Diare adalah defekasi dengan feses encer / berair sebanyak =3 kali / hari. Diare akut adalah diare yang berlangsung =14 hari. Diare yang menetap sampai >14 hari disebut diare persisten, sedangkan bila menetap >30 hari dinamakan diare kronik.

Penyebab diare akut dapat berupa infeksi ataupun non infeksi. Pada beberapa kasus, keduanya sama-sama berperan. Penyebab non infeksi dapat berupa obat-obatan, alergi makanan, penyakit primer gastrointestinal seperti, inflammatory bowel disease, atau berbagai penyakit sistemik seperti, tirotoksikosis dan sindrom karsinoid. Penyebab infeksi dapat berupa bakteri, virus, ataupun parasit.

Berikut adalah berbagai patogen spesifik dapat menimbulkan diare akut di Indonesia:

A. Vibrio

Terdapat banyak spesies Vibrio yang menimbulkan diare di negara-negara berkembang. Vibrio cholerae dapat menimbulkan diare noninflamasi. Organisme ini termasuk koloni patogen klasik. V. cholerae serogrup O1 dan O139 dapat menyebabkan deplesi volume yang cepat dan berat. Tanpa rehidrasi yang cepat dan adekuat, syok hipovolemik dan kematian dapat terjadi dalam 12-18 jam sesudah pertama kali timbul gejala. Feses biasanya encer, jernih, disertai bercak-bercak mukus. Muntah biasa terjadi, tetapi jarang terdapat demam.

Vibrio nonkolera, seperti Vibrio parahemolyticus juga dapat menyebabkan diare. V. cholerae O1, V. parahemolyticus, dan V. cholerae non-O1 merupakan penyebab tersering pertama, ke-4, dan ke-7 dari diare yang dirawat di rumah sakit di Indonesia, masing-masing sebesar 37,1%; 7,35; dan 2,4%.

B. Shigella

Shigella merupakan penyebab klasik diare inflamasi atau disentri dan penyebab ke-2 tersering penyakit yang ditularkan melalui makanan (foodborne disease) di Amerika Serikat, serta sampai saat ini masih menjadi problem utama di pusat perawatan harian atau institusi. Di Indonesia, Shigella spp merupakan penyebab tersering ke-2 dari diare yang dirawat di rumah sakit, yakni sebesar 27,3%. Dari keseluruhan Shigella spp tersebut, 82,8% merupakan S. flexneri; 15,0% adalah S. sonnei; dan 2,2% merupakan S. dysenteriae.

Hanya dibutuhkan 10 kuman untuk menginisiasi timbulnya penyakit ini dan penyebaran dari orang ke orang amat mudah terjadi. Infeksi S. sonnei adalah yang teringan. Paling sering terjadi di negara-negara industri. Infeksi S. flexneri akan menimbulkan gejala disentri dan diare persisten. Paling sering terjadi di negara-negara berkembang. S. dysenteriae tipe 1 (Sd1) menghasilkan toksin Shiga, sehingga dapat menimbulkan epidemi diare berdarah (bloody diarrhea) dengan case fatality rate yang tinggi di Asia, Afrika, dan Amerika Tengah. Infeksi Shigella dapat menimbulkan komplikasi hemolytic-uremic syndrome (HUS) dan thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP).

C. Salmonella

Salmonellosis merupakan penyebab utama foodborne disease di Amerika Serikat. Di Indonesia, Salmonella spp merupakan penyebab tersering ke-3 dari diare yang dirawat di rumah sakit, yakni sebesar 17,7%.

Terdapat lebih dari 2000 serotype Salmonella dan semuanya patogenik bagi manusia. Bayi dan orang tua paling rentan terinfeksi. Hewan merupakan reservoir utama bagi kuman ini. Gejala salmonellosis umumnya berupa diare noninflamasi. Akan tetapi, dapat juga berupa diare inflamatif atau disentri (bloody diarrhea).

