Diabetes merupakan penyakit yang sudah sangat umum dijumpai, dan terutama pada lansia. Berbagai faktor, seperti gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat, yang akhir-akhir ini mungkin susah untuk dihindari, menjadikan penyakit ini seolah sudah menunggu setiap orang yang memasuki masa lansia. Makanan merupakan pintu utama dari datangnya berbagai penyakit, makan sembarangan tanpa adanya pengaturan dan pengendalian, menjadikan berbagai penyakit mudah datang, bukan hanya diabetes.

Kini diabetes bukan hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak. Penyakit diabetes pada anak-anak perlu semakin diwaspadai para orang tua. Data sebuah penelitian kecil menunjukkan, jumlah anak-anak penderita diabetes terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup. Penyakit diabetes pada anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola makan yang buruk, adanya riwayat diabetes di keluarga, anak lahir dengan berat badan rendah, serta kegemukan (obesitas).

Tingginya asupan gula pada makanan anak-anak, menjadi faktor yang harus diwaspadai para orang tua. Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan asupan gula tambahan pada anak seharusnya tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi. Artinya, berdasarkan Angka Kecukupan Gizi Indonesia 2004, anak usia 1-3 tahun seharusnya mengonsumsi kurang dari 25 gram gula tambahan per hari atau setara dengan 5 sendok teh. Di usia 4-6 tahun jumlahnya tidak melebihi 38 gram atau sekitar 8 sendok teh.

Asupan gula terbanyak yang dikonsumsi anak adalah sukrosa yang mencapai 49,5 gram dan terbanyak berasal dari konsumsi susu formula. Prosentase ini sudah melebih ambang batas yang direkomendasi WHO.

Untuk mencegah obesitas pada anak, para orangtua dianjurkan untuk mengembalikan pola makan anak yang benar. Untuk tumbuh kembang anak butuh 1.600 kalori setiap harinya yang dibagi dalam 3 kali makan dan 2 kali snack. Minum susu secukupnya saja dan tingkatkan aktivitas fisik anak.

Tanda dan gejala awal

Gejala awal DM biasa disebut dengan 3 P, yakni polifagi (banyak makan), polidipsi (banyak minum), dan poliuri (banyak kencing). Akan tetapi, yang seringkali terjadi kalau anak banyak makan dan banyak minum, orang tua menganggapnya wajar. Sering kencing juga dianggap wajar karena makan minumnya juga banyak. Itu yang membuat orang tua dan dokter kecolongan. Baru setelah anak terkena infeksi, baru diabetesnya kelihatan.

Tanda-tanda anak yang menderita diabetes antara lain muntah, sering buang air besar, kesadaran menurun (koma), dehidrasi berat, kejang-kejang dan sebagainya.

Gejala lain yang harus diwaspadai orang tua adalah jika si kecil tiba-tiba ngompol. Misalnya, sudah 3-4 tahun anak tidak ngompol, lalu mendadak ngompol lagi. Hal itu harus dicurigai sebagai gejala diabetes.

Berikut adalah beberapa tanda dan gejala jika anak menderita diabetes:

  • Terjadi peningkatan rasa haus dan sering buang air kecil. Kelebihan gula yang menumpuk di aliran darah anak akan membuat cairan ditarik ke jaringan, hal ini kemungkinan akan membuat anak menjadi haus. Akibatnya anak minum dan buang air kecil lebih sering dari biasanya.
  • Anak selalu merasa lapar. Karena tidak adanya jumlah insulin yang cukup, maka gula yang diasup tidak akan bisa masuk ke dalam sel. Akibatnya organ akan kehabisan energi dan memicu rasa lapar yang terus menerus.
  • Penurunan berat badan. Meskipun anak makan melebihi biasanya, tapi anak-anak tetap kehilangan berat badannya. Tanpa adanya asupan energi dari gula, maka jaringan otot dan cadangan lemak akan menyusut. Penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan seringkali menjadi gejala pertama yang diperhatikan.
  • Anak-anak menjadi mudah lelah dan lesu. Hal ini disebabkan sel-sel sangat kekurangan asupan gula.
  • Anak menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Anak-anak dengan diabetes tipe 1 yang belum terdiagnosis seringkali menjadi mudah marah atau tiba-tiba menjadi murung dan kesal.
  • Penglihatan yang kabur. Jika gula darah anak terlalu tinggi, maka cairan dapat ditarik dari lensa mata sehingga mempengaruhi kemampuan anak untuk bisa fokus dengan jelas.
  • Infeksi jamur. Adanya infeksi jamur pada alat kelamin bisa menjadi tanda pertama dari diabetes tipe 1 pada anak perempuan.
  • Muntah atau sakit perut. Meskipun kurang umum, beberapa anak mengalami sakit perut atau muntah jika mereka memiliki diabetes yang tidak diobati.


Diabetes Tipe 1 dan 2

Umumnya diabetes yang diderita anak-anak adalah diabetes tipe 1 yang bergantung pada insulin. Diabetes jenis ini, disebabkan pankreas tidak dapat menghasilkan insulin atau menghasilkan dalam jumlah sangat sedikit. Insulin dibutuhkan untuk memasukkan gula ke proses metabolisme tubuh yang mengubahnya menjadi energi.

Jika insulin tidak ada atau sangat sedikit, proses metabolisme tubuh tidak dapat terjadi. Alhasil, kadar gula di dalam darah meningkat dan tidak ada energi yang terbentuk. Anak akan cepat merasa lelah, cepat lapar, dan cepat haus.

Meski belum banyak, ada pula anak yang terserang diabetes tipe 2 yang tidak bergantung pada insulin. Diabetes ini disebabkan terjadinya resistensi insulin. Pada diabetes tipe 2 ini, insulinnya normal, tapi tidak berfungsi optimal dalam tubuh.

Karena pola makan berlebihan tanpa olahraga, insulin yang harusnya bekerja memproses asupan gula perlahan tidak mampu lagi mengolah asupan yang masuk. Akibatnya, tidak terjadi metabolisme sempurna. Biasanya anak dengan berat badan berlebih berisiko terkena diabetes ini.

Resiko Susu Formula

Sementara itu penelitian di luar negeri menunjukkan, pemberian susu formula pada anak juga dapat diperhitungan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi risiko diabetes. Hal itu diungkapkan lewat penelitian awal Dr.Mikael Knip dari Universitas Helsinki dan dipublikasikan dalam American Journal for Clinical Nutrition.

Dalam suatu riset di kalangan bayi dengan genotipe HLA, gen yang membuat seseorang berisiko tinggi menderita diabetes, penggunaan susu formula yang mengandung protein susu sapi dapat meningkatkan risiko. Bayi yang beralih dari ASI ke susu formula atau makanan bayi terlalu cepat dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 1 di usia 10 tahun.

Sementara itu, bayi yang mengalami transisi dari ASI ke susu yang terhidrolisasi tinggi  - sehingga mudah dipecah dan dicerna -  memiliki risiko diabetes lebih rendah. Di usia 5 tahun, risikonya terkena diabetes bahkan berkurang hingga 50 persen. Penelitian yang masih berlangsung ini dilakukan di 77 pusat penelitian di 15 negara.

Pencegahan dan Pengendalian

Dua hal yang menjadi kunci utama dalam pencegahan dan pengendalian diabetes adalah makanan dan olahraga atau aktifitas fisik.

Mengendalikan pola makan merupakan salah satu hal penting dalam mencegah kejadian diabetes pada anak. Di sini peran orang tua sangatlah besar. Pola makan pada anak sangat sulit dikendalikan, berbagai jajanan baik di lingkungan rumah maupun sekolah, tidak mungkin seluruhnya diawasi oleh orang tua.

Berilah pengetahuan pada anak tentang makanan dan minuman yang sehat dan tidak sehat, mana jajanan yang boleh dan mana yang tidak boleh dimakan. Kurangi jajanan yang manis-manis, sebagai gantinya perbanyak makan buah-buahan segar. Orang tua juga hendaknya jadi contoh dalam pemilihan makanan yang sehat untuk dikonsumsi.

Hal lain yang juga tidak kalah pentingnya dalam mencegah diabetes adalah olahraga atau aktifitas fisik. Olahraga dapat membantu meningkatkan sensitivitas tubuh anda terhadap insulin, yang membantu menjaga kadar gula darah dalam kisaran normal. Olahraga atau aktifitas fisik sangat baik bagi pertumbuhan dan untuk menjaga kesehatan tubuh.

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga anak dari diabetes:

  • Pertahankan berat badan yang sehat, jangan terlalu gemuk.
  • Olahraga secra teratur atau tetap aktif secara fisik.
  • Makan yang sehat, rendah lemak dan gula.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
  • Monitor tekanan darah dan gula darah secara teratur.
  • Tingkatkan konsumsi buah-buahan dan sayuran segar.
  • Perbanyak minum produk susu rendah lemak, makanan berserat.
  • Kurangi lemak hewani.
  • Kurangi makanan yang manis-manis, gula, permen.
loading...