Memiliki anak yang sehat dan cerdas adalah dambaan setiap orang tua. Masa anak-anak merupakan masa yang sangat penting dan menentukan dalam pertumbuhan si anak menjadi dewasa. Makanan yang sehat dan bergizi mutlak harus diberikan pada si anak, hal ini akan membuat anak tumbuh sehat dan cerdas. Pada masa ini, berbagai gangguan kesehatan dapat menimpa anak-anak, bahkan meski kebutuhan makanan yang sehat dan bergizi telah tercukupi. Berbagai faktor dapat menyebabkan anak-anak mengalami gangguan kesehatan, misalnya faktor lingkungan.

Berikut adalah beberapa gangguan kesehatan yang biasa menyerang anak-anak:

1. Kurang Gizi

Ketika berbicara mengenai gizi kurang (undernutrition), perhatian terbesar akan ditujukan pada anak, terutama balita. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut, asupan kurang yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, akan memberikan dampak terhadap proses tumbuh kembang anak dengan segala akibatnya di kemudian hari. Tidak hanya pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan mentalnya.

2. Kolik

Kolik adalah bayi menangis berkepanjangan, 3 jam sehari selama lebih dari 3 hari per minggu. Umumnya dimulai pada usia 3 minggu dan berakhir pada usia 3 bulan. Tangisannya menjerit / melengking dan susah dihibur. Kondisi terparah terjadi pada sore dan malam hari. Saat menangis bayi tersebut seperti kesakitan, perutnya membesar karena kembung, mukanya memerah, kakinya ditarik atau diluruskan. Setelah bersendawa atau kentut kelihatan sedikit lega.

Penyebab kolik tidak diketahui secara jelas, ada ahli yang berpendapat karena intoleransi laktosa, sensitif terhadap protein susu sapi. Bila bayi minum asi juga tidak menutup kemungkinan kena kolik, yang mungkin disebabkan oleh kepekaan atas makanan yang dimakan oleh ibunya. Ada juga dokter yang mengatakan kalau bayi kolik karena kontraksi usus yang sangat menyakitkan. Pendapat lain karena bayi menelan udara terlalu banyak waktu minum susu, karena itu sehabis munum susu bayi perlu digendong posisi tegak, ditepuk-tepuk sampai bersendawa. Ada juga yang berpendapat bayi mengalami kolik karena memiliki kepekaan aneh terhadap stimulasi. Pendapat lainnya lagi kolik berhubungan dengan ketidakmampuan sistem pencernaan bayi dalam menguraikan makanannya.


3. Diare

Penyebab diare umumnya adalah makanan. Bisa karena keracunan makanan atau karena kuman dalam makanan. Kalau makanannya beracun, gejala utamanya muntah, baru diikuti diare. Kalau karena kuman pada makanan, biasanya diare dulu baru kemudian muntah.

Diare merupakan keadaan gawat darurat sehingga harus segera ditanggulangi sebelum kondisi dehidrasi terjadi, yaitu pertama-tama dengan memberikan banyak minum. Pemberian susu formula dan jus buah dihentikan sementara. Namun, ASI tetap dilanjutkan.

Bila diare terjadi berulang kali, anak akan kehilangan banyak cairan, bahkan sejumlah mineral penting, seperti sodium, potasium, dan klorida ikut terbuang. Bila berkelanjutan, bisa terjadi ketidakseimbangan cairan tubuh sehingga timbul dehidrasi. Kondisi dehdarasi inilah yang paling dikhawatirkan meski diare pada dasarnya akan sembuh sendiri.

4. Demam

Demam memang bukan penyakit, tapi gejala suatu penyakit. Semisal karena batuk dan pilek, radang tenggorokan, diare, infeksi lain pada saluran pencernaan, atau infeksi saluran napas.