D. Campylobacter

Organisme ini dapat menimbulkan watery ataupun bloody diarrhea. Meskipun jarang, Campylobacter juga dapat menimbulkan sindrom Guillain-Barré. Infeksi asimtomatik sering terjadi di negara-negara berkembang akibat kontak erat dengan hewan ternak.

Campylobacter jejuni merupakan penyebab tersering ke-6 dari diare yang dirawat di rumah sakit di Indonesia, yakni sebesar 3,6%.

E. Escherichia coli diarrheogenic

Semua jenis E. coli diarrheogenic dapat menimbulkan penyakit di negara-negara berkembang. Akan tetapi, infeksi enterohemorrhagic E. coli (EHEC), termasuk E. coli O157:H7 lebih sering terjadi di negara-negara industri. Enterotoxigenic E. coli (ETEC) dapat menimbulkan diare pada wisatawan. Enteropathogenic E. coli (EPEC) jarang menyerang orang dewasa.

Enteroinvasive E. coli (EIEC) dapat menimbulkan bloody mucoid diarrhea, biasanya disertai demam. Enterohemorrhagic E. coli (EHEC) dapat menimbulkan bloody diarrhea dan Enteroaggregative E. coli (EAggEC) dapat menimbulkan diare persisten pada pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV).

Enterohemorrhagic E. coli (EHEC), terutama Escherichia coli 0157:H7, merupakan penyebab tersering kolitis infektif di negara-negara industri. EHEC dapat memproduksi suatu sitotoksin, seperti verotoksin (Shiga-like toxin) yang menyebabkan bloody diarrhea. EHEC dapat menimbulkan komplikasi HUS dan TTP. Kolitis hemoragik berat dengan HUS dilaporkan terjadi pada 6–8% pasien. Tidak mudah untuk mengidentifikasi kuman ini karena media agar MacConkey-Sorbitol untuk membiakannya tidak tersedia di semua laboratorium. Selain itu, laboratorium juga tidak secara rutin mengidentifikasi nonserogroup O157:H7 EHEC yang sama manifestasi klinisnya dengan serogrup O157:H7.

F. Virus

Virus merupakan penyebab utama diare akut di negara-negara industri. Berbagai virus dapat menimbulkan diare akut pada manusia, di antaranya rotavirus, human calicivirus, enteric adenovirus, astrovirus, cytomegalovirus, coronavirus, dan herpes simplex virus.

Rotavirus sering menimbulkan diare pada bayi, namun relatif jarang pada anak-anak dan dewasa karena telah mempunyai antibodi protektif. Rotavirus dapat menimbulkan gastroenteritis berat. Hampir semua anak-anak di negara-negara industri dan negara-negara berkembang telah terinfeksi pada usia 3–5 tahun.

Human calicivirus (HuCV) termasuk ke dalam famili Caliciviridae, terdiri dari norovirus dan sapovirus. Sebelumnya dinamakan “Norwalk-like virus” dan “Sapporo-like virus”. Norovirus merupakan penyebab tersering kejadian luar biasa gastroenteritis pada semua kelompok umur. Sapovirus lebih sering mengenai anak-anak. Beberapa serotype adenovirus juga dapat menimbulkan diare akut, akan tetapi lebih sering pada anak-anak.

G. Parasit

Berbagai spesies protozoa dan cacing dapat menimbulkan diare akut. Di negara-negara maju, parasit jarang menjadi penyebab diare akut, kecuali pada wisatawan. Giardia intestinalis, Cryptosporidium parvum, Entamoeba histolytica, dan Cyclospora cayetanensis paling sering menimbulkan diare akut pada anak-anak.

Peringkat patogen penyebab diare akut di Indonesia:

  1. Vibrio cholerae O1 : 37,1 %
  2. Shigella spp : 27,3 %
  3. Salmonella spp : 17,7 %
  4. Vibrio parahaemolyticus : 7,3 %
  5. Salmonella typhi : 3,9 %
  6. Campylobacter jejuni : 3,6 %
  7. Vibrio cholerae non-O1 : 2,4 %
  8. Salmonella paratyphi A : 0,7 %

#dexa