Kekerasan terhadap anak adalah bentuk perlakuan menyakiti fisik dan emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi serta perdagangan anak (trafficking) yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan, atau kekuasaan. Misalnya, kekerasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak atau guru terhadap muridnya.

Menurut Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Biro Pusat Statistik Tahun 2007, angka kejadian tindak kekerasan terhadap anak di Indonesia adalah 3,02% yang artinya setiap 10.000 anak terdapat 302 anak korban kekerasan. Jumlah tersebut belum menggambarkan seluruh kasus yang ada di masyarakat karena tidak semua kasus yang terjadi dilaporkan.

Dasar hukum untuk melindungi anak dari kekerasan antara lain:

  1. Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
  2. Undang-Undang No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
  3. Undang-Undang No.11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.
  4. Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.


Berbagai jenis kekerasan dapat menimpa anak, baik fisik maupun mental, berikut diantaranya:

  1. Kekerasan fisik, misalnya, pemukulan, pemasungan, penusukan, dan penyundutan dengan rokok.
  2. Kekerasan seksual, misalnya, sodomi, perkosaan, hubungan seksual oleh orang yang mempunyai hubungan darah (incest), dan pemaksaan memegang/ dipegang kemaluan.
  3. Kekerasan emosional, misalnya, pembentakan, pengancaman, upaya menakut-nakuti, pengejekan, dan peremehan.
  4. Penelantaran anak, misalnya, pengabaian gizi, kurangnya perhatian kesehatan, dan tidak memberikan pendidikan yang layak.
  5. Perdagangan anak (trafficking), misalnya, penculikan dan/ atau penjualan anak.
  6. Eksploitasi anak, misalnya, pemerasan, usaha mempekerjakan anak, dan/ atau pelacuran.


Kekerasan akan berdampak buruk pada anak, antara lain:

  1. Tumbuh kembang anak yang terganggu.
  2. Kecacatan yang dapat mengganggu fungsi tubuh.
  3. Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV/ AIDS dan gangguan kerusakan organ reproduksi.
  4. Ketidakpercayaan diri, hiperaktif, susah bergaul, rasa malu dan bersalah, cemas dan tertekan, suka mengompol, dan mimpi buruk.
  5. Penyalahgunaan NAPZA.


Peran serta masayarakat sangat diperlukan dalam melindungi anak dari tindak kekerasan yang terjadi di lingkungannya, yaitu:

  1. Anak yang mengalami kekerasan yang berakibat cidera segera dibawa ke fasilitas kesehatan (puskesmas atau puskesmas mampu KtA/ rumah sakit, dll).
  2. Semua kasus kekerasan terhadap anak segera dilaporkan ke tokoh masyarakat (RT/RW setempat).


Selain masyarakat umum, peran tenaