Informasi mengenai tingkat pendidikan pasien, pekerjaan, kegiatan rekreasi, latar belakang budaya, agama dan interaksi keluarga harus didapat secara dini. Konsep diri, status mental, respons emosional terhadap luka bakar serta perawatan di rumah sakit, tingkat fungsi intelektual, perawatan dirumah sakit yang sebelumnya, respons terhadap rasa nyeri serta tindakan untuk meredakan nyeri dan pola tidur, juga merupakan komponen yang esensial dari suatu pengkajian yang komprehensif. Informasi tentang konsep diri pasien secara umum, penghargaan terhadap dirinya dan strategi koping di masa lalu akan berguna dalam memenuhi semua kebutuhan emosional.

Pemeriksaan jasmani yang perlu dilakukan sehubungan dengan tujuan rehabilitasi mencakup latihan rentang gerak pada persendian yang terkena luka bakar, kemampuan fungsional dalam aktivitas hidup sehari-hari, tanda-tanda dini ruptura kulit akibat bidai atau alat pengatur posisi, bukti adanya neuropati (kerusakan neurologi), toleransi terhadap aktivitas dan kualitas atau kondisi kulit yang tengah sembuh. Partisipasi pasien dalam perawatan dan kemampuannya untuk memperlihatkan perawatan mandiri seperti ambulasi, makan, pembersihan luka serta pemasangan verban tekan harus dicatat secara teratur. Disamping semua parameter pengkajian ini, komplikasi dan penanganan yang spesifik pula.

Pemulihan dari luka bakar meliputi setiap sistem tubuh, sehingga pengkajian terhadap pasien luka bakar harus bersifat paripurna(komprehensif) dan berkelanjutan. Skala prioritas akan bervariasi pada berbagai waktu yang berbeda pada fase rehabilitasi.

Diagnosa Keperawatan :

1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan rasa nyeri ketika melakukan latihan, mobilitas sendi yang terbatas, pelisutan otot dan ketahanan tubuh (endurance) yang terbatas.

Intervensi :

  • Pertahankan posisi tubuh yang tepat dengan dukungan atau belat, khususnya untuk luka bakar diatas sendi.
  • Perhatikan sirkulasi, gerakan dan sensasi jari secara sering.
  • Lakukan rehabilitasi pada penerimaan.
  • Lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, diawali dengan pasif kemudian aktif.
  • Beri obat sebelum aktivitas/ latihan.
  • Dorong partisipasi pasien dalam semua aktivitas sesuai kemampuan individual.


Rasional :

  • Meningkatkan posisi fungsional pada ekstremitas dan mencegah kontraktur, yang lebih mungkin diatas sendi.
  • Edema dapat memperngaruhi sirkulasi pada ekstremitas mempotensialkan nekrosis jaringan/ terjadinya kontraktur.
  • Akan lebih mudah untuk membuat partisipasi bila pasien menyadari kemungkinan adanya penyembuhan.
  • Mencegah secara progresif mengencangkan jaringan parut dan kontraktur; meningkatkan pemeliharaan fungsi otot/sendi dan menurunkan kehilangan kalsium dari tulang.
  • Menurunkan kekakuan otot/ jaringan dan tegangan memampukan pasien untuk lebih aktif dan membantu partisipasi.
  • Meningkatkan kemandirian, meningkatkan harga diri, dan membantu proses perbaikan.


2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan pada penampakan fisik dan konsep diri.

Intervensi :

  • Kaji makna kehilangan/perubahan pada pasien / orang terdekat.
  • Terima dan akui ekspresi frustasi, ketergantungan, marah, kedukaan dan kemarahan. Perhatikan perilaku menarik diri dan penggunaan penyangkalan.
  • Bersikap realistis dan positif selama pengobatan, pada penyuluhan kesehatan, dan menyusun tujuan dalam keterbatasan.
  • Berikan harapan dalam parameter situasi individu; jangan memberikan keyakinan yang salah.
  • Dorong interaksi keluarga dan dengan tim rehabilitasi.


Rasional :

  • Episodic traumatik mengakibatkan perubahan tiba-tiba, tak diantisipasi, membuat perasaan kehilangan pada kehilangan aktual/ yang dirasakan. Ini memerlukan dukungan dalam perbaikan optimal.
  • Penerimaan perasaan sebagai respons normal terhadap apa yang terjadi membantu perbaikan. Ini tidak membantu atau kemungkinan mendorong pasien sebelum siap untuk menerima situasi. Penyangkalan mungkin lama dan mungkin mekanisme adaptif, karena pasien tidak siap mengatasi masalah pribadi.
  • Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dan perawat.
  • Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realitas.
  • Mempertahankan / membuka garis komunikasi dan memberikan dukungan terus menerus pada pasien dan keluarga.


3. Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah sesudah pasien pulang dari rumah sakit dan kebutuhan tindak lanjut.

  • Kaji ulang prognosis dan harapan yang akan datang.
  • Kaji ulang perawatan luka bakar, graft kulit dan luka. Identifikasi sumber yang tepat untuk perawatan pasien rawat jalan dan bahannya.
  • Diskusikan perawatan kulit contoh penggunaan pelembab dan pelindung sinar matahari.
  • Jelaskan proses jaringan parut dan perlunya untuk penggunaan pakaian penekan yang tepat bila menggunakan.
  • Dorong kesinambungan program latihan dan jadwalkan periode istirahat.
  • Tekankan pentingnya melanjutkan pemasukan diet tinggi kalori / protein.
  • Tekankan perlunya/pentingnya mengevaluasi perawatan / rehabilitasi.


Rasional :

  • Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
  • Meningkatkan kemampuan perawatan diri setelah pulang dan meningkatkan kemandirian.
  • Gatal, lepuh dan sensitivitas luka yang sembuh / sisi graft dapat diharapkan selama waktu lama.
  • Meningkatkan pertumbuhan kulit kembali yang optimal, meminimalkan terjadinya jaringan parut hipertrofik dan kontraktur dan membantu proses penyembuhan.
  • Mempertahankan mobilitas, menurunkan komplikasi dan mencegah kelelahan, membantu proses penyembuhan.
  • Nutrisi optimal meningkatkan regenerasi jaringan dan penyembuhan umum kesehatan.
  • Dukungan jangka panjang dengan evaluasi ulang kontinu dan perubahan terapi dibutuhkan untuk mencapai penyembuhan optimal.

 

loading...