Pada awal Juni 2009, dua orang anak di Tangerang berusia 11 dan 2,5 tahun meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Awalnya kedua anak tersebut mendapat diagnosa medis yang salah.

Hari pertama tubuh anak laki-laki berumur 11 tahun panas tinggi dan muntah-muntah. Ia lalu dibawa ke dokter. ”Kata dokter, cucu saya hanya radang tenggorokan saja,” tutur neneknya. Di hari kedua dan ketiga, anak ini tak bisa tidur. Ia mengigau dan terus berkeringat, suhu tubuhnya tinggi. Di hari ketiga itu ia tak lagi mengenal nama-nama saudara termasuk kedua orangtuanya. Ia tak bisa jalan lagi saat dibawa ke unit gawat darurat sebuah rumah sakit. Di sana dokter mengatakan, terlambat, anak laki-laki ini sudah kritis terserang DBD. ”Belum sampai sejam, cucu saya meninggal,” ucap neneknya. Ia kesal pada dokter yang salah mendiagnosa cucu kesayangannya itu.

Demikian pula yang terjadi pada anak perempuan berusia 2,5 tahun. Tubuh anak panas tinggi dan muntah-muntah di hari pertama sakit. Di hari kedua panas badan turun, tetapi di hari ketiga panas badan Mira kembali tinggi. Di hari keempat panas badannya turun lagi, tetapi kemudian muntah-muntah dan meninggal. Diduga Mira meninggal akibat DBD karena orangtuanya belum sempat memeriksakan darah Mira.

Beberapa warga yang berkerumun di rumah duka mengungkapkan bahwa sekurangnya ada 33 warga di lingkungan RW itu yang juga terserang DBD pada bulan April-Mei 2009. Salah seorang warga ingat betul bahwa pada bulan-bulan itu, ia dan sejumlah warga lainnya dalam sehari bisa menjenguk dua sampai tiga warganya yang dirawat di rumah sakit karena DBD.

Di tempat lain, ayah seorang penderita yang baru saja meninggal karena keganasan penyakit DBD sempat bingung. Sebelum meninggal sudah 3 kali anaknya dibawa ke dokter dan 3 kali itu juga mendapat diagnosis yang berbeda. Hari pertama didiagnosis infeksi tenggorokan, pada hari ke tiga setelah cek darah diagnosis berubah menjadi tifus dan akhirnya pada hari ke lima divonis DBD sebagai penyebab kematiannya.

Kasus terakhir yang menghebohkan adalah seorang ibu dari dua orang anak usia di bawah tiga tahun. Ketika dia mengalami demam, sakit kepala dan kesulitan buang air besar, malam itu juga berinisiatif memeriksakan diri ke unit gawat darurat sebuah rumah sakit bertaraf internasional. Saat diperiksa suhunya 39ºC dan pada pemeriksaan darah yang dilakukan dua kali kandungan trombosit hanya 27.000 (normalnya 200.000). Saat itu juga ia diharuskan rawat inap dengan diagnosa positif DBD dan langsung disuntik dan diinfus. Paginya dilakukan pemeriksaan darah lagi. Ternyata hasilnya kandungan trombosit 181.000. Dokter mengatakan “ada revisi hasil pemeriksaan darah kemarin malam”. Tidak puas dengan penanganan rumah sakit ini, ibu ini pindah ke rumah sakit lain. Di sana ternyata ia didiagnosa sakit gondongan (mumps) yang sudah parah dan perlu segera diisolasi.

Mirip Gejala Penyakit Lain

Peristiwa di atas sering dialami oleh penderita DBD, karena gejala awal DBD mirip dengan banyak penyakit lainnya. Dari keempat kejadian ini, nampak bahwa masyarakat dituntut untuk mempunyai pengetahuan yang baik dan kecermatan yang tinggi untuk membedakan DBD dengan penyakit lainnya.

Gejala umum penderita DBD adalah batuk, pilek, muntah, mual, nyeri tenggorok/nyeri saat menelan, nyeri perut, nyeri otot atau tulang, sakit kepala, diare, denyut nadi melemah, penderita terlihat mengantuk atau tertidur terus-menerus, urine sangat sedikit, kejang atau kesadaran menurun yang sering juga disertai timbulnya bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah. Gejala ini juga dapat dijumpai pada beberapa penyakit infeksi virus atau infeksi bakteri lain.

Gejala penyakit DBD paling sering dibaca sebagai demam tifoid, infeksi tenggorokan, campak, flu atau infeksi saluran napas lainnya yang juga disebabkan oleh virus. Bahkan akhir-akhir ini ada beberapa kasus yang awalnya dicurigai sebagai flu burung. Hal ini terjadi karena infeksi virus yang menyebabkan DBD sangat bervariasi dari yang gejalanya tidak jelas sampai gejala klinis yang berat.

Infeksi virus yang menyebabkan flu atau demam umumnya dapat dilawan oleh daya tahan tubuh dalam waktu 3 hari. Bila demam sudah berlangsung lebih lama, harus dibawa ke dokter dan dilakukan pemeriksaan darah lengkap.

Pada DBD, yang membedakan adalah pola demamnya. Demam pada DBD biasanya langsung tinggi (38°C - 40°C) yang tidak akan turun dalam 2 hari pertama disertai dengan sakit kepala hebat mengikuti turunnya jumlah trombosit. Hari berikutnya suhu tubuh akan turun dengan cepat diiringi peningkatan produksi keringat. Periode turunnya suhu tubuh ini biasanya berlangsung satu hari saja. Perlu dipahami bahwa obat penurun demam hanya menurunkan suhu tidak lebih dari 1°C dan bekerja selama 4-6 jam saja. Selanjutnya pada hari ke 4-5 suhu tubuh akan meningkat lagi dengan cepat. Sementara, demam pada penyakit tifus biasanya naik tinggi terutama pada malam hari.

Hasil pemeriksaan darah lengkap penderita DBD pada hari ke 3-5 biasanya memperlihatkan turunnya nilai trombosit secara bertahap yang sesudah itu akan kembali normal. Sangat jarang ditemukan hasil trombosit yang rendah pada saat demam yang kurang dari sehari. Tekanan nadi menurun, nilai leukosit rendah dan yang penting adalah konsentrasi hematokrit yang meningkat sampai >40% yang menjadi indikator derajat kebocoran pembuluh darah/plasma. Infus yang diberikan untuk mengatasi turunnya trombosit, tetapi lebih merupakan upaya memberikan cairan akibat terjadinya kebocoran plasma.

Bila tanda-tanda dan gejala di atas sudah cukup jelas, maka hasil pemeriksaan laboratorium harus diterjemahkan dengan benar untuk memastikan tanda dan gejala tadi.

Meningkatnya nilai trombosit secara drastis dalam satu hari seperti pada kasus di atas menunjukkan kemungkinan adanya masalah teknis dalam pemeriksaan darah atau terjadi perhitungan hari demam yang tidak tepat. Kesalahan dalam menegakkan diagnosa dapat mengakibatkan keterlambatan penanganan dan akhirnya berpotensi meningkatkan resiko kematian. Setelah diagnosa ditegakkan, maka pengobatan dilakukan berdasarkan tanda dan gejala yang ada, dan bukan sekedar mengobati hasil pemeriksaan laboratorium.

Dalam situasi meningkatnya kasus DBD di suatu wilayah, bila terlihat tanda dan gejala yang “mirip” DBD maka sebaiknya kecurigaan lebih ditekankan pada penyakit DBD karena penanganan penyakit DBD yang terlambat akan lebih fatal akibatnya dibanding penyakit lainnya.

sumber: books

loading...