolah atau pekerjaan mereka banyak anak atau orang yang rentan.
5) Imunisasi kontak: Walaupun pemberian imunisasi setelah seseorang terpajan tidak melindungi mereka untuk menjadi sakit. Namun terhadap kontak yang telah diimunisasi yang kemudian tidak sakit maka pemberian imunisasi ini akan melindungi mereka terhadap infeksi berikutnya. Pemberian IG (Immune Globulin) tidak efektif dan tidak dianjurkan.
6) Investigasi terhadap kontak dan sumber penularan infeksi: cari orang-orang yang rentan dan kepada mereka harus diimunisasi.
7) Pengobatan khusus: Tidak ada.

C. Cara-cara Penanggulangan KLB

Lakukan imunisasi kepada kelompok yang rentan; khususnya kelompok risiko tinggi; skrining serologis untuk mengidentifikasi mereka yang rentan, tidak praktis dan tidak perlu, karena tidak ada risiko apapun kalau imunisasi diberikan kepada mereka yang sudah kebal.

D. Implikasi bencana: Tidak ada.

E. Tindakan Internasional: Tidak ada.

loading...