PENDAHULUAN

Laser semakin populer dalam mengatasi berbagai masalah kulit, seperti untuk eksisi tumor kulit, peremajaan kulit, penghilangan rambut yang tidak diinginkan, penghilangan tato, terapi kelainan vaskular dan berbagai kelainan pigmentasi kulit. Berbagai kelainan pigmentasi yang pernah dilaporkan dapat diterapi dengan laser antara lain: lentigo, ephelides (freckles), café au lait macules, melasma, dan berbagai nevus; walaupun dengan efektivitas dan efek samping yang bervariasi terutama untuk kulit Fitzpatrick tipe IV-VI. Di samping itu pilihan terapi dengan laser ini relatif mahal, dan seringkali laser tidak dapat mengatasi kelainan pigmentasi dalam satu kali kunjungan. Variasi efektivitas terapi dengan laser tergantung dari beberapa faktor, seperti: jenis laser yang digunakan, pengalaman dalam penanganan, ketepatan diagnosis kelainan pigmentasi serta faktor pasien dalam menjalani terapi laser.1-6

Makalah ini membahas tentang berbagai kelainan pigmentasi yang dapat diterapi dengan laser, jenis laser yang dapat digunakan untuk mengatasi kelainan pigmentasi, manfaat dan kerugian penggunaan laser, serta berbagai pendekatan yang perlu dilakukan agar terapi laser ini efektif dalam mengatasi kelainan pigmentasi dalam praktek sehari-hari.

PRINSIP DASAR LASER UNTUK TERAPI KELAINAN PIGMENTASI

Penggunaan laser untuk terapi kelainan pigmentasi didasari oleh prinsip selective photothermolysis seperti dikemukakan oleh Anderson dan Parrish yaitu: ketepatan sasaran berupa kromofor, ketepatan panjang gelombang laser yang digunakan, durasi yang lebih pendek dari TRT (thermal relaxation time) serta ketercukupan fluence untuk merusak sasaran.1-5

Pada hiperpigmentasi, kromofornya berupa melanin atau melanosom; dan absorpsi energi oleh melanin paling optimal terletak pada panjang gelombang 500-1100 nm, sedang TRT melanin adalah kuadrat dari diameter melanin, yaitu 0.25-1 µsec. Absorpsi energi laser oleh melanin semakin menurun seiring dengan meningkatnya panjang gelombang cahaya, sehingga jenis laser yang dipakai adalah laser dengan panjang gelombang yang dapat merusak melanin dalam melanosit dan keratinosit secara selektif seperti jenis Q (quality) switched.

Mekanisme terapi gangguan pigmentasi dengan laser jenis ini dikenal sebagai penghilangan pigmen secara primer. Q-switched mengandung pengertian bahwa laser ini mampu menyimpan energi yang sangat tinggi dalam kavitasnya melalui optical shutter, sehingga saat laser ditembakkan ke target, alat ini akan mengeluarkan energi yang sangat tinggi, yaitu 109 watt dalam nano second. Dikenal berbagai jenis laser Q-switched, seperti: laser QS Nd:YAG 1064 nm, frequency doubled QS Nd:YAG 532 nm, laser QS Ruby 694 nm serta laser QS Alexandrite 755 nm.1-5 Laser Q-switched.

Di antara jenis laser Q-switched yang efektif untuk terapi lesi pigmen epidermis atau tato superfisial adalah frequency doubled QS Nd:YAG 532 nm. Seperti diketahui bahwa laser QS Nd:YAG mengeluarkan gelombang inframerah 1064 nm, yang apabila dipasangkan kristal potassium titanyl phosphate (PTP) seperti pada frequency doubled QS NdYAG 532 nm, akan terjadi penggandaan frekuensi dan menghasilkan panjang gelombang 532 nm yang berwarna hijau. Absorpsi energi laser panjang gelombang 532 nm dengan pulse width ultra short (nanosecond) pada melanin inilah yang menyebabkan laser ini paling baik untuk mengatasi lesi pigmen di epidermis maupun tato superfisial; sedangkan laser QS Nd:YAG 1064, laser QS Ruby 694 nm serta laser QS Alexandrite 755 nm dapat mencapai lesi pigmen yang lebih dalam atau pigmen yang terletak di dermis. Di antara jenis Q-switched untuk kelainan pigmen yang dalam, QS Nd:YAG 1064 nm lebih dipilih untuk pasien dengan kulit gelap karena risiko terjadinya hipopigmentasi lebih kecil dibandingkan QS jenis lainnya.1-5

