Minyak jelantah adalah minyak goreng yang digunakan berulang kali untuk menggoreng, dan biasanya berwarna menjadi kehitaman. Menggunakan minyak jelantah untuk menggoreng berbahaya bagi kesehatan. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita membeli makanan atau gorengan, bisa saja minyak yang digunakan adalah minyak jelantah.

Penggunaan miinyak goreng secara berulang merupakan hal yang biasa ditemukan pada warung-warung atau pedagang kaki lima untuk menggoreng dagangannya, misalnya pedagang gorengan, tahu, ayam goreng, dan lain-lain. Untuk membedakan minyak jelantah dengan minyak yang layak dikonsumsi anda lihat saja pada saat pedagang menggoreng dagangannya, kalau minyaknya sudah hitam, pasti mereka menggunakan minyak jelantah.

Asal minyak jelantah bisa saja merupakan minyak sisa menggoreng sebelumnya atau bahkan sekarang ini banyak dijual minyak goreng bekas. Misalnya, minyak bekas penggorengan dari rumah makan cepat saji. Setelah melalui pengolahan, misalnya mencampurkannya dengan kaporit, maka minyak jelantah tersebut akan menjadi bening kembali dan siap untuk dijual.

Penggunaan minyak jelantah jelas sangat tidak baik untuk kesehatan. Seharusnya minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng ikan atau makanan yang lainnnya tidak boleh melebihi sampai tiga kali penggorengan. Karena setiap dipakai minyak akan mengalami penurunan mutu.

Kadar lemak tak jenuh dan Vitamin A, D, E, dan K yang terdapat di minyak semakin lama akan semakin berkurang.Dan yang tersisa tinggal asam lemak jenuh yang dapat menyebabkan penyakit seperti jantung koroner dan stroke. Beberapa penelitian menyatakan bahwa minyak jelantah mengandung senyawa karsinogenik yang dapat menyebabkan penyakit kanker. Makanya kita sebaiknya lebih berhati-hati dalam membeli.

Minyak goreng yang belum digunakan tersusun atas asam lemak tidak jenuh atau asam lemak yang mengandung ikatan rangkap. Derajat ketidakjenuhan minyak berkurang seiring bertambahnya suhu bahkan pemanasan dapat menyebabkan rantai-rantai asam lemak putus menjadi radikal-radikal bebas yang berbahaya bagi kesehatan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pemanasan pada minyak (yang belum digunakan) selama 30 menit dengan suhu di atas 125 derajat celcius dapat menyebabkan munculnya senyawa-senyawa baru yang beracun bagi tubuh dari pemutusan rantai-rantai asam lemak. Salah satu senyawa yang beracun yaitu trans 2-hidroksil oktenal (HNE). Senyawa ini sangat berbahaya karena mudah diserap oleh tubuh dan bersifar racun (toksit) terhadap biomolekul-biomolekul di dalam tubuh seperti DNA dan protein. selain itu pemanasan terus menerus terhadapat minyak dapat menghasilkan pula beberapa senyawa lain yang bersifat toksit terhadap tubuh yakni 4-hifroksihekseksal, 4-hidroksioktenal dan hepta 2,4-dienal.

Bahaya minyak jelantah

Meski sebenarnya minyak jelantah dapat diolah kembali melalui proses filterisasi, sehingga warnanya kembali jernih dan seolah seperti minyak goreng baru, namun kandungannya tetap mengalami kerusakan sehingga tidak baik bagi tubuh. Ketika orang mengkonsumsi jenis minyak ini, maka dapat berpengaruh pada munculnya asam lemak trans yang akan mempengaruhi HDL kolesterol, LDL kolesterol serta total kolesterol yang merupakan sistem metabolisme darah dan ini terjadi lewat sebuah proses tahapan berupa penumpukan yakni penyumbatan pembuluh darah yang pada akhirnya berujung pada penyakit jantung.

Minyak jelantah memiliki kandungan peroksida yang tinggi, hal ini bisa terjadi salah satunya disebabkan oleh pemanasan yang melebihi standar. Standar proses penggorengan normalnya berada dalam kisaran suhu 177 - 221 derajat celcius. Sedangkan kebanyakan orang justru menggunakan minyak goreng pada suhu antara 200-300 derajat celcius. Pada suhu seperti ini, ikatan rangkap pada asam lemak tak jenuh rusak kemudian akan teroksidasi, membentuk gugus peroksida dan monomer siklik, sehingga yang tersisa adalah asam lemak jenuh saja. Dalam hal ini, resiko terhadap meningkatnya kolesterol darah tentu akan semakin tinggi.

Minyak goreng yang telah digunakan, akan mengalami beberapa reaksi yang menurunkan kadar mutunya. Pada suhu pemanasan, akan membentuk akrolein, yakni sejenis aldehid yang dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan. Minyak goreng sisa atau lebih dikenal dengan minyak jelantah ini telah mengalami penguraian molekul-molekul, sehingga titik asapnya turun drastis. Karena jelantah itu mudah mengalami oksidasi, maka jika disimpan akan cepat berbau tengik. Selain itu, jelantah juga disukai jamur aflatoksin sebagai tempat berkembangbiak. Jamur ini menghasilkan racun aflatoksin yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, terutama pada hati atau liver. Minyak jelantah jika ditinjau dari komposisi kimianya, mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik penyebab kanker.

Berikut ini ada beberapa tips yang perlu anda perhatikan sebelum membeli minyak:

  • Minyak jelantah warnanya kuning agak kemerah – merahan, sedangkan minyak curah asli berwarna kuning.
  • Minyak curah yang berasal dari minyak jelantah agak cair dan tidak kental seperti minyak curah asli.
  • Minyak jelantah tidak berbuih, caranya pada saat anda membeli minyak anda kocok – kocok minyak terlebih dahulu, bila terdapat buih-buih berwarna putih maka  dapat dipastikan itu minyak curah asli.
  • Pada minyak curah jelantah berbau kurang segar, sedangkan pada minyak curah asli tidak berbau sama sekali.


@dari bbg sumber

loading...