Penyalahgunaan napza (narkotika, psikotropika & zat adiktif) adalah pemakaian obat secara terus-menerus atau sekali-sekali secara berlebihan, serta tidak menurut petunjuk dokter. Penyalahgunaan obat tersebut dapat menimbulkan gangguan baik badan maupun jiwa seseorang, diikuti dengan akibat sosial yang tidak diinginkan.

Korban penyalahgunaan napza di Indonesia akhir-akhir ini cenderung makin meningkat dan tidak hanya terbatas pada kelompok masyarakat mampu tetapi telah merambah ke kalangan masyarakat kurang mampu baik di perkotaan maupun pedesaan dan melibatkan tidak hanya pelajar SMA dan mahasiswa tetapi juga pelajar SD.

Berbagai faktor dapat menjadi penyebab anak menjadi penyalahguna napza, antara lain faktor si anak itu sendiri dan faktor lingkungannya. Berikut adalah beberapa faktor lingkungan yang dapat mendorong anak menjadi penyalahguna napza:

1. Komunikasi keluarga yang buruk

Komunikasi dengan keluarga yang yang buruk dapat menjadi faktor anak menjadi pengguna napza. Ada hubungan bermakna antara komunikasi keluarga dengan penyalahgunaan napza. Anak yang komunikasi keluarganya buruk berpeluang 5 kali lebih besar untuk menyalahgunakan napza dibandingkan dengan anak yang komunikasi keluarganya baik.

Komunikasi dalam keluarga sangat penting untuk kesejahteraan dan keharmonisan keluarga. Komunikasi yang efektif sangat dibutuhkan oleh remaja untuk menyelesaikan tahap perkembangannya, sehingga pengertian, perhatian, dan penerimaan lingkungan terhadap keberadaannya juga sangat dibutuhkan. Keluarga merupakan fundamen yang pertama dan utama bagi pembentukan jiwa anak.

2. Pergaulan dengan teman sebaya yang menggunakan napza

Terdapat hubungan antara teman pengguna napza dengan terjadinya penyalahgunaan napza. Anak yang bergaul dengan teman sebaya pengguna napza berpeluang 5 kali menyalahgunakan napza dibanding anak yang tidak pernah bergaul dengan teman sebaya pengguna napza.

Para remaja mulai belajar mencari identitas diri dan biasanya mereka mencoba melonggarkan ikatan dengan orang tua, sehingga ada dorongan untuk bergaul dengan teman sebayanya kadang mereka mencoba napza agar bisa diterima sebagai anggota kelompok sebaya. Penerimaan oleh kelompok sebaya memberi rasa bangga dan meningkatkan harga diri.

3. Penggunaan waktu luang yang negatif

Terdapat hubungan bermakna antara penggunaan waktu luang dengan penyalahgunaan napza. Anak yang menggunakan waktu luang untuk kegiatan negatif berpeluang 26 kali lebih besar untuk menyalahgunakan napza dibanding anak yang menggunakan waktu luang untuk kegiatan positif. Kegiatan negatif menambah risiko penyalahgunaan napza.

Arahkan anak atau remaja untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan yang positif.

#books

loading...