Menyusul pengumuman hasil penelitian yang menyebutkan bahwa mencit (tikus putih) yang diberi pakan jagung transgenik terkena tumor dan komplikasi lainnya, beberapa negara di Eropa meminta pengkajian ulang mengenai keamanan produk tersebut. Meski demikian, beberapa kalangan juga mempertanyakan hasil penelitian itu.

Beberapa media di Eropa sejak dua pekan lalu hingga Minggu (30/9/2012) memberitakan pengumuman itu. Dua pekan lalu, peneliti Perancis dari Universitas Caen menemukan bahwa mencit yang diberi pakan yang mengandung NK603—benih jagung yang toleran terhadap sejumlah obat pembunuh rumput-rumputan Roundup Monsanto—mati lebih awal dibandingkan pada standar diet.

Penelitian yang dilakukan Gilles-Eric Seralini dan rekan-rekannya itu juga menyatakan, pada mencit yang diteliti ditemukan tumor mammae serta kerusakan hati dan ginjal yang berat. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Food and Chemical Toxicology dan dipaparkan dalam konferensi pers di London, Inggris, beberapa waktu lalu.

Menanggapi temuan tersebut, Pemerintah Perancis telah meminta pejabat pengawas kesehatan negara itu untuk menyelidiki temuan tersebut lebih lanjut. Sebelumnya, sejumlah orang berunjuk rasa menyerukan agar negara itu bebas dari produk- produk transgenik.

Pemerintah Perancis juga akan melakukan penelitian tersendiri untuk membuktikan temuan itu. Setelah itu, mereka akan meminta Uni Eropa untuk membuat keputusan mengenai produk tersebut.

Saat ini, Pemerintah Rusia menutup sementara impor jagung transgenik. Kalangan penentang produk transgenik juga meminta agar lembaga penelitian Rusia mengkaji jagung transgenik tersebut. Mereka meminta Direktur Jenderal Kesehatan dan Perlindungan Konsumen Uni Eropa untuk menjelaskan posisi Uni Eropa mengenai produk itu.

Pemerintah Austria juga telah menyerukan agar Uni Eropa meninjau proses persetujuan untuk produk rekayasa genetika setelah mempelajari studi tersebut. Austria meminta agar Uni Eropa meneliti lebih mendalam setiap ada permintaan persetujuan produk transgenik.

Dampak kecaman dari beberapa negara di Eropa ini kemungkinan akan menurunkan pemasaran produk rekayasa genetika. Apalagi, di Amerika Serikat—salah satu negara dengan konsumsi produk transgenik terbesar—juga mulai ada penolakan terhadap produk tersebut.

Pekan lalu, di California, AS, aktivis berjuang agar produk transgenik dihilangkan dari pasokan makanan. Mereka juga mendorong agar parlemen meloloskan Proposition 37, rancangan undang-undang yang secara hukum mengharuskan makanan yang dimodifikasi secara genetik diberi label produk transgenik.

Pihak Monsanto berupaya merespons rencana itu dan menyumbang lebih dari 4,2 juta dollar AS untuk melobi sejumlah kalangan. Sementara itu, lebih dari 2.000 petani telah mengajukan petisi kepada Pemerintah AS untuk lebih teliti menyelidiki dampak dari tanaman jagung transgenik produk Monsanto.

Kondisi Indonesia

Sebelumnya diberitakan, pihak produsen di Indonesia telah mengantongi sertifikat keamanan pangan untuk jagung RR NK603 dan jagung Bt Mon89034 hasil rekayasa genetika atau transgenik. Keduanya lolos uji keamanan pakan.

Pada sidang pleno, Komisi Keamanan Hayati merekomendasikan agar Kementerian Pertanian menerbitkan sertifikat keamanan pakan. Rekomendasi dari Komisi Keamanan Hayati yang menyatakan produk jagung Bt dan jagung RR aman untuk konsumsi pakan sudah diterima Kementerian Pertanian.

Meski demikian, sejumlah pihak, akademisi, birokrat, dan lembaga swadaya masyarakat menegaskan pentingnya aspek kehati-hatian dari tanaman transgenik. Tak hanya menyangkut dampak lingkungan, tetapi juga soal ekonomi dan sosial.

Menurut Hermanu Widodo, peneliti pada Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, penggunaan produk rekayasa genetika pada areal pertanian belum memikirkan pemberdayaan dan masa depan petani. ”Berpotensi terjadi penguasaan barang oleh (perusahaan) multinasional,” katanya. Tidak hanya benih, tetapi juga produk-produk ikutan, seperti herbisida, pun akan didesain produksi pabrik itu (Kompas, 15/9/2012).

Juru bicara Monsanto, Thomas Helscher, yang menanggapi berbagai penolakan di Eropa, mengatakan, perusahaan akan meninjau penelitian secara menyeluruh. Namun, ia menegaskan, penelitian ilmiah lain membuktikan keamanan produk dan tanaman transgenik itu.

Beberapa ilmuwan di Eropa juga mengkritik metode statistik para peneliti Perancis yang meneliti jagung transgenik itu. Tikus percobaan mereka berasal dari jenis yang dinilai cenderung mengembangkan kanker.

Kalangan yang setuju pada transgenik juga mempertanyakan data yang tidak muncul dalam penelitian. Mereka juga menuding para peneliti dibiayai oleh organisasi yang anti terhadap produk bioteknologi.

#kompas

loading...