Flatulence merupakan kondisi kesehatan yang ditandai oleh produksi gas dalam sistem pencernaan. Gas tersebut merupakan produk sampingan dari proses pencernaan makanan. Gas umumnya diproduksi dalam saluran pencernaan mamalia, termasuk manusia.

Flatulence yang dikenal juga sebagai buang gas (kentut) terdiri atas campuran lima gas yang tidak berbau yaitu nitrogen, hidrogen, CO2, metana, dan oksigen.

Sedang bau menyengat yang umumnya berhubungan dengan buang gas (kentut) disebabkan oleh senyawa sulfur seperti gas hidrogen sulfida (H2S).

Penyebab Buang Gas

Berbagai faktor bisa menjadi pemicu buang gas (kentut) seperti makanan yang tidak tercerna sempurna, penggunaan antibiotik, serta beberapa sebab lain.

Berikut merupakan beberapa penyebab buang gas (kentut):

1. Menelan udara

Seseorang cenderung untuk menelan udara setiap kali makan, minum, atau saat berbicara.

Sebagian besar udara ini digunakan untuk metabolisme normal tubuh, namun, sebagian dari udara mencapai saluran pencernaan bagian bawah sehingga harus dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk gas atau kentut.

2. Penguraian makanan yang tidak tercerna

Penyebab buang gas (kentut) yang lain adalah penguraian makanan yang tidak tercerna. Karena kekurangan enzim, tubuh tidak mampu mencerna beberapa jenis karbohidrat seperti pati dan gula.

Makanan yang tidak tercerna ini kemudian mencapai usus mana selanjutnya dikonversi menjadi gas oleh berbagai enzim. Gas ini kemudian dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk kentut.

3. Intoleransi makanan

Pada beberapa individu, penyebab buang gas (kentut) adalah karena intoleransi terhadap makanan tertentu seperti produk susu.

Hal ini terjadi karena sistem pencernaan tidak mampu memecah gula, terutama laktosa, sehingga menyebabkan gas berlebih dalam tubuh yang akhirnya dikeluarkan sebagai kentut. Sebagian orang lain memiliki intoleransi terhadap gluten atau sejenis protein yang ditemukan dalam gandum.

4. Aditif buatan

Sistem pencernaan sebagian individu menunjukkan intoleransi terhadap aditif buatan tertentu seperti Sorbitol dan Manitol. Produk ini umumnya digunakan sebagai pengganti gula.

Proses pencernaan yang tidak sempurna dari zat aditif juga bisa memicu produski gas (kentut).

Lima Tips Mencegah Produksi Gas Berlebih dalam Perut

Buang gas (kentut) disebabkan oleh makanan yang tidak tercerna dan cairan yang belum diserap oleh sistem pencernaan.

Usus besar menghasilkan enzim yang memecah nutrisi yang tersisa dan menghasilkan gas sebagai sampingannya. Meskipun normal, gas dalam perut merupakan masalah yang berpotensi membuat malu.

Selain itu, gas berlebih bisa memicu sendawa, nyeri, dan kembung. Kabar baiknya, produksi gas berlebih dapat dicegah dengan tips sederhana berikut:

1. Perhatikan kebiasaan makan. Kenali makanan apa saja yang membuat perut Anda memproduksi gas berlebih.

2. Kurangi jumlah udara yang tertelan ke perut. Kunyah makanan perlahan-lahan dan makan makanan dalam ukuran kecil. Hindari banyak minum selagi makan.

Jangan bicara dan mengunyah makanan pada waktu yang sama. Berhenti mengunyah permen karet dan menggunakan tembakau. Hindari pula minuman berkarbonasi.

3. Tingkatkan kinerja usus dengan menambahkan serat pada makanan. Ambil obat pencahar jika diperlukan untuk mengurangi sembelit.

4. Hentikan atau kurangi asupan makanan yang menimbulkan gas. Karbohidrat, gula, dan lemak merupakan jenis makanan yang bisa memicu kelebihan gas.

Berbagai makanan tinggi serat seperti kacang-kacangan, brokoli, dan kembang kol bisa pula memicu produksi gas. Selain itu, apel, pisang, anggur, jagung, mentimun, bawang merah, bawang putih, dan lobak juga dapat menyebabkan kelebihan gas.

5. Kurangi asupan gula dan tepung terigu. Pertimbangkan menggunakan arang (karbon) aktif yang mampu menyerap gas. Cobalah makan beras merah, pepaya, dan nanas.

Cara Alami Kurangi Gas di Perut

Gas di perut sebenarnya adalah hal yang alami karena merupakan hasil dari proses pencernaan. Namun jika berlebihan, apalagi menyebabkan kita berulang kali buang gas, tentu sangat mengganggu.

Menurut National Institute of Health, gas di perut merupakan campuran dari oksigen, nitrogen, hidrogen, karbondioksida, dan metana. Bila tinja tampak mengampung di toilet itu antara lain karena adanya kandungan metana.

Secara umum, setiap hari kita memperoduksi sekitar 0,5 liter sampai 2,2 liter gas dan akan dikeluarkan sekitar 14 kali dalam 24 jam. Menurut The International Foundation for Functional Gastrointestinal Disorders, ada empat cara pengeluaran gas dari dalam tubuh, yakni sendawa, melalui anus (kentut), diserap oleh tubuh, serta dikonsumsi oleh bakteri usus.

Seperti diketahui usus kita mengandung bakteri dalam jumlah sangat banyak yang akan membantu memecah makanan yang diasup dan juga "memakan" gas. Bila koloni bakteri baik dalam usus cukup banyak maka gas di perut bisa dikurangi.

Makanan yang kita makan sehari-hari juga berpengaruh pada jumlah gas yang diproduksi dan tentu baunya. Karbohidrat misalnya, mengandung gula alami yang menyebabkan gas. Sedangkan protein dan dan lemak tidak. Namun beberapa protein seperti kacang yang juga mengandung gula yang tidak dapat dicerna juga akan menyebabkan produksi gas meningkat.

Gas yang berlebihan tentu akan menganggu, selain menyebabkan perut kembung terkadang bila dikeluarkan menghasilkan bau yang tak sedap. Buat mereka yang setiap hari berada di dalam ruangan ber-AC, tentu akan memalukan.

Salah satu cara untuk mengurangi produksi gas adalah dengan memperbaiki cara mengunyah makanan. Makanan yang dikunyah dengan baik akan menjadi partikel kecil sehingga di lebih mudah dicerna.

Karbohidrat yang dicerna dengan baik akan menghasilkan enzim pati yang diproduksi di dalam mulut sehingga di usus pun proses pencernaan menjadi lebih mudah. Selain itu lakukan kombinasi makanan dengan baik. Mengonsumsi makanan manis setelah mengasup protein juga akan meningkatkan produksi gas.

Cara lain adalah dengan mengonsumsi probiotik untuk meningkatkan jumlah bakteri baik. Beberapa jenis obat, terutama antibiotik, akan membunuh bakteri baik sehingga kita perlu menggantikannya.

Bila Anda sering merasa kembung setelah makan, cobalah minum secangkir teh yang mengandung pepermint.

Suplemen enzim pencernaan juga bisa dikonsumsi untuk membantu proses pencernaan . Mereka yang sedang stres atau mengonsumsi obat-obatan jangka panjang biasanya diresepkan dokter suplemen tersebut.

# dari berbagai sumber

loading...