Umumnya mengompol, yang dalam istilah kedokterannya disebut enuresis, merupakan kebiasaan yang kurang menyenangkan bagi para orangtua itu lebih banyak dijumpai pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Kemungkinan karena faktor aktifitasnya lebih banyak anak laki-laki.

Ngompol atau enuresis dibedakan menjadi dua jenis, yakni primary enuresis dan secondary enuresis. Primary enuresis adalah kebiasaan ngompol tanpa jeda. Kebiasaan ini berlangsung terus menerus, tidak ada fase kering. Sedangkan secondary enuresis ada jedanya. Menurutnya, normalnya anak akan berhenti ngompol setelah berusia 5 tahun atau memasuki usia prasekolah.

Dari hasil penelitian, kebiasaan mengompol berhenti pada siang hari pada umur 1 ½ - 2 tahun, dan pada umur 2 ½ - 3 tahun berhenti mengompol pada malam hari.

Kebiasaan mengompol dapat disebabkan oleh:

  1. Gangguan psikologis seperti stres, tertekan, merasa diperlakukan kurang adil, kurang perhatian dll.
  2. Gangguan organis seperti infeksi saluran kencing, sumbatan, dll.
  3. Terlambatnya kematangan bagian otak yang mengontrol kencing.
  4. Gangguan tidur. Biasanya mereka termasuk yang tidurnya sangat nyenyak dan ngompolnya bisa terjadi setiap saat dalam waktu tidurnya.
  5. Gangguan kekurangan produksi hormon anti diuretik (= hormon anti kencing) pada malam hari, sehingga pada malam hari produksi air kencing berlebihan.
  6. Gangguan genetik pada kromoson 12 dan 13 yang merupakan gen pengatur kencing dan pada kelainan ini ada riwayat keluarga dengan ngompol.
  7. Ngorok waktu tidur, akibat adanya pembesaran kelenjar tonsil dan adenoid.


Selain itu faktor emosional dapat juga menyebabkan kebiasaan mengompol pada anak, berupa :

  1. Ekspresi daripada perubahan si anak akibat terlalu cepat dilatih dalam toilet training yang terlalu keras dan dini (waktu anak masih kecil).
  2. Latihan yang kurang adekwat yaitu tidak secara rutin dilatih.
  3. Overproteksi ibu karena anggapan masih terlalu kecil atau terlalu lemah untuk dilatih.
  4. Paling penting adalah si anak sedang berusaha mencari perhatian orang tua (terutama ibunya) karena ibu lebih memberi perhatian pada adiknya atau anak baru memperoleh adik lagi.


Mengompol juga dapat disebabkan oleh faktor organik yang merupakan suatu penyakit yaitu Diabetes Insipidus dimana penyakit ini ditandai dengan sering kencing (poliuria) sehingga anak selalu mengompol bila tidur, juga disertai keinginan untuk minum terus (palidipsia). Tanda-tanda lain dari penyakit ini adalah anak lekas marah, sangat letih, dan terdapat keadaan gizi yang kurang baik seperti kegemukan (obesitas) atau sangat kurus (cachexia).

Kebiasaan anak mengompol bukan dari faktor makanan sebagai pemicunya, kemungkinan faktor minuman yang berlebihan diwaktu bermain di  sekolah atau dengan teman-temannya di rumah karena aktifitas anak yang banyak mengeluarkan keringat seperti bermain bola.

Dan tidak kalah pentingnya untuk selalu diingatkan kebersihan dini sebelum naik ketempat tidur dengan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mencuci anggota badannya serta pakaian tidur yang tidak terlalu tipis sehingga anak tidak kedinginan waktu tidur.

Penanggulangan

Untuk penanggulangan anak mengompol dapat diambil langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Pembatasan jumlah minuman pada waktu malam hari.
  2. Orang tua jangan menghukum anak yang ngompol karena dapat menimbulkan gangguan psikologis yang justru akan memperberat ngompol.
  3. Membangunkan anak setelah beberapa jam tidur dan dibawa ke kamar mandi untuk kencing.
  4. Memasang alarm di tempat tidur, sehingga bila anak ngompol, basah, alarm berbunyi, sehingga anak terbangun dan anak merasa terganggu oleh bunyi alarm dan menjadi tidak ngompol lagi. Dengan cara ini orang tua tahu jam berapa anak biasanya ngompol, sehingga dapat membangunkan dan menyuruh anak kencing beberapa saat sebelum alarm berbunyi.
  5. Pengobatan psikologis untuk mencari dan mengatasi faktor psikologis yang diduga menjadi penyebab ngompol.
  6. Gunakan obat-obatan, hanya jika benar-benar diperlukan.
  7. Bila anak tidur ngorok karena ada pembesaran kelenjar tonsil dan adenoid, maka ia perlu diperiksakan ke dokter spesialis THT untuk kemungkinan dilakukan operasi pembuangan tonsil dan adenoid.


Mengompol pada Lansia

Mengompol tak hanya terjadi pada anak-anak. Orang-orang lanjut usia (lansia) dapat juga mengalaminya. Malah, pada mereka, aktivitas mengompol (inkontinensia urine) tak hanya terjadi di tempat tidur, tetapi juga saat beraktivitas.

Banyak orang menganggap mengompol pada usia lanjut berhubungan dengan melemahnya organ-organ tubuh. Sehingga, mereka mengira itu sebagai hal wajar. Padahal hal tersebut justru tidak boleh diremehkan.

Berdasarkan penyebab, mengompol pada lansia dibedakan menjadi empat jenis. Yaitu, tipe stres, urgensi, over flow, dan fungsional.

Tipe stres terjadi karena melemahnya otot dasar panggul yang menjepit uretra. Ketika perut menekan, otot-otot dasar panggul tak mampu menahan seluruh isi kandung kemih sehingga isinya tumpah.

Tipe urgensi disebabkan oleh berbagai gangguan. Baik gangguan kesadaran, infeksi, stroke, maupun demensia. Tipe tersebut ditandai dengan perasaan tak bisa menahan kencing yang berlebihan. Air seni keburu keluar sebelum sampai di kamar mandi.

Tipe over flow menyerang orang-orang yang terkena tumor prostat. Pada kasus tersebut, tumor yang menyumbat saluran kencing menghalangi aliran air seni. Seperti balon, kandung kemih yang menampung air seni itu lama-kelamaan membesar dan akhirnya tak muat untuk menampung urine.

Tipe fungsional lebih disebabkan oleh keterbatasan gerak. Itu bisa terjadi karena kelumpuhan atau tubuh yang lemah sehingga tak mampu menuju kamar mandi.

loading...