Kornea (latin Cornum: seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan. Kornea ini disisipkan di sklera di limbus, lekuk melingkar pada persambungan ini disebut sulkus sklelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 mm di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm. Kornea terdiri atas lapis: epitel, membran bowman, stroma, membran descement, dan endotel.

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesens. Deturgesens atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa” bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi, dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel.

Keratitits adalah peradangan pada kornea, membran transparan yang menyelimuti bagian berwarna dari mata (iris) dan pupil. Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang kornea yang sehat, namun beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi. Contohnya, luka atau trauma pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme pertahanan kornea.

I. PENGERTIAN

Keratitis adalah peradangan pada kornea.

Radang kornea biasanya diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Keratitis Pungtata
Keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman, dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus. Keratitis Pungtata terbagi lagi yaitu Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata Subepitel.

2. Keratitis Marginal
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus.

3. Keratitis Interstisial
Ditemukan pada jaringan kornea yang lebih dalam.

4. Keratitis Bakterial

5. Keratitis jamur
Biasanya dimulai dengan suatu ruda paksa pada kornea oleh ranting, pohon, daun dan sebagian tumbuh-tumbuhan.

6. Keratitis Virus
Pada keratitis ini biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala kelainan konjungtiva, ataupun tanda akut. Keratitis virus antara lain:

  • Keratitis herpetic,
  • Keratitis dendritik,
  • Keratitis disiformis,
  • Keratokonjungtivitis epidemi.

7. Keratitis Dimmer atau Keratitis Numularis
Bentuk keratitis dengan ditemukannya infiltrat yang bundar berkelompok dan di tepinya berbatas tegas sehingga memberikan gambaran halo.

8. Keratitis Filamentosa
Keratitis yang disertai adanya filament mukoid dan deskuamasi sel epitel pada permukaan kornea.

9. Keratitis Alergi
- Keratokonjungtivitis flikten
Merupakan radang kornea dan konjungtiva yang merupakan reaksi imun yang mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen.

10. Keratitis Fasikularis
Keratitis dengan pembentukan pita pembuluh darah yang menjalar dari limbus ke arah kornea.

11. Keratitis Konjungitivitis vernal
Merupakan penyakit rekunen, dengan peradangan tarsus dan konjungtiva bilateral.

12. Keratitis Lagoftalmus
Keratitis yang terjadi akibat adanya lagoftalmus di mana kelopak tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga terdapat kekeringan kornea.

13. Keratitis Neuroparalitik
Merupakan keratitis akibat kelainan saraf trigeminus, sehingga terdapat kekeruhan kornea yang tidak sensitif disertai kekeringan kornea.

14. Keratokonjungtivitis Sika
Suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva.

15. Keratitis Sklerotikan
Kekeruhan berbentuk segitiga pada kornea yang menyertai radang sklera atau skleritis.

II. ETIOLOGI

1. Bakteri, seperti:

  • Staphylococcus,
  • Streptococcus,
  • Pseudomonas,
  • Pneumococcus.

2. Virus, seperti:

  • Virus herpes simpleks,
  • Virus herpes zoster.

3. Jamur, seperti:

  • Candida,
  • Aspergillus.

4. Hipersensitif: toksin / allergen

5. Gangguan hervus trigeminus

6. Idiopatik

III. PATOFISIOLOGI

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung yang uniform dan “jendela” yang dilalui berkas cahaya retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler, dan deturgesens. Deturgesens atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh fungsi sawar epitel.

Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam kornea dan merupakan satu lapis sel-sel pelapis permukaan posterior kornea yang tak dapat diganti baru. Sel-sel ini berfungsi sebagai pompa cairan dan menjaga agar kornea tetap tipis dan basah, dengan demikian mempertahankan kejernihan optiknya. Jika sel-sel ini cedera atau hilang, timbul edema dan penebalan kornea yang pada akhirnya mengganggu penglihatan.

IV. TANDA DAN GEJALA

  • Mata sakit, gatal, silau.
  • Gangguan penglihatan (visus menurun).
  • Mata merah dan bengkak.
  • Hiperemi konjungtiva.
  • Merasa kelilipan.
  • Gangguan kornea (sensibilitas kornea yang hipestesia).
  • Fotofobi, lakrimasi, blefarospasme.
  • Pada kelopak terlihat vesikel dan infiltrat filament pada kornea.


V. PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • Pemulasan fluorescein.
  • Kerokan kornea yang kemudian dipulas dengan pulasan gram maupun giemsa.
  • Kultur untuk bakteri dan fungi.
  • Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10% terhadap kerokan kornea.
  • Tes Schirmer. Bila resapan air mata pada kertas Schirmer kurang dari 10 mm dalam 5 menit dianggap abnormal.
  • Tear film break up time.
Waktu antara kedip lengkap sampai timbulnya bercak kering sesudah mata dibuka minimal terjadi sesudah 15 – 20 detik, tidak pernah kurang dari 10 detik.


VI. PENATALAKSANAAN

  • Pemberian antibiotik, air mata buatan.
  • Pada keratitis bakteri pada diberikan gentamisin 15 mg/ml, tobramisin 15 mg/ml, atau seturoksim 50 mg/ml. Untuk hari-hari pertama diberikan setiap setengah jam kemudian diturunkan menjadi setiap jam sampai 2 jam bila membaik. Ganti obatnya bila resisten atau tidak terlihat membaik.
  • Perlu diberikan sikloplegik untuk menghindari terbentuknya sinekia posterior dan mengurangi nyeri akibat spasme siliar.
  • Pada keratitis jamur, sebagai terapi awal diberikan ekonazol 1 % yang berspektum luas.
  • Debridement.
  • Anti virus, anti inflamansi dan analgetik.


PENGKAJIAN

1. Keluhan Utama
- Gangguan penglihatan (visus menurun),
- Mata sakit,
- Lakrimasi.

2. Riwayat Penyakit Sekarang
- Mata merah dan bengkak,
- Merasa kelilipan,
- Gangguan penglihatan (visus menurun),
- Mata sakit, gatal, silau,
- Fotofobi, lakrimasi, blefarospasme,
- Adanya flikten / infiltrat pada kornea.

3. Riwayat Penyakit Masa Lalu
- Pernah menderita konjungtivitas / herpes,
- Trauma.

4. Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi

  • Hiperemi pada konjungtiva
  • Adanya flikten / infiltrat pada kornea.
  • Adanya lakrimasi
  • Mata tampak merah dan bengkak

b. Pemeriksaan diagnostik

  • Pemulasan fluorescen
  • Test Schirmer
  • Keratometer
  • Fotokeratoskop
  • Topografi


Rumusan Diagnosa Keperawatan

1) Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan ditandai dengan:

  • Visus menurun,
  • Silau,
  • Adanya flikten pada kornea,
  • Merasa kelilipan.

Tujuan: cedera tidak terjadi dengan kriteria:

  • Visus kembali normal,
  • Tidak tampak luka cedera pada anggota tubuh.

Intervensi:
1. Tentukan tajam penglihatan pada kedua mata
Rasional: kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif.

2. Pertahankan posisi tempat tidur rendah, pagar tempat tidur tinggi dan bel di samping tempat tidur.
Rasional: memberikan kenyamanan dan memungkinkan pasien melihat objek lebih mudah dan memudahkan panggilan untuk petugas bila diperlukan.

3. Singkirkan benda-benda yang dapat menimbulkan cedera.
Rasional: memberikan perlindungan diri terhadap cedera.

4. Beritahu pasien untuk tidak menggaruk mata.
Rasional: mencegah terjadinya cedera pada mata.

2) Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan:

  • Mata terasa sakit,
  • Mata merah dan bengkak,
  • Wajah meringis,
  • Tampak gelisah.

Tujuan: nyeri teratasi dengan kriteria

  • Rasa sakit pada mata berkurang,
  • Wajah tampak cerah,
  • Tidak gelisah,
  • Mata tidak bengkak dan merah.


Intervensi:
1. Kaji tingkat nyeri
Rasional: tingkatan nyeri dapat memberikan gambaran untuk intervensi selanjutnya sesuai kebutuhan.

2. Kaji pernyataan verbal dan non verbal nyeri
Rasional: ketidaksesuaian antara petunjuk verbal / non-verbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri, kebutuhan / keefektifan intervensi.

3. Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya: latihan nafas dalam atau ajak pasien cerita.
Rasional: memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

4. Kolaborasi untuk pemberian analgetik
Rasional: analgetik menekan impuls nyeri sehingga rangsangan nyeri tidak diteruskan.

3) Ansietas berhubungan dengan keadaan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya ditandai dengan:

  • Pertanyaan mengenai kondisinya,
  • Tidak akurat mengikuti instruksi,
  • Takut dan gelisah.

Tujuan: ansietas teratasi dengan kriteria:

  • Klien dapat memahami kondisinya,
  • Berpartisipasi dalam program pengobatan,
  • Tampak rileks.

Intervensi:

1. Identifikasi persepsi pasien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.
Rasional: membantu pengenalan ansietas/ takut dan membantu dalam melakukan intervensi.

2. Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaannya.
Rasional: langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah identifikasi dan ekspresi, sehingga mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.

3. Berikan lingkungan tenang.
Rasional: memindahkan pasien dari stress luar meningkatkan relaksasi dan membantu menurunkan ansietas.

4. Dorong pasien/ orang terdekat untuk menyatakan perhatian.
Rasional: dukungan dapat membantu pasien merasa diperhatikan sehingga tidak merasa sendiri dalam menghadapi masalah.

5. Berikan informasi yang akurat dan jujur.
Rasional: menurunkan ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan dan memberikan dasar untuk pilihan informasi tentang pengobatan.

6. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku koping
Rasional: perilaku yang berhasil dapat dikuatkan pada penerimaan masalah/ stres saat ini sehingga meningkatkan rasa kontrol diri.

4) Gangguan konsep diri berhubungan dengan status kesehatannya ditandai dengan:

  • Klien menarik diri,
  • Tampak diam,
  • Sering termenung.


Tujuan: gangguan konsep diri teratasi dengan kriteria:

  • Klien tidak menarik diri,
  • Wajah tampak ceria,
  • Pasien tampak bergaul.

Intervensi:

1. Ciptakan / pertahankan hubungan terapeutik pasien-perawat
Rasional: mengembangkan rasa saling percaya antara pasien dan perawat.

2. Kaji interaksi antara pasien dan keluarga. Catat adanya perubahan dalam hubungan keluarga.
Rasional: keluarga mungkin secara sadar/ tidak memperkuat sikap negatif dan keyakinan pasien atau informasi yang didapat mungkin menghambat kemampuan untuk menangani keadaannya.

3. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan.
Rasional: konfrontasi pasien terhadap situasi yang nyata dapat mengakibatkan peningkatan ansietas dan mengurangi kemampuan untuk mengatasi perubahan konsep diri.

4. Berikan informasi yang benar
Rasional: membantu pasien menerima keadaannya

5) Gangguan aktivitas berhubungan dengan penurunan ketajaman penglihatan ditandai dengan:

  • Penurunan tajam penglihatan,
  • Kelemahan umum,
  • Kebutuhan ADL klien dibantu oleh keluarga dan perawat.


Tujuan: klien dapat beraktivitas dengan baik dengan kriteria:

  • Tajam penglihatan kembali normal,
  • Pemenuhan ADL terpenuhi.

Intervensi:

1. Kaji tingkat aktivitas klien
Rasional: kemampuan aktivitas klien merupakan gambaran untuk mengambil tindakan lebih lanjut.

2. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
Rasional: kebutuhan klien terpenuhi akan mengurangi beban pikiran dan kooperatif dalam pemberian tindakan.

3. Dorong perawatan diri
Rasional: perawatan dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri.

4. Kaji tentang pentingnya aktivitas secara bertahap.
Rasional: peningkatan aktivitas secara bertahap dapat membantu mengurangi ketergantungan pada perawat.

5. Susun tujuan dengan pasien atau orang terdekat untuk berpartisipasi.
Rasional: meningkatkan harapan terhadap peningkatan kemandirian

6. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik
Rasional: berguna dalam memformulasikan program latihan berdasarkan kemampuan klien.

Pelaksanaan Keperawatan (Implementasi)

Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan, menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan, sesuai dengan pedoman / prosedur teknis yang telah ditentukan.

Evaluasi Keperawatan

Evaluasi hasil menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan pada tahap perencanaan keperawatan, dilakukan secara periodik, sistematis terencana.

Daftar Pustaka:

  • Barbara Engram, Rencana Askep Medikal-Bedah, Vol. 2, EGC, Jakarta, 1994.
  • Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Media Aeculapius. Fakultas Kedokteran UI, 2001.
  • Prof. Dr. H. Sidarta Ilyas, Sp.M. Ilmu Penyakit Mata, Edisi II, Fakultas Kedokteran UI, 2002.
  • Catatan Kuliah Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran UH, 2002.
  • Doenges Marilynn, E., Moorhouse, Geissler, Rencana Asuhan Keperawatan. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta, 1999.

 

loading...