Anak dikatakan demam, bila suhu tubuhnya di atas 37,5°C. Kalau itu terjadi, tidurkan anak dalam ruang ber-AC atau berkipas angin, kalau ada. Kenakan pakaian yang tipis. Jangan diselimuti dengan selimut tebal - kecuali si anak menggigil - karena justru akan meningkatkan suhu tubuh. Parasetamol biasa dipakai dan aman untuk anak dan bayi. Selain obat turun panas, anak diberi banyak minum ketika terserang demam. Boleh air putih, susu, air jeruk, sari buah, atau kaldu hangat.

Dengan begitu anak akan mudah berkeringat sehingga suhu tubuh menurun. Seka keringat pada tubuhnya dengan handuk basah, bedaki seluruh tubuh, dan gantilah pakaiannya dengan yang kering supaya merasa segar.

5. Alergi

Gangguan kesehatan yang juga sering diderita anak-anak adalah alergi, dan yang paling sering alergi saluran pernapasan. Penyebab alergi bisa macam-macam. Gelaja umumnya sama, yakni bersin-bersin, mata berair, hidung tersumbat, ingusan, dan gatal. Anak biasanya menggaruk-garuk hidungnya dengan punggung tangannya.

Bila sedang terserang, disarankan anak dihindarkan dari pencetusnya. Kalau pencetusnya debu, seisi kamarnya harus bebas debu dan diusahakan tidak lembap. Tirai, karpet, dan sejenisnya disingkirkan.

6. Asma

Gangguan pernapasan lainnya adalah asma. Pencetusnya bisa karena pilek dan selesma, terlalu banyak bergerak, udara dingin, perubahan emosi, asap rokok, perubahan cuaca, dan alergi (udara, debu rumah, bulu binatang, makanan, dsb.). Namun, yang paling sering ialah alergi. Ada kalanya gabungan beberapa pencetus asma dapat menimbulkan serangan. Misalnya, ketika sedang berlari-lari anak tidak terserang asma. Tetapi kalau berlari-lari saat cuaca dingin, serangan asma timbul.

Ketika terserang asma, anak diberi obat yang diresepkan dokter. Jika anak sulit bernapas sampai tak mampu menelan makanan, bibir dan lidah kebiruan, segera saja hubungi dokter.

Obat asma sebenarnya bersifat sementara. Kalau pencetusnya ada, sesak napas akan berulang. Jadi, langkah pencegahan terbaik, bebaskan anak dari segala pencetusnya.

7. Batuk

Anak-anak juga sering tak luput dari serangan batuk, yang juga merupakan gejala suatu penyakit, misalnya karena gangguan pada saluran pernapasan. Batuk yang berlebihan bisa sangat mengganggu, bahkan mengakibatkan berbagai komplikasi.

Beberapa penyebab batuk menahun dan berulang misalnya bronkitis atau radang tenggorokan, asma, kelainan paru-paru menahun, masuknya benda asing atau makanan ke saluran napas, dan kelainan bawaan pada saluran napas. Namun, bisa juga karena gangguan psikologis, semisal setelah kelahiran adik baru.

8. Influenza

Influenza sebenarnya bukan penyakit berbahaya. Disebabkan sejenis virus, penyakit ini umumnya menyerang sebagai wabah dan akan berlangsung selama 3 - 4 hari. Jarang menimbulkan komplikasi, sekalipun disertai demam tinggi. Namun, kalau daya tahan tubuh penderita menurun, maka infeksi sekunder, seperti pneumonia, bronkitis, infeksi telinga atau sinusitis, dapat muncul. Jika ini terjadi, anak segera dibawa ke dokter.

Untuk mengatasinya, anak perlu cukup istirahat dan diberi cukup cairan. Sari buah atau air bisa untuk mengganti cairan yang hilang karena berkeringat. Kopi, teh, dan susu tidak dianjurkan. Setiap tiga atau empat jam sekali, suhu tubuh anak diperiksa. Jika suhu naik mencapai lebih dari 38°C dan tidak turun dalam waktu 36 jam, segera bawa ke dokter.

loading...