Meningitis adalah infeksi pada meninges (selaput pelindung) yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Ketika meradang, meninges membengkak karena infeksi yang terjadi. Sistem saraf dan otak bisa rusak pada beberapa kasus. Tiga gejala meningitis yang patut diwaspadai adalah demam, sakit kepala, dan leher yang terasa kaku.

Penyakit ini sering diderita oleh bayi dan anak-anak, tapi semua orang di segala usia bisa mengidap meningitis juga.

Diagnosis dini sangat penting agar dapat diberikan pengobatan yang efektif. Bagian ini mencakup anak dan bayi yang berumur lebih dari 2 bulan.

Diagnosis

Lihat apakah ada riwayat:

  • Demam
  • Muntah
  • Tidak bisa minum atau menyusu
  • Sakit kepala atau nyeri di bagian belakang leher
  • Penurunan kesadaran
  • Kejang
  • Gelisah
  • Cedera kepala yang baru dialami.

Dalam pemeriksaan, apakah ada:

  • Tanda rangsang meningeal
  • Kejang
  • Letargis
  • Gelisah
  • Ubun-ubun cembung (bulging fontanelle)
  • Ruam: petekiae atau purpura
  • Bukti adanya trauma kepala yang menunjukkan kemungkinan fraktur tulang tengkorak yang baru terjadi.

Selain itu, lihat apakah ada tanda di bawah ini yang menunjukkan adanya peningkatan tekanan intrakranial:

  • Pupil anisokor
  • Spastisitas
  • Paralisis ekstremitas
  • Napas tidak teratur

Pemeriksaan Laboratorium

Jika mungkin, pastikan diagnosis dengan fungsi lumbal dan pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS). Jika CSS keruh dan reaksi Nonne dan Pandy positif, pertimbangkan meningitis dan segera mulai berikan pengobatan sambil menunggu hasil laboratorium. Pemeriksaan mikroskopik CSS pada sebagian besar meningitis menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih (PMN) di atas 100/mm3. Selanjutnya dilakukan pengecatan Gram. Tambahan informasi bisa diperoleh dari kadar glukosa CSS (rendah: < 1.5 mmol/liter), protein CSS (tinggi: > 0.4 g/l), dan biakan CSS (bila memungkinkan).
Jika terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial, tunda tindakan pungsi lumbal tetapi tetap lakukan pengobatan.

Penyebab spesifik meningitis

• Pertimbangkan meningitis tuberkulosis jika:

  • Demam berlangsung selama 14 hari
  • Demam timbul lebih dari 7 hari dan ada anggota keluarga yang menderita TB
  • Hasil foto dada menunjukkan TB
  • Pasien tetap tidak sadar
  • CSS tetap mempunyai jumlah sel darah putih yang tinggi (tipikal < 500 sel darah putih per ml, sebagian besar berupa limfosit), kadar protein meningkat (0.8–4 g/l) dan kadar gula darah rendah (< 15 mmol/liter).

• Pada pasien yang diketahui atau dicurigai menderita HIV-positif, perlu pula dipertimbangkan adanya TB atau meningitis kriptokokal.
• Bila ada konfirmasi epidemi meningitis meningokokal dan terdapat petekie atau purpura, yang merupakan karakteristik infeksi meningokokal, tidak perlu dilakukan pungsi lumbal dan segera berikan Kloramfenikol.

Tatalaksana

Antibiotik
Berikan pengobatan antibiotik lini pertama sesegera mungkin.

  • seftriakson: 100 mg/kgBB IV-drip/kali, selama 30-60 menit setiap 12 jam; atau
  • sefotaksim: 50 mg/kgBB/kali IV, setiap 6 jam.

