Kolik bukan indikasi bahwa ada yang salah dengan tubuh bayi. Pemahaman standar yang berlaku saat ini –yang masih bisa berubah– yaitu Kolik adalah kondisi yang terjadi bila bayi menangis, lekas marah dan rewel selama total 3 jam atau lebih sehari, lebih dari 3 hari seminggu selama 3 minggu lebih. “Perkembangan bayi adalah satu kesatuan. Ada bayi yang jarang menangis, ada bayi yang sering menangis. Hal ini tidak lantas berarti ada sesuatu yang salah dengan si bayi,” ujar Ronal Barr, MDCM., FRCPC,  dokter spesialis anak, ahli perilaku bayi di Universitas British Columbia, Kanada.

Kolik dimulai segera beberapa hari setelah bayi lahir. Kondisi ini umumnya ‘mengheboh’ pada bayi usia 2 minggu dan akan menghilang pada sekitar usia 4 bulan.

Kolik bukan karena kesalahan orangtua. “Ibu dan ayah yang bayinya menangis terus sering merasa bersalah, bahwa penyebab kondisi itu adalah akibat ketidakmampuan mereka merawat dan mengasuh bayinya. Tak ada hubungannya sama sekali!” kata Marc Weissbluth, MD, dokter spesialis anak penulis buku “Your Fussy Baby”. “Cara-cara yang biasa dilakukan untuk menenangkan bayi pun, seperti membedong, mengayun atau memberinya sesuatu untuk diisap, tidak banyak menolong.”

Kolik tidak disebabkan oleh perut kembung atau masuk angin. “Tak ada bukti ilmiah bahwa simethicone –unsur penyalur gas dalam perut yang diklaim oleh obat-obat tertentu–  akan menyembuhkan kolik,” tegas dr. Barr. Namun demikian, sebuah riset awal pada bayi-bayi yang mendapat ASI eksklusif ditemukan fakta bahwa Lactobacillus reuteri, bakteri sehat yang terdapat dalam suplemen yang dikonsumsi ibu, menurunkan tingkat tangis bayi hingga 95% --walaupun belum ditemukan korelasinya.

Kolik tidak menyebabkan bayi kelak menjadi tukang ngambek. Tak ada efek abadi pada bayi yang banyak menangis –kecuali bila bayi tersebut sering diguncang atau mengalami kekerasan. Shaken baby syndrome adalah konsekuensi paling serius akibat kolik. Tangis yang berkepanjangan memang bisa membuat jengkel orangtua –yang paling sabar sekalipun. Maka tak apa untuk meletakkan bayi Anda menangis di boksnya dan tinggalkan ia sejenak bersama pasangan Anda atau pengasuhnya. Anda juga perlu istirahat dan menenangkan diri.

Tips Menghadapi Anak Kolik

Memiliki anak yang menderita kolik membuat orang tua merasa stress, apalagi kalau tingkat koliknya berat. Kayaknya enggak banyak ya yang menghadapi masalah ini. Tapi menurut penelitian 1 dari 5 bayi pernah mengalami kolik. Definisi kolik sendiri adalah bayi menangis berkepanjangan, 3 jam sehari selama lebih dari 3 hari per minggu. Umumnya dimulai pada usia 3 minggu dan berakhir pada usia 3 bulan. Tangisannya menjerit / melengking dan susah dihibur. Kondisi terparah terjadi pada sore dan malam hari. Saat menangis bayi tersebut seperti kesakitan, perutnya membesar karena kembung, mukanya memerah, kakinya ditarik atau diluruskan. Setelah bersendawa atau kentut kelihatan sedikit lega.

Penyebab kolik tidak diketahui secara jelas, ada ahli yang berpendapat karena intoleransi laktosa, sensitif terhadap protein susu sapi. Bila bayi minum asi juga tidak menutup kemungkinan kena kolik, yang mungkin disebabkan oleh kepekaan atas makanan yang dimakan oleh ibunya. Ada juga dokter yang mengatakan kalau bayi kolik karena kontraksi usus yang sangat menyakitkan. Pendapat lain karena bayi menelan udara terlalu banyak waktu minum susu, karena itu sehabis minum susu bayi perlu digendong posisi tegak, ditepuk-tepuk sampai bersendawa. Ada juga yang berpendapat bayi mengalami kolik karena memiliki kepekaan aneh terhadap stimulasi. Pendapat lainnya lagi kolik berhubungan dengan ketidakmampuan sistem pencernaan bayi dalam menguraikan makanannya.

Anak saya Steven, mulai menderita kolik pada usia tepat 3 minggu, siang itu dia tiba-tiba menangis tanpa diketahui sebabnya, tangisannya lain dari biasanya. Menjerit-jerit, melengking, sambil kakinya diluruskan / ditarik, tangannya menggenggam, mukanya merah padam, kalau dipegang perutnya terasa kencang. Sebagai ibu baru, tentu saja saat itu saya merasa panik dan kebingungan. Untung ada mama saya di rumah, tapi karena sebelumnya mama tidak pernah menghadapi bayi kolik, bingung juga tidak tahu kenapa Steven tahu-tahu menangis seperti itu.

Malamnya Steven kami bawa ke dokter dan kata dokter Steven kena kolik. Dia bakal sembuh saat usianya menjelang 3 bulan. Sabar saja katanya. Steven diberi obat tapi obat tersebut tidak banyak membantu. Pada Steven, salah satu penyebab kolik ini karena alergi susu sapi, tapi pemberian asi juga tidak menolong, jadi serba salah deh. Karena tiap hari menderita kolik dan menangis berjam-jam, perutnya membesar dan lama kelamaan pusarnya terdorong keluar (bodong). Untuk mengatasi pusar yang menonjol keluar ini, kami menempelkan uang logam yang dibungkus kain kasa kemudian ditempel ke pusarnya dengan menggunakan plester. Katanya sih ada alatnya seperti gesper yang ada koinnya tapi karena waktu itu enggak nemu, jadinya membuat sendiri.

