Kejang merupakan suatu gejala (bukan suatu penyakit) dan merupakan petunjuk kejadian klinis yang merefleksikan gangguan fungsi sel saraf di otak. Kejang juga dapat merupakan tanda serius dari suatu penyakit yang mendasarinya. Akan tetapi, sebagian besar kasus gangguan fungsi otak ini sifatnya hanya sementara.

Banyak penyakit atau kelainan yang dapat menyebabkan terjadinya kejang, misalnya kelainan genetik, infeksi, trauma, gangguan metabolisme, tumor, dan penyebab lain yang tidak diketahui dengan jelas. Kejang dapat menimpa siapa saja, termasuk anak. Pada anak, kejang yang sering dijumpai adalah kejang demam dan epilepsi. Banyak misteri di balik kejang pada anak yang hingga kini masih belum diketahui dengan pasti. Namun, telah ada studi yang sedang dan akan dikerjakan untuk menjawab hal yang misterius ini.

Kejang Demam

Kejang demam didefinisikan sebagai kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (38 derajat Celsius). Biasanya terjadi pada bayi dan anak antara umur 6 bulan hingga 5 tahun yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium dan tidak terbukti adanya penyebab tertentu. Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.

Bila mendengar atau melihat anak dengan kejang, beberapa hal yang perlu ditanyakan adalah apakah ini kejang, disertai demam atau tidak, bagimana bentuk kejangnya, dan apa penyebab kejang ini? Ada keadaan yang mirip dengan kejang. Sinkop misalnya. Ini merupakan keadaan yang sering rancu dengan kejang karena sinkop sering disertai gerakan mirip kejang.

Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih. Makin muda anak ketika kejang pertama kalinya, makin besar kemungkinan rekurensinya. Risiko rekurensi juga berhubungan dengan rendahnya temperatur saat kejang. Kemungkinan risiko kejang demam untuk anak yang lainnya akan lebih tinggi jika orangtuanya mempunyai riwayat kejang demam.

Menghentikan kejang yang berlangsung lama adalah keharusan. Sebagian besar kejang demam berlangsung singkat dan tidak memerlukan pengobatan. Untuk mencegah agar kejang tidak berulang kembali, sebaiknya diberikan profilaksis antikonvulsan karena kejang masih dapat kambuh selama anak demam.

Morbiditas dan mortalitas yang berkaitan dengan kejang demam umumnya sangat jarang, meskipun pada anak yang mengalami kejang yang berlangsung lama. National Colaborative Perinatal Project (NCPP) tidak melaporkan adanya kematian pada anak dengan kejang demam. Kematian dan gangguan motorik atau gangguan kecerdasan juga tidak terjadi pada suatu seri penelitian dari 180 kasus kejang demam yang berlangsung lama.

Epilepsi pada bayi dan anak

Epilepsi merupakan gangguan yang berupa kejang berulang tanpa demam atau tanpa diprovokasi. Kejang tanpa demam satu kali belum dapat dikatakan suatu epilepsi. Meta-analisis memperlihatkan bahwa rekurensi kejang tanpa demam yang pertama yaitu 40% setelah 2 tahun. Oleh karena itu, rumatan obat anti-konvulsan biasanya tidak direkomendasikan, kecuali pada serangan kedua. Namun perlu diingat bahwa kejang yang tidak diketahui ’unrecognized seizure’ mungkin ada (50%) bila anamnesa tidak dilakukan dengan baik.

Salah satu prinsip umum pengobatan epilepsi adalah tidur cukup. Orangtua perlu diberitahu mengenai keadaan yang dapat membahayakan anak bila mendapat serangan seperti berenang. Pada sebagian besar jenis epilepsi, anti-konvulsan rumatan umumnya direkomendasikan setelah dua serangan kejang tanpa demam. Terdapat banyak obat anti-konvulsan yang tersedia untuk epilepsi, namun pemilihan tergantung dari beberapa faktor, termasuk usia, jenis epilepsi, dan sindrom epilepsi.

dr. Dwi Putro Widodo Sp.A (K)
Dokter Anak Konsultan
RS Pondok Indah

loading...