Pada pengobatan antibiotik lini kedua berikan:

  • Kloramfenikol: 25 mg/kgBB/kali IM (atau IV) setiap 6 jam
  • ditambah ampisilin: 50 mg/kgBB/kali IM (atau IV) setiap 6 jam

Jika diagnosis sudah pasti, berikan pengobatan secara parenteral selama sedikitnya 5 hari, dilanjutkan dengan pengobatan per oral 5 hari bila tidak ada gangguan absorpsi. Apabila ada gangguan absorpsi maka seluruh pengobatan harus diberikan secara parenteral. Lama pengobatan seluruhnya 10 hari.

Jika tidak ada perbaikan:

  • Pertimbangkan komplikasi yang sering terjadi seperti efusi subdural atau abses serebral. Jika hal ini dicurigai, rujuk.
  • Cari tanda infeksi fokal lain yang mungkin menyebabkan demam, seperti selulitis pada daerah suntikan, mastoiditis, artritis, atau osteomielitis.
  • Jika demam masih ada dan kondisi umum anak tidak membaik setelah 3–5 hari, ulangi pungsi lumbal dan evaluasi hasil pemeriksaan CSS
  • Jika diagnosis belum jelas, pengobatan empiris untuk meningitis TB dapat ditambahkan.

Untuk Meningitis TB diberikan OAT minimal 4 rejimen:

  • INH: 10 mg/kgBB /hari (maksimum 300 mg) - selama 6–9 bulan
  • Rifampisin: 15-20 mg/kgBB/hari (maksimum 600 mg) – selama 6-9 bulan
  • Pirazinamid: 35 mg/kgBB/hari (maksimum 2000 mg) - selama 2 bulan pertama
  • Etambutol: 15-25 mg/kgBB/hari (maksimum 2500 mg) atau Streptomisin: 30-50 mg/kgBB/hari (maksimum 1 g) – selama 2 bulan

 

  • Steroid
    Prednison 1–2 mg/kgBB/hari dibagi 3-4 dosis, diberikan selama 2–4 minggu, dilanjutkan tapering off. Bila pemberian oral tidak memungkinkan dapat diberikan deksametason dengan dosis 0.6 mg/kgBB/hari IV selama 2–3 minggu.

Tidak ada bukti yang cukup untuk merekomendasikan penggunaan rutin deksametason pada semua pasien dengan meningitis bakteri.

Perawatan Penunjang

Pada anak yang tidak sadar:

  • Jaga jalan napas
  • Posisi miring untuk menghindari aspirasi
  • Ubah posisi pasien setiap 2 jam
  • Pasien harus berbaring di alas yang kering
  • Perhatikan titik-titik yang tertekan.

Tatalaksana pemberian cairan dan nutrisi

Berikan dukungan nutrisi dan cairan sesuai dengan kebutuhan.

Pemantauan

Pasien dengan kondisi ini harus berada dalam observasi yang sangat ketat.

  • Pantau dan laporkan segera bila ada perubahan derajat kesadaran, kejang, atau perubahan perilaku anak.
  • Pantau suhu badan, denyut nadi, frekuensi napas, tekanan darah setiap 6 jam, selama setidaknya dalam 48 jam pertama.
  • Periksa tetesan infus secara rutin.

Pada saat pulang, nilai masalah yang berhubungan dengan syaraf, terutama gangguan pendengaran. Ukur dan catat ukuran kepala bayi. Jika terdapat kerusakan syaraf, rujuk anak untuk fisioterapi, jika mungkin; dan berikan nasihat sederhana pada ibu untuk melakukan latihan pasif. Tuli sensorineural sering terjadi setelah menderita meningitis. Lakukan pemeriksaan telinga satu bulan setelah pasien pulang dari rumah sakit.

Komplikasi

Kejang
Jika timbul kejang, berikan pengobatan sesuai dengan tatalaksana kejang

Hipoglikemia
Jika timbul hipoglikemia, berikan glukosa sesuai dengan tatalaksana hipoglikemi

Tindakan kesehatan masyarakat
Bila terjadi epidemi meningitis meningokokal, nasihati keluarga untuk kemungkinan adanya kasus susulan pada anggota keluarga lainnya sehingga mereka dapat melaporkan dengan segera bila hal tersebut ditemukan.