Saat Steven menangis karena kolik, seingat saya sulit sekali untuk menenangkannya. Dia cenderung suka digendong posisi tegak, kaki agak ditekuk ke arah perut. Kalau papanya sukanya mengendong dengan posisi tegak terus pantat Steven dipegangi (membuat dudukan katanya), jadi kakinya agak menekuk, menempel ke perutnya. Cara menggendong yang sangat aneh memang, orang-orang sampai menegur, aduh bayi masih kecil kok digendong seperti itu. Tapi kalau posisinya pas dan dia sudah merasa nyaman, baru deh tangisannya mereda. Untuk menenangkan tangisannya kami menggendong sambil jalan mondar-mandir sambil ngoceh-ngoceh / bersenandung / bicara kata-kata yang menenangkan. Wah pokoknya butuh perjuangan yang keras deh. Bayangkan hal itu terjadi beberapa kali sehari, setiap hari, terutama di malam hari, selama 2 bulan.

Nah bagi yang mengalami problem serupa, punya bayi kolik, berikut sedikit tips-nya:

a. Jangan terlalu stress

Memang memiliki bayi yang rewel karena kolik seringkali membuat orang tua stress, hiburlah diri Anda. Kolik memang sulit diobati tapi kolik bisa sembuh sendiri begitu bayi Anda menginjak usia 3 bulan (Steven sembuh pada usia 3 bulan kurang 1 minggu). Ya setiap hari hitung mundur aja misalnya kurang 60 hari lagi, 59 hari lagi, dst sampai penderitaan Anda berakhir.

b. Minta bantuan orang tua atau pengasuh bayi

Karena jam tidur Anda pasti terganggu, sewalah jasa pengasuh bayi atau minta bantuan orang tua untuk mengurangi beban stress Anda. Selagi ada waktu dan saat bayi Anda tidak rewel atau saat dia tidur cepat ikutlah tidur juga. Hitung-hitung menabung tidur karena malamnya Anda perlu gantian bergadang sambil jalan mondar-mandir menggendong bayi. Kalau Anda enggak kuat dan ambruk wah bisa tambah kacau khan.

c. Pahami dan dekati bayi anda

Saat bayi Anda terjaga dan saat dia tidak rewel (saat koliknya belum datang), usahakan menciptakan kedekatan, lihatlah dia, sebenarnya dia bayi yang lucu khan. Ingatlah dia juga enggak kepingin menderita kolik, dia juga tersiksa, nah karena masih bayi apalagi yang bisa dia lakukan selain menangis? Jangan benci dia atau mencapnya sebagai bayi yang rewel, menyusahkan, dsb. Usahakan mencintainya dengan sungguh-sungguh, menjadi orang tua yang siap mendampingi baik di saat suka maupun duka.

d. Selektif makan dan minum bagi sang ibu

Bila dia minum asi, sebagai ibunya Anda jangan minum susu sapi dulu, jangan juga makan-makanan yang bisa menimbulkan gas seperti kubis, brokoli. Hindari pula makanan kecut, pedas, coklat, kopi, dan alkohol. Yup Anda harus berkorban dulu, sabar penderitaan ini cuman 2 bulan lebih kok. Memang enggak mudah, tapi badai kolik pasti berlalu, jadi bersabarlah.

e. Pilih susu rendah laktosa

Kalau dia minum susu formula dan alergi, coba gantilah susunya dengan yang rendah laktosa atau yang hypoarlergenic (HA). Mungkin tidak bisa membantu menyembuhkan koliknya tapi mencegah alerginya bertambah parah. Karena Steven meski koliknya sembuh waktu dia umur 3 bulan kurang 1 minggu, namun alergi susunya baik susu sapi maupun susu kedelai, masih berlanjut sampai dia hampir 1 tahun.

f. Beri bayi minum sedikit-sedikit tapi sering

Bayi yang kolik sering ingin minum terus, sebaiknya kurangi volumenya tapi berikan lebih sering. Setiap kali selesai minum susu, gendong dia dengan posisi berdiri sandarkan dia di dada Anda, satu tangan Anda menyangga pantatnya, tangan yang lain menggendong sambil menepuk-tepuk punggungnya agar dia bersendawa. Bila bayi Anda sudah minum terlalu banyak, mungkin empeng dapat membantu.

g. Nyamankan bayi anda

Saat serangan kolik mulai datang, tarik nafas panjang, tenangkan diri Anda dulu. Kemudian dengan penuh cinta kasih gendong anak Anda untuk meringankan beban sakitnya. Atur posisi gendongan Anda agar dia merasa nyaman, kemudian berusahalah menidurkannya. Jalan mondar-mandir sambil menepuk-nepuknya dan bersenandung biasanya bisa membantu.

h. Kunjungi dokter

Saat bayi Anda menangis lebih dari biasanya atau saat ada gejala-gejala lain misalkan panas, muntah, batuk, pilek, diare berkepanjangan, kunjungi dokter anak Anda.

Itu sedikit tips dari saya, seorang ibu yang pernah bergadang, tidur sambil duduk mengendong bayi yang menderita kolik. Saat ini saya sudah bisa tersenyum kecut kalau mengingat masa-masa itu. Nah bagi Anda yang menghadapi problem serupa jangan stress ya. Tetap semangat!

#dari berbagai sumber, ayahbunda

loading...