Di negara berkembang penyebab kematian terbesar adalah penyakit infeksi. Salah satu usaha pencegahan terhadap timbulnya penyakit infeksi adalah dengan melaksanakan imunisasi. Dari segi ekonomi, pencegahan adalah suatu cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah daripada mengobati.

Imunisasi merupakan upaya pencegahan primer yaitu upaya untuk menghindari terjadinya sakit atau kejadian yang mengakibatkan seseorang sakit atau menderita cedera dan cacat. World Bank menyatakan imunisasi harus menjadi investasi pertama program kesehatan masyarakat bagi pemerintah di seluruh dunia karena merupakan intervensi kesehatan yang paling menguntungkan dari segi biaya. Dan perlu ditekankan bahwa pemberian imunisasi tidak hanya memberikan pencegahan terhadap orang yang diimunisasi, tetapi akan memberikan dampak yang jauh lebih luas karena akan mencegah terjadinya penularan yang luas dengan adanya peningkatan imunitas secara umum di masyarakat.

Di Indonesia sudah digalakkan program imunisasi terutama pada anak yang termasuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI). Di samping itu banyak usaha imunisasi lain yang tidak termasuk dalam PPI (non PPI), salah satunya adalah imunisasi influenza. Imunisasi influenza merupakan salah satu strategi untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat penyakit influenza. Keuntungan terbesar imunisasi ini adalah bagi orang yang memiliki risiko tinggi menderita influenza berat dan komplikasinya.

Penyakit influenza merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebabkan epidemi maupun pandemi. Di negara subtropis angka kejadian influenza meningkat bahkan dapat menyebabkan kejadian luar biasa hampir setiap musim dingin tiba. Di Amerika Serikat, influenza menyebabkan ±20.000 kematian per tahun. Kelompok penderita influenza terbanyak adalah anak-anak, tetapi komplikasi dan kematian tertinggi terjadi pada orang usia >65 tahun dan orang yang memiliki risiko tinggi. Di Jepang, pelaksanaan program imunisasi influenza pada anak sekolah mencegah 37.000-49.000 kematian per tahun, atau sekitar 1 kematian untuk setiap 420 anak yang diimunisasi. Program tersebut juga mengurangi angka transmisi infeksi dalam masyarakat.

Pada anak usia 0-4 tahun, angka rawat inap rumah sakit adalah 1:1000 anak sehat dan 1:2000 anak dengan penyakit dasar. Angka rawat inap rumah sakit pada bayi sama dengan orang usia >65 tahun. Rata-rata rawat inap akibat influenza adalah 114.000 per tahun, >50% pasien adalah usia <65 tahun. Tingginya risiko komplikasi, rawat inap rumah sakit dan kematian yang terjadi pada orang usia >65 tahun, anak-anak kecil, dan orang dengan penyakit dasar inilah yang mendorong Advisory Committe on Immunization Practices (ACIP) terakhir pada tahun 2002 menyusun rekomendasi mengenai imunisasi influenza.

Imunisasi influenza cukup bermanfaat, namun sosialisasi penerapan imunisasi ini di masyarakat hanya sedikit meningkatkan penggunaan vaksin. Penyakit influenza oleh banyak orang dianggap penyakit yang ringan, sedangkan influenza pada kelompok risiko tinggi dapat menyebabkan komplikasi dan kematian. Setelah menyadari keadaan ini, maka pada tahun 1999 American Family of Physician (AFP) menurunkan umur penggunaan imunisasi mulai pada usia 50 tahun sedangkan The Advisory Committee on Immunization Practice (ACIP) juga merekomendasikan imunisasi dimulai pada usia 50 tahun.

Permasalahan

Di Indonesia imunisasi influenza sudah dilakukan, namun pemberiannya masih terbatas kepada para jamaah haji sebelum berangkat ke Arab Saudi, sesuai dengan anjuran dari Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI pada tahun 2000. Imunisasi influenza pada jamaah haji hanya dianjurkan pada kelompok berisiko tinggi tertentu saja, seperti jamaah usia >65 tahun, memiliki penyakit jantung, paru kronik, diabetes mellitus dan jamaah yang sistem imunnya terganggu.

Sampai saat ini belum terdapat laporan resmi regional maupun nasional mengenai insidens, angka morbiditas dan mortalitas influenza karena sebagian besar orang masih menganggap bahwa influenza merupakan penyakit yang ringan. Imunisasi influenza masih merupakan suatu kontroversi baik dari waktu pemberian, sasaran pemberian maupun cost effectiveness bila diterapkan di Indonesia.

Dalam rekomendasi yang dibuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam Buku Imunisasi di Indonesia, imunisasi diberikan pada anak dengan kelainan jantung bawaan serta penyakit kronik lainnya, serta yang mendapat terapi imunosupresif.

Konsensus Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menganjurkan penggunaan imunisasi influenza pada orang yang berusia 50 tahun atau lebih atau pada orang lebih muda yang mempunyai penyakit kronik. Hal itulah yang mendorong dilakukannya kajian tentang imunisasi influenza bagi anak dan dewasa, sebagaimana himbauan WHO kepada negara yang belum memiliki kebijakan nasional imunisasi influenza tentang pengaruh epidemi influenza terhadap perekonomian sebagai dasar menetapkan kebijakan pencegahan influenza. 

#dari berbagai sumber