Peraturan perundang-undangan di Indonesia belum memberikan definisi ataupun pengertian atas istilah child abuse and neglect dalam bahasa Indonesia. Beberapa istilah sempat diajukan namun belum pernah disepakati secara nasional istilah mana yang disepakati sebagai istilah pengganti child abuse and neglect. Beberapa istilah tersebut adalah “penganiayaan dan penelantaran anak”, kekerasan terhadap anak, perlakuan salah terhadap anak atau penyalahgunaan anak.

Dalam hal ini tetap digunakan istilah “child abuse and neglect” yang bila diindonesiakan menjadi “kekerasan terhadap anak”. Istilah kekerasan terhadap anak memang dianggap telah mewakili segala kekerasan, baik fisik, seksual, emosional, ataupun penelantaran, namun kurang mencerminkan sifat “perlakuan salah” atau “penyalahgunaan” anak, di mana terdapat hubungan khas antara pelaku dengan korbannya. Meskipun harus diakui pula bahwa kekerasan terhadap anak dengan sifat khusus tersebut sudah termasuk ke dalam pengertian kekerasan terhadap anak yang lebih umum sifatnya.

Dalam hal ini pengertian CAN adalah mengacu definisi WHO: Child abuse and neglect adalah semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau eksploitasi lain, yang mengakibatkan cedera/ kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh-kembang anak, atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung-jawab, kepercayaan atau kekuasaan. Physical abuse terhadap anak adalah kekerasan yang mengakibatkan cedera fisik nyata ataupun potensial terhadap anak, sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi, yang layaknya berada dalam kendali orang tua atau orang dalam posisi hubungan tanggungjawab, kepercayaan atau kekuasaan.

Orang tua ataupun pengasuh dapat memiliki atau tidak memiliki niat untuk menyakiti anaknya, atau cedera dapat pula merupakan hasil dari hukuman disiplin yang berlebihan. Sexual abuse terhadap anak adalah pelibatan anak dalam kegiatan seksual, di mana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami, atau tidak mampu memberi persetujuan, atau oleh karena perkembangannya belum siap atau tidak dapat memberi persetujuan, atau yang melanggar hukum atau pantangan masyarakat.

Kekerasan seksual ditandai dengan adanya aktivitas seksual antara anak dengan orang dewasa atau anak lain yang baik dari usia ataupun perkembangannya memiliki hubungan tanggungjawab, kepercayaan atau kekuasaan; aktivitas tersebut ditujukan untuk memberikan kepuasan bagi orang tersebut.

Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual dalam prostitusi atau pornografi, pemaksaan anak untuk melihat kegiatan seksual, memperlihatkan kemaluan kepada anak untuk tujuan kepuasan seksual, stimulasi seksual, perabaan (molestation, fondling), memaksa anak untuk memegang kemaluan orang lain, hubungan seksual, incest, perkosaan, dan sodomi.

Emotional abuse terhadap anak adalah meliputi kegagalan penyediaan lingkungan yang mendukung dan memadai bagi perkembangannya, termasuk ketersediaan seorang yang dapat dijadikan figure primer, sehingga anak dapat berkembang secara stabil dan dengan pencapaian kemampuan sosial dan emosional yang diharapkan sesuai dengan potensi pribadinya dan dalam konteks lingkungannya. Kekerasan emosional dapat juga merupakan suatu perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan atau sangat mungkin akan mengakibatkan gangguan kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Perbuatan-perbuatan tersebut harus dilakukan dalam kendali orang tua atau orang lain dalam posisi hubungan tanggung-jawab, kepercayaan atau kekuasaan terhadap si anak.

Beberapa contoh kekerasan emosional adalah pembatasan gerak, sikap tindak yang meremehkan anak, memburukkan atau mencemarkan, mengkambing-hitamkan, mengancam, menakut-nakuti, mendiskriminasi, mengejek atau mentertawakan, atau perlakuan lain yang kasar atau penolakan. Penelantaran anak (child neglect) adalah kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya, seperti : kesehatan, pendidikan, perkembangan emosional, nutrisi, rumah atau tempat bernaung, dan keadaan hidup yang aman, di dalam konteks sumber daya yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau pengasuh, yang mengakibatkan atau sangat mungkin mengakibatkan gangguan kesehatan atau gangguan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Termasuk di dalamnya adalah kegagalan dalam mengawasi dan melindungi secara layak dari bahaya atau gangguan.

Kelalaian di bidang kesehatan terjadi apabila terjadi kegagalan untuk memperoleh perawatan medis, mental dan gigi pada keadaan-keadaan, yang bila tidak dilakukan, akan dapat mengakibatkan penyakit atau gangguan tumbuh-kembang.

Kelalaian di bidang pendidikan meliputi pembolehan mangkir sekolah yang kronis, tidak menyekolahkan pada pendidikan yang wajib diikuti setiap anak, atau kegagalan memenuhi kebutuhan pendidikan yang khusus.

Kelalaian di bidang fisik meliputi penolakan atau penundaan memperoleh layanan kesehatan, penelantaran / pembiaran, pengusiran dari rumah atau penolakan kembalinya anak sepulang dari kabur, dan pengawasan yang tak memadai.

Kelalaian di bidang emosional meliputi kurangnya perhatian atas kebutuhan anak akan kasih sayang, penolakan atau kegagalan memberikan perawatan psikologis, kekerasan terhadap pasangan di hadapan anak, dan pembolehan penggunaan alkohol dan narkoba oleh si anak.

Eksploitasi anak (child exploitation) adalah penggunaan anak dalam pekerjaan atau aktivitas lain untuk keuntungan orang lain. Hal ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada, pekerja anak dan prostitusi. Kegiatan ini merusak atau merugikan kesehatan fisik dan kesehatan mental anak, merugikan perkembangan pendidikan, spiritual, moral dan sosial-emosional anak. Eksploitasi anak biasanya tidak termasuk ke dalam CAN yang dipahami oleh tenaga profesional kesehatan.

loading...