Diabetes Melitus tipe 2, yang selama ini dianggap sebagai penyakit orang dewasa, mulai banyak didapatkan pada anak-anak dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dapat disebabkan oleh meningkatnya anak-anak dengan berat badan berlebih, obesitas.

“Apa benar anak saya menderita diabetes juga dokter?”  Tanya seorang Ibu waktu saya beritahu gula darahnya tinggi dan anaknya juga  menderita DM seperti dia juga.

“Ya Bu, kadar gula darahnya, dan pemeriksaan urinnya menunjukkan demikian”, jawab saya.

“Kenapa bisa  dokter, dia kan masih muda sekali? Saya dulu pertama kali didiagnosis DM waktu saya berumur 42 tahun, anak saya baru 18 tahun dokter. Lagi pula dokter, anak saya tidak mengeluh apa-apa, kecuali kadang-kadang dia mengeluh agak letih dan saya lihat berat badannya sedikit menurun akhir-akhir ini”,  ungkap Ibu ini seolah-olah tidak percaya bahwa anaknya juga menderita DM.

Diabetes melitus tipe 2, sesuai dengan nama lainnya mature onset diabetes mellitus, diabetes yang timbul setelah dewasa, biasanya setelah usia seseorang di atas 40 tahun, sekarang mulai banyak muncul pada usia yang semakin muda. Penelitian di Amerika Serikat bahkan kebanyakan mulai berkembang pada usia remaja, usia 10-20 tahun. Kasus ini meningkat 10 kali lipat antara tahun 1982-1994 di Amerika Serikat, dan merupakan 45% kasus baru diabetes melitus pada anak-anak. Di Indonesia kejadian diabetes melitus tipe 2 pada anak ini, saya belum mendapatkan angka yang pasti, tapi pengalaman saya kasusnya mulai sering ditemukan. Salah satu penyebabnya berkaitan dengan meningkatnya kejadian obesitas pada anak-anak di Indonesia

Gejala DM 2 pada anak-anak sebenarnya sama seperti DM 2 biasanya, banyak makan, banyak minum, banyak buang air kecil. Bila anak sering dilihat ke kamar mandi untuk buang air kecil, malam juga berulang kali terbangun karena ingin buang air ke belakang, apalagi mereka obes, perlu dicurigai kemungkinan anak itu menderita DM. Disamping itu, meereka  kadang-kadang mengeluh letih, lemas, mengantuk. Dan, biasanya setelah mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung gula, mereka merasa seger, kuat kembali. Tetapi, sayangnya  gejala-gejala ini sering tidak menonjol, dan tidak disadari mereka, kadang-kadang dianggap sebagai hal normal.

Kemudian, seperti yang ditanyakan oleh Ibu di atas, “kenapa bisa dokter? Anak saya kan masih kecil, masih remaja?”

Sama seperti DM tipe 2, penyebab pastinya tidak diketahui, faktor risiko seperti obesitas, sedentary life juga dianggap sebagai penyebab utama DM tipe 2 pada anak-anak. Obesitas, sedentary life merupakan ancaman utama mereka menderita DM lebih lebih awal. Menurut beberapa ahli,  ini seiring dengan meningkatnya kejadian  anak-anak dengan obesitas lebih dini.

Seperti tampak dengan kasat mata, balita, anak-anak, remaja dengan berat badan berlebih. obesitas bukan lagi hal yang aneh sekarang ini. Saya tidak tahu angka pastinya di Indonesia, tapi iseng-iseng saat saya hitung di halaman sekolah waktu saya jalan pagi. Sekitar  1  dari 5-10 anak saya lihat overweight atau obesitas. Suatu pemandangan yang jarang sekali kita lihat beberapa puluh tahun yang lalu.

Akfivitas fisik yang kurang juga berperan terhadap berkembangnya DM 2 pada anak-anak, remaja. Seperti diketahui anak-anak sekarang lebih banyak duduk di depan  TV menonton tayangan favoritnya dari banyak pilhan saluran yang tersedia hanya dari ujung jarinya. Anak-anak bermain  tidak perlu  lagi di halaman terbuka, tapi cukup duduk di tempat tidur di depan komputer. Dua-tiga jam duduk terus menuerus di depan layar komputer bukan lagi sesuatu yang aneh bagi anak-anak kita. Duduk berlama-lama di depan layar kaca ini saja sudah merupakan faktor risiko DM, terlepas dari faktor risiko lainnya.

Pola makan juga berubah, makanan tradisional yang sebenarnya lebih sehat sudah banyak digantikan oleh makanan impor dari luar. Pizza, donut. Kentucky, hamburger yang di negara asalnya dikenal dengan junk food, yang kandungan kalorinya tinggi karena banyak mengandung gula, karbohidrat olahan, lemak menjadi makanan  favorit sebgaian anak-anak kita sekarang. Minuman juga demikian, minuman kaleng,   soda yang sangat manis sering menemani mereka waktu makan.

Jadi, obesitas, aktivitas fisik yang kurang,  makanan yang tidak sehat merupakan faktor risiko anak-anak sekarang menderita diabetes tipe 2 lebih awal.

Akibat DM 2 yang berkembang  pada usia anak-anak, remaja ini,  ancaman risiko komplikasi seperti gagal ginjal, kebutaan, gangguan syaraf, jantung, amputasi tungkai, menjadi lebih besar. Apalagi terapi obat-obatan seperti metformin, insulin pada anak-anak efektivitasnya masih diragukan.  Studi yang dilakukan tehadap 699 anak umur10-17  yang menderita DM 2, pemberian obat-obatan oral tidak  efektif lagi hanya dalam beberapa tahun pemberian, dan kemudian mereka harus mendapatkan injeksi Insulin. Penelitian ini memberikan sinyal ancaman ke depan bahwa penderita DM tipe 2 pada anak-anak, yang gula darahnya sulit terkontrol dengan baik akan meningkatkan risiko komplikasi DM lebih dini. Tidak heran nanti, pada usia 30-40 tahun mereka sudah harus mengalami amputasi tungkainya, kebutaan, gagal ginjal dan sebagainya.

Oleh karena itu, apapun penyebabnya, mencegah anak-anak kita supaya tidak berukuran besar—semua penderita DM 2 pada anak-anak adalah obes, maka  sangat penting sekali. Dan, di sini, peranan orang tua untuk mendorong, memberikan contoh anak-anak mereka gaya hidup sehat sangat menentukan.

loading...