Tanpa kita sadari banyak produk di sekitar kita yang seringkali dapat disalahgunakan. Hal ini harus dapat dicegah, termasuk didalamnya adalah mencegah penyalahgunaan inhalan. Inhalan adalah suatu kelompok senyawa yang mudah menguap yang menghasilkan efek toksik yang mirip dengan alkohol. Inhalan terdapat pada pelarut yang mudah menguap, atau aerosol yang biasa digunakan dalam rumah tangga, seperti lem, penghapus cat kuku, pengencer cat, deodorant dan cairan pembersih.

Penyalahgunaan produk-produk yang menghasilkan inhalan tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan penyalahgunaan narkotika seperti penggunaan mariyuana, kokain, ganja dan psikotropika yang selama ini telah menjadi perhatian banyak pihak.

Sekarang ini, banyak anak muda yang menghirup uap dari pelarut produk-produk tersebut diatas untuk mendapatkan efek seperti efek dari alkohol, yang dapat dinikmati dengan cepat tanpa menyadari bahwa hal ini dapat menyebabkan dampak serius bagi kesehatan.

Ciri-ciri orang yang menggunakan inhalan antara lain:

  • Mala merah, berkaca-kaca atau berair,
  • Pengucapan kata- kala yang lambat, bergumam kental dan tidak jelas,
  • Terlihat seperti orang mabuk,
  • Terdapat noda cat pada tangan atau sekitar mulut,
  • Bau bahan kimia di pakaian atau di dalam ruangan,
  • Bau mulut yang tidak biasa,
  • Sering merasa mual dan / atau kehilangan nafsu makan.


Terdapat 4 kategori inhalan yaitu:

  • Pelarut yang mudah menguap, adalah cairan yang menguap pada suhu kamar. Biasanya terkandung dalam produk yang sering digunakan dalam rumah tangga atau industri seperti pengencer cat, cairan yang digunakan untuk mencuci kering (dry cleaning fluids), lem, correction fluids dan spidol.
  • Aerosol, adalah produk semprot yang mengandung gas dan cairan. Termasuk didalamnya adalah cat semprot, deodorant dan hair spray.
  • Gas, termasuk anastetik seperti eter, kloroform, halotan dan nitrogen oksida yang sering disebut "gas tertawa". Nitrogen oksida adalah gas yang paling sering disalahgunakan dan biasanya terdapat pada kemasan whipped cream dan produk untuk menaikkan tingkat oktan pada mobil balap.
  • Nitrit, yang sering dimasukkan sebagai golongan khusus dari inhalan, karena tidak seperti golongan inhalan lain yang kerjanya langsung mempengaruhi sistem saraf pusat, nitrit terutama bekerja dengan memperlebar pembuluh darah dan melemaskan otot. Bila inhalan lain biasanya digunakan untuk mengubah mood, maka nitrit sering digunakan untuk memperbaiki aktifitas seksual. Yang termasuk nitrit adalah sikloheksit, isoamil nitrit dan isobutil nitrit.


Efek Jangka Pendek

Pada umumnya inhalan bekerja langsung pada sistem saraf pusat dan biasanya digunakan untuk mengubah mood atau sering juga digunakan sebagai doping. Efek jangka pendek yang dihasilkan mirip dengan anastetik dimana inhalan dapat memperlambat metabolisme tubuh.

Inhalan diserap oleh paru-paru, masuk ke peredaran darah dan dengan cepat terdistribusi ke otak dan organ lainnya. Dalam hitungan detik, pengguna langsung merasakan efek yang sama seperti efek yang dihasilkan apabila meminum alkohol, dimana pengguna biasanya menjadi berbicara melantur, sulit mengkoordinasikan gerakan anggota badan, euphoria dan merasa pusing. Pada kasus kecanduan, pengguna dapat merasa kepala terasa ringan, halusinasi dan delusi.

Hanya dalam hitungan menit dapat terjadi kematian karena gagal jantung apabila pengguna menghirup inhalan dengan konsentrasi tinggi dan hirupan yang dalam. Sindrom ini sering disebut sudden sniffing death, yang dapat terjadi hanya karena satu hirupan saja.

Efek Jangka Panjang

Pengguna yang menghirup inhalan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Menghirup lem dan pengencer cat dapat menyebabkan gangguan pada ginjal, sedangkan menghirup menghirup toluen dan trikloroetilen dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Pemakaian inhalan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi dan kecerdasan bahkan dapat menyebabkan hilang ingatan.

Inhalan yang digunakan dalam waktu lama dapat menyebabkan pengguna merasakan dorongan kuat untuk terus menggunakannya dan menyebabkan efek ketergantungan. Gejala penyalahgunaan inhalan dalam jangka panjang antara lain adalah kehilangan berat badan, berkurangnya bentuk dan kekuatan otot, disorientasi, gampang marah, depresi, hilangnya pendengaran, kejang pada anggota badan, kerusakan sumsum tulang, kerusakan hati dan ginjal, habisnya oksigen dalam darah dan halusinasi. Pemakaian jangka panjang juga terkait dengan leukemia serta kecanduan fisik dan psikologis. Penggunaan inhalan jangka panjang dapat menghilangkan secara permanen kemampuan untuk melakukan fungsi sehari-hari seperti berjalan, berbicara dan berpikir.

Penyalahgunaan inhalan sering dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dihirup (sniffing) atau snorting dari uang / asap inhalan tersebut, menyemprotkan langsung ke hidung atau mulut, efeknya lebih kuat, menghirup atau menghisap uapĀ  / asap dari zat yang telah disemprotkan atau ditampung ke dalam kantung plastik atau kantung kertas (bagging), menghisap melalui bahan kain yang telah direndam ke dalam zat inhalan (huffing), dan menghisap dari balon yang telah diisi oksida nitrit.

Toleransi

Ketika pemakaian inhalan berlanjut selama beberapa waktu, si pemakai akan mengalami reaksi toleransi terhadap inhalan. Hal ini berarti, si pemakai akan membutuhkan pemakaian inhalan yang semakin sering dan dengan jumlah yang lebih besar untuk mencapai efek yang diinginkan.

Kesimpulan

Penyalahgunaan inhalan yang sering terjadi pada remaja dan anak-anak harus membuat orang tua lebih waspada. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengkomunikasikan kepada anak-anak dan remaja untuk tidak pernah mencoba menggunakan inhalan karena dapat menyebabkan efek ketergantungan. Pada kasus kecanduan, bicarakan dengan anak, guru, dan konselor. Dengan mendiskusikan masalah secara terbuka dan menitikberatkan pada konsekuensi dari penyalahgunaan inhalan, maka kita mungkin dapat menyelamatkan anak-anak dari tragedi yang mungkin terjadi .

(Drs . Maurits Sitepu,Apt)

Pustaka:

  1. Peter Viccellio,M.D,1993, Handbook of Medical Toxicology, Boston: Little, Brown and Company
  2. Matthew J. Ellenhorn, 1997, Medical Toxicology, Baltimore: Williams & Wilkins
  3. Website DEA (Drug Enforcement Administration, http://www.usdoj.gov/dea/concern/inhalants.html
  4. Website NIDA (National Institute of Drug Abuse, http://www.nida.nih.gov/researchreports/inhalants/inhalants.html


#bpom

loading...