Anemia dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) lebih rendah dari nilai normal. Batasan normal kadar hemoglobin menurut kelompok umur tertentu dan jenis kelamin adalah sebagai berikut: bayi dan balita 11 gram, anak usia sekolah 12 gram, wanita dewasa 12 gram, laki-laki dewasa 13 gram, ibu hamil 11 gram dan ibu menyusui > 3 bulan 12 gram.

Penderita anemia tentu memiliki darah yang banyak dalam tubuhnya, namun sel darah merahnya yang tidak mengangkut banyak oksigen. Ada banyak jenis anemia namun kebanyakan adalah anemia akibat kekurangan zat besi.

Secara umum ada tiga faktor penyebab anemia defisiensi zat besi yaitu:

1. Kehilangan Darah Secara Kronis

Pada lelaki dewasa, sebagian besar kehilangan darah disebabkan oleh proses pendarahan akibat penyakit (trauma), atau akibat pengobatan suatu penyakit. Sedangkan wanita, terjadi karena kehilangan darah secara alamiah setiap bulan. Jumlah darah yang hilang setiap bulan atau pada satu periode haid berkisar 20-25 cc.

Jumlah ini menyiratkan kehilangan zat besi sebesar 12,5-15 mg/bulan atau kira-kira sama dengan 0,5-0,5 mg/hari. Jika jumlah tersebut ditambah dengan energi basal, maka jumlah total zat besi yang hilang sebesar 1,25 mg/hari. Kehilangan zat besi dapat pula disebabkan oleh infeksi parasit seperti cacing tambang, schistosoma dan mungkin pula Trichuris trichiura.

2. Asupan dan Serapan Zat Besi Yang Tidak Adekuat

Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah bahan makanan yang berasal dari hewan. Di samping banyak mengadung zat besi serapan zat besi dari makanan tersebut 20 % - 30 %. Sayangnya sebagian besar penduduk di negara yang sedang berkembang belum menghadirkan bahan makan tersebut di rumah dan ditambah kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi (seperti kopi dan teh) secara bersamaan pada waktu makan. Minum teh setelah makan menyebabkan hambatan penyerapan zat besi hingga 80%.

3. Peningkatan Kesehatan

Asupan zat besi harian diperlukan untuk mengganti zat besi yang hilang melalui tinja, air kencing dan kulit. Kebutuhan akan zat besi meningkat selama kehamilan, masa balita, anak usia sekolah dan masa remaja. Pada masa balita, usia sekolah dan remaja, zat besi dibutuhkan untuk proses tumbuh kembang yang cepat sehingga membutuhkan zat besi yang banyak.

Menurut FAO, WHO (1992), penyebab anemia dapat dibagi dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung yaitu :

1. Jumlah Fe dalam makanan tidak cukup
- Ketersediaan Fe dalam bahan makanan rendah
- Praktik pemberian makanan kurang baik
- Sosial - ekonomi rendah

2. Absorbs Fe rendah
- Komposisi makanan kurang beragam
- Terdapat zat penghambat absorbsi

3. Kebutuhan Fe naik
- Pertumbuhan fisik
- Kehamilan dan menyusui

4. Kehilangan darah
- Parasit
- Infeksi
- Pelayanan kesehatan rendah

Pendapat lainnya menyebutkan, faktor dominan yang mempengaruhi timbulnya anemia yaitu :

1. Sebab langsung
- Intake makanan tidak cukup (sumber zat besi dan bioavailibilitasnya rendah, zat penghambat diet).
- Penyakit (Cacingan, Malaria, Tuberkulosis).

2. Sebab tidak langsung
Rendahnya perhatian terhadap wanita dalam keluarga
- Dalam keluarga wanita mengeluarkan energy lebih banyak.
- Distribusi makanan yang tidak menguntungkan ibu dan anak.
- Kurang perhatian terhadapa kaum wanita.

3. Sebab mendasar
- Rendahnya pendidikan
- Rendahnya kemampuan daya beli.
- Status sosial yang rendah
- Lokasi geografis yang buruk.

Kejadian anemia pada anak juga berhubungan dengan faktor-faktor sosial ekonomi dan biomedis yaitu status sosial ekonomi yang rendah, kurang stimulus di rumah, kurangnya hubungan anak dengan ibu, pendidikan dan intelegensia ibu yang rendah, depresi pada ibu, tidak adanya peran ayah, berat badan lahir rendah, penyapihan diri, infeksi parasit serta gizi buruk.

Penyebab terbanyak kejadian anemia pada anak yaitu kurangnya asupan besi dalam makanan, baik karena pola konsumsi makanan yang tidak tepat, kualitas dan kuantitas makanan yang tidak memadai, maupun karena adanya peningkatan kebutuhan zat besi.