Laser Continuous Wave dan Laser Lainnya Walaupun laser Q-Switched menjadi pilihan utama untuk mengatasi kelainan pigmentasi, akan tetapi laser continuous wave juga masih dipakai untuk lesi superfisial. Target laser ini adalah air di epidermis dan tidak spesifik untuk melanin, sehingga menyebabkan kerusakan termal yang non spesifik. Mekanisme ini dikenal dengan penghilangan pigmen secara sekunder. Contoh laser ini: laser CO2 (10600 nm), laser erbium (2490 nm), dan laser argon (488 nm, 514 nm); sedangkan laser fractional (1500 nm), pulsed dye laser, long pulsed laser dan intense pulse lights (IPL) walaupun dapat dipakai untuk menghilangkan lesi pigmentasi secara nonselektif, tetapi hasilnya tidak optimal dan tidak dapat dipakai untuk menghilangkan tato.1,2

Pendekatan terapi laser yang baik untuk kelainan pigmentasi, di samping prinsip dasar selective photothermolysis juga harus diketahui letak pigmen dalam struktur kulit, letak melanin di intra atau ekstraselular, kepadatan distribusi melanin dan asal pigmen (melanin atau tato). Secara umum dikatakan bahwa lesi pigmentasi jinak yang berespon baik terhadap laser adalah lentigo, ephelides (freckles), nevus Ota, nevus Ito dan nevus biru; sedangkan lesi café au lait macule, nevus spilus, nevus Becker memberi hasil yang bervariasi. Melasma dan hiperpigmentasi pasca inflamasi memberi respon kurang memuaskan karena terapi laser sendiri mempunyai efek hiperpigmentasi pasca inflamasi sebagai efek yang tidak diinginkan.1-2

LESI PIGMENTASI DI EPIDERMIS

Secara umum lesi pigmentasi di permukaann seperti epidermis lebih mudah dihilangkan dengan laser daripada yang di dermis. Berikut kelainan pigmentasi di epidermis yang responsif terhadap laser adalah:

1. Lentigo simplek, solar lentigo1-4,7,9,10
Lentigo berupa makula di epidermis bersifat jinak terjadi akibat paparan sinar UV. Melanin pada kelainan ini terdistribusi superfisial yaitu di keratinosit dan melanosit, sehingga lesi ini mudah dihilangkan dengan berbagai laser, seperti laser QS ruby, QS alexandrite, frequency doubled QS Nd:YAG 532 nm, laser CO2, laser erbium dan IPL. Biasanya lentigo dapat diterapi dengan hasil yang memuaskan dalam 1-3 kali sesi. Di antara bermacam-macam jenis laser, terapi solar lentigo dengan laser QS ruby dan QS 532 nm Nd:YAG menduduki level of evidence A.

Lesi ini harus dibedakan dengan lesi lentigo maligna, yaitu bentuk premaligna yang tidak dianjurkan untuk diterapi dengan laser karena lesi lentigo maligna mengandung amelanotik melanosit yang tidak suseptibel dengan laser, sehingga sering terjadi kekambuhan. Walaupun demikian Orten SS, dkk dalam jurnal Otolaryngol Head Neck Surg, March 1999, melaporkan 2 dari 8 penderita lentigo maligna yang diterapi QS Nd:YAG laser (532 nm, 1064 nm) dengan dosis 4-11 J/cm2 sebanyak 1 sampai 3 kali sesi memberi respon hilangnya lesi secara total, baik klinis maupun histopatologi serta tidak terjadi rekurensi selama 3,5 tahun.

2. Ephelides1-4,7,11
Ephelides atau freckles adalah makula hiperpigmentasi, ukuran 1-2 mm, terdistribusi pada daerah paparan sinar UV. Histopatologi ephelids berupa hiperpigmentasi di lapisan basal tanpa disertai peningkatan jumlah melanosit. Ephelides sangat responsif terhadap terapi laser QS.

Wang dkk., membandingkan efektivitas terapi freckles pada 15 subyek ras oriental antara QS Alexandrite (755 nm), 1 sesi (6,5-7,5 J/cm2), de-ngan IPL (Quantum SR), 2 sesi (26-30 J/cm2 dan 28-32 J/cm2). Hasilnya laser QS ini lebih efektif menghilangkan freckles, tetapi 28% kasus mengalami hiperpigmentasi pasca inflamasi yang hilang dalam 3-6 bulan pasca terapi, sedangkan subjek yang diterapi dengan IPL tidak ada yang mengalami hiperpigmentasi pasca inflamasi.

Oleh karena lesi ini sering kambuh terutama dengan adanya paparan sinar UV, maka selama perawatan dianjurkan harus selalu memakai tabir surya.

3. Café au lait macules1-7,12
Café au lait macules (CALM) adalah makula warna kecokelatan berbatas tegas, biasanya soliter atau kadang merupakan bagian dari sindrom neurofibromatosis ataupun sindrom Al Bright. Secara histopatologi didapatkan peningkatan jumlah melanosit, hipermelanosis melanosit dan keratinosit dengan granula melanin raksasa. Walaupun lesi CALM relatif tipis dan superfisial, lesi ini sangat sulit untuk dihilangkan. Efikasi terapi laser untuk CALM bervariasi dan hasilnya tidak dapat diprediksi. Shimbasi dkk, melakukan terapi CALM dengan laser QS ruby (594 nm), sebanyak 1-6 sesi terjadi lightening, walaupun dalam follow up 10-21 bulan terjadi repigmentasi.

4. Nevus spilus1-5,13
Nevus ini terdiri dari makula yang berwarna kecokelatan (café au lait macules) yang disertai dengan makula atau papula lebih gelap (junctional melanocytic nevi ataupun campuran). Histopatologi menunjukkan adanya hipermelanosis, pemanjangan rete ridges dan hipermelanositosis di membran basalis. Lesi yang gelap dapat terdiri dari hiperplasia melanositik, nevus melanositik, nevus junctional maupun nevus campuran. Grevellink dkk., melaporkan hilangnya lesi nevus spilus pada 80-100% penderita yang diterapi dengan laser QS ruby, walaupun 1 pasien mengalami rekurensi setelah 2 tahun, dan satu pasien lainnya mengalami rekurensi 3 tahun setelah terapi. Efek samping yang muncul setelah penggunaan laser ini adalah hipo dan hiperpigmentasi. Pada pengamatan juga tampak bahwa bagian lesi nevus spilus yang lebih gelap ternyata lebih responsif terhadap laser dibandingkan lesi yang lebih cerah.

LESI PIGMENTASI DI EPIDERMIS DAN DERMIS

1. Nevus Becker1-5,14
Hamartoma ini sering dijumpai pada laki-laki dewasa dengan ratio 4:1 dibandingkan wanita. Lesi berupa hiperpigmentasi disertai hipertrikosis yang terdistribusi unilateral pada bahu, lengan atas, skapula dan badan. Histopatologis adanya hiperkeratosis ringan, akantosis, elongasi pars retikularis dan hipermelanosis di membran basalis. Pada pemeriksaan dengan mikroskop elektron didapatkan peningkatan ukuran dan jumlah melanosom pada keratinosit di lapisan basal, serta didapatkan melanofag di dermis superfisial.

Kadang juga didapatkan pembesaran serat otot halus pada dermis pars retikularis. Terapi dengan laser QS ruby maupun QS Nd:YAG dilaporkan efektif untuk lesi hiperpigmentasi walaupun sering pula terjadi rekurensi. Hal ini diduga karena laser QS tidak dapat mencapai melanin yang terdapat pada rambut. Laser long pulsed yang banyak digunakan saat ini untuk penghilang rambut, dapat menghilangkan lesi hipertrikosis dan lesi hiperpigmentasi pada nevus Becker. Dilaporkan dengan 3 sesi laser long pulsed pada follow up 10 bulan ternyata lesi hilang sampai 90%. Trelies dkk., membandingkan efektivitas erbium: YAG laser dengan QS Nd:YAG untuk terapi nevus Becker, didapatkan bahwa satu pass erbium:YAG (2940 nm), 28 J/cm2, ukuran spot 3 mm, lebih unggul dibandingkan 3 sesi QS Nd:YAG (1064 nm), 10 J/cm2, ukuran spot 3 mm.

2. Hiperpigmentasi pasca inflamasi2,4,15
Hiperpigmentasi pasca inflamasi dapat berupa hiperpigmentasi pada epidermis, dermis maupun kombinasi. Terapi dengan laser tidak dapat diprediksi, tidak konsisten, dan sering tidak memuaskan. Pada area yang luas dianjurkan trial spot test sebelum seluruh lesi diterapi. Energi yang dikeluarkan oleh laser QS Nd:YAG 532 nm untuk lesi epidermal dianjurkan sebesar 2,5-4 J/cm2 dengan ukuran spot 2 mm; sedangkan untuk lesi dermal dipakai QS Nd:YAG 1064 nm 10-12 J/cm2.

3. Melasma1-4,6,7,16
Melasma dibagi menjadi tipe melasma epidermal, dermal dan kombinasi epidermal dan dermal. Tipe epidermal responsif terhadap laser QS Nd:YAG 532 nm pada 2,5-3,5 J/cm2, ukuran spot 2 mm, sedangkan melasma tipe dermal sering tidak memuaskan, karena terjadi hiperpigmentasi pasca inflamasi dan mudah terjadi rekurensi. Pada melasma refrakter, Polnikorn melaporkan hilangnya lesi sampai 80% dan tidak terjadi rekurensi selama 18 bulan pada penggunaan QS Nd:YAG 1064 nm (Medlite C6) 3,4 J/cm2, ukuran spot 6 mm, setiap minggu, selama 10 kali.

4. Nevus melanositik1-6,17
Terapi dengan laser masih kontroversial karena tidak jelas apakah iradiasi laser yang nonletal dapat menyebabkan perubahan keganasan pada nevus melanositik. Walaupun perubahan keganasan karena terapi laser belum pernah dilaporkan, tetapi sementara waktu terapi laser disarankan hanya untuk lesi yang jelas jinak, dan bila dicurigai ada keganasan maka sebaiknya dilakukan biopsi. Terapi laser tidak disarankan pula untuk pasien yang mempunyai riwayat keluarga melanoma maligna.

LESI PIGMENTASI DI DERMIS

1. Nevus Ota dan Ito1-6,18,19
Nevus Ota adalah hamartoma melanositik dermal yang disertai warna kebiruan pada regio trigeminus. Sedangkan Nevus Ito, distribusinya pada bahu dan lengan atas sesuai dengan inervasi nervus supraklavikula dan branchialis lateral. Secara histopatologis terdapat melanosit dermal yang tersebar pada dermis bagian atas, sehingga terapi dengan laser pigmen yang dapat mencapai dermis seperti QS Nd:YAG 1064 nm, QS Ruby dan QS Alexandrite sangat efektif untuk nevus Ota dan Ito. Terapi biasanya memerlukan 4-10 kali sesi, dan hilangnya lesi mencapai 70-100 persen dengan rekurensi hanya 0,6-1,2%.

2. Nevus biru1-4
Lesi melanositik jinak berwarna biru ini muncul secara spontan pada anak-anak atau dewasa muda. Histopatologi lesi ini tampak melanosit yang terletak di dermis bawah. Warna biru dari lesi disebabkan adanya efek Tyndall sebagai akibat adanya efek scattering jaringan di atasnya. Nevus biru sangat jarang berubah menjadi bentuk ganas sehingga lesi ini dapat dihilangkan dengan laser jenis QS ruby, alexandrite, Nd:YAG. Pada Nevus biru dengan kedalaman lesi melanositik meluas sampai ke subkutis, maka respon terapi biasanya tidak baik.

3. Acquired bilateral nevus of Ota-like macules (ABNOM’s)/ nevus Hori/nevus fuscoceruleus zygomaticus2,20- 22
Nevus ini sangat sering ditemukan pada ras Asia, ditandai adanya lesi hiperpigmentasi kebiruan, terdistribusi bilateral pada daerah malar. Bedanya dengan nevus Ota, selain nevus ini muncul setelah usia 20 tahun juga tidak disertai lesi pada mukosa. Gambaran histopatologis berupa melanosit dermal yang mensintesis melanin lebih aktif dan tersebar pada dermis papilaris dan dermis intermedius.

Polnikorn dkk melaporkan bahwa nevus Hori kurang responsif terhadap laser QS dibandingkan lesi nevus Ota pada sesi pertama, kedua, sehingga penghilangan lesi memerlukan sesi yang lebih banyak. Walaupun demikian Leong dkk mencoba meningkatkan efektivitasnya dengan mengkombinasi 2 laser, yaitu QS Nd:YAG 532 nm yang diikuti oleh QS Nd:YAG 1064 nm dan ternyata lebih efektif menghilangkan lesi dibandingkan QS Nd:YAG 1064 nm saja.

PENDEKATAN DALAM PENGGUNAAN LASER UNTUK KELAINAN PIGMENTASI1,6,8,23

1. Seleksi pasien
Hal yang paling utama dipertimbangkan sebelum melakukan terapi laser untuk kelainan pigmentasi adalah ketepatan penegakan diagnosis, identifikasi faktor risiko rekurensi, faktor prognostik dalam terapi laser, rencana terapi, biaya terapi, efek yang muncul selama dan setelah terapi serta dibuatkan informed consent.

Anamnesis meliputi: onset kemunculan lesi, riwayat biopsi, riwayat perubahan dalam perjalan penyakit (membesar, berdarah, berubah warna), riwayat kanker kulit dalam keluarga, riwayat terapi lesi, riwayat pemakaian asam retinoat oral, riwayat herpes, riwayat keloid, riwayat berjemur atau tanning, fototerapi dan tipologi kulit. Pada penderita yang akan dilaser sebaiknya dilakukan priming minimal 2-8 minggu sebelum tindakan laser agar terapi menjadi lebih efektif dan mengurangi efek hiperpigmentasi pasca inflamasi.

2. Prosedur operasional terapi
Anestesi: setiap pulse laser menyebabkan rasa nyeri yang sebenarnya dapat ditoleransi oleh pasien, tetapi apabila lesi cukup luas dapat diberikan anestesi topikal oklusif 1 jam sebelum tindakan laser.

Perlindungan mata operator dan pasien dengan kacamata yang optical density-nya sesuai laser yang dipakai. Perlu diketahui bahwa laser QS dapat merusak retina secara permanen. Apabila terapi laser dilakukan pada lesi di kelopak mata, maka bola mata penderita harus dilindungi dengan metal corneal eye shield.

Lakukan uji spot test, dengan memakai ukuran spot yang disesuaikan dengan lesi, laser dicobakan pada beberapa tempat pada lesi, dimulai dengan energi yang terendah. Kemudian catat ukuran spot dan energi yang digunakan. Tes ini dievaluasi 4-8 minggu kemudian. Evaluasinya adalah melihat adanya efek lightening dengan energi terendah. Parameter itu yang dipakai untuk terapi keseluruhan lesi.

Posisikan laser tegak lurus terhadap lesi. Bila memakai QS laser, pada saat ditembakkan dan mengenai partikel pigmen, akan terdengar bunyi meledak (popping sound). End point primernya adalah kavitasi berupa warna keputihan pada lesi. Untuk lesi pigmen yang dalam seperti nevus Ota, end point ini tidak terlihat tetapi pasien biasanya merasakan lebih panas atau nyeri saat laser ditembakkan pada lesi.

End point sekunder, adalah terbentuknya purpura karena terjadi kerusakan pembuluh darah di dermis. End point ini akan hilang dalam beberapa jam.

3. Post-operasi
Bersihkan luka dua kali sehari dengan larutan fisiologis, kemudian diikuti pemberian antibiotik topikal, jaga luka selalu lembab; biasanya luka akan sembuh dalam 5-14 hari.

EFEK SAMPING DAN KOMPLIKASI1,2,6,8

Berbagai efek samping dan komplikasi penggunaan laser dapat terjadi seperti hiperpigmentasi, hipopigmentasi dan jaringan parut. Bila hiperpigmentasi terjadi, dapat diatasi dengan pemakaian hidrokuinon untuk beberapa bulan dan pemakaian tabir surya SPF 30. Komplikasi lainnya adalah terjadi hipopigmentasi terutama dengan QS ruby dan QS alexandrite karena lebih merusak melanosit di epidermis. Komplikasi jaringan parut pada penggunaan laser spesifik pigmen sangat jarang terjadi.

KESIMPULAN

Dalam makalah ini telah diuraikan berbagai kelainan pigmentasi yang dapat diterapi dengan laser, jenis laser yang digunakan serta efek samping terapi laser yang dapat terjadi. Agar terapi laser lebih berdaya dan berhasil guna, perlu dilakukan beberapa pendekatan seperti: ketepatan dalam mendiagnosis kelainan pigmentasi, ketepatan seleksi pasien, perawatan pre dan post-laser yang benar.

Daftar Pustaka
1 Rohrer TE, Ort RJ, Arndt KA and Dover JS. Laser in the treatment of pigmented lesions. In: Kaminer MS, Arndt KA, Dover JS RohreTE, Zachary CB (eds). Atlas of Cosmetic Surgery, 2nd ed, Philadelphia:Saunders Elsevier; 2009.p.155-177
2. Dierickx CC. Laser treatment of pigmented lesions. In: Goldberg DJ(ed). Laser Dermatology. Berlin:Springer; 2005.p.37-60
3. Railan D and Kilmer S. Treatment of benign pigmented cutaneous lesions. In: Goldman MP (ed). Cutaneous and Cosmetic Laser Surgery. Mosby:Elsevier; 2006.p.93-108
4. Kilmar LS and Garden JM. Laser treatment of pigmented lesions and tattoos. In: Seminars in cutaneous medicine and surgery, Vol 19 (4) December 2000; 232-44.
5. Carpo BG, Grevlink , Grevelink SV. Laser treatment of pigmented lesions in children. Seminars in Cutaneous Medicine and Surgery 2000; Vol 18(3):233-43
6. Golberg DJ. Pigmented lesions, tattoos, and disorders of hypopigmentation. In: Laser Dermatology Pearls and Problems. Blackwell Publishing; 2008.p.73-113
7. Avram MR, Tsao S, Tannous Z, Avram MM. Disorders of pigmentation. In: Color Atlas of Cosmetic Dermatology. New York:McGraw Hill; 2007.p.121-48
8. Wheeland RG, Marmur ES. Pigmented lesions and tattoos. In: Goldberg DJ, Rohrer TE (eds). Laser and Lights, Volume 1, 2nd ed. Saunders Elsevier; 2009.p.29-51
9. Ortonne JP, Pandya AG, Lui H, and Hexsel D. Treatment of solar lentigenes. J Am Dermatol 2006; 54:s262-71
10. Orten SS, Warner M, Dinehart SM, Bardales RH and FlockST. Qswitched deodynium: yttrium-aluminium-garnet laser treatment of lentigo maligna. Otolaryngol Head Neck Surg 1999; 120:296-302
11. Wang CC, Sue YM, Yang CH, Chen CK. A comparison of qswitched alexandrite laser and intense pulsed light for the treatment of freckles and lentigenes in Asian persons: a randomised, physician-blinded, spit-face comparative trial. J Am Acad Dermatol 2006; 54:804-10
12. ShimbaseT, Kamide R, Hashimoto T. Long-term follow up switched ruby laser. Aesth Plast Surg 1997; 21:445-448(abstract)
13. Grevelink JM, Gonzalez S, Bonoan R, Vibhagool C, Gonzalez E. Treatment of nevus spilus with the Q switched ruby laser. Dermatol Surg 1997; 23:365-70
14. Trilies MA, Allones I, Morena_Aias GA, Velez M. Becker’s Naevus: A comparative study between erbium:YAG and Q-switvhed neodynium: YAG; clinical and histopathological findings. British J of Dermatol. 2005;152:308-13
15. Lask GP, Glassberg E. Neodymium:Yttrium-Aluminum-Garnet laser for the treatment of cutaneous lesions. Clinics in Dermatology 1995; 13:81-6
16. Polnikorn N. Treatment of refractory dermal melasma with the MedLite C6 Q-switched Nd:YAG laser: Two case reports. Journal of Cosmetic and Laser Therapy 2008; 10: 67-73
17. Suzuki H, Anderson RR. Treatment of melanocytic nevi. Dermatol Therapy 2005; 18:217-26
18. Chan H, Kono T. Nevus of Ota: Clinical aspects and management. Skinmed 2003; 2: 89-98
19. Alam M, Arndt KA, Dover JS. Laser treatment of nevus of Ota. Dermatol Therapy 2001; 14:55-9
20. Park JM,Tsao H, Tsao S. Acquired bilateral nevus of Ota-like macules (Hori Nevus): Etiologic and therapeuitic considerations. J Am Acad Dermatol 2009; 61:66-93
21. Polnikorn. NdYAG laser for Hori’s Nevus. Dermatol Surg 2000; 26(5):477-80
22. Leong H, Goh CL, Khoo, Chan, Ang P. Treatment of acquired bilateral nevus of Ota-lie macules (Hori’s Nevus) with a combination of the 532nm Q-switched Nd:YAG laser followed by the 1064 nm Q-Switched NdYAG is more effective: Prospective study. Dermatol Surg 2006; 32:34-40
23. Aurangabadkar A, Mysore V. Standard guidelines of care: Lasers for tattoos and pigmented lesions. Indian Journal of Dermatology, Venerology and Leprology 2009; 75(8):111-26

Sumber: MEDICINUS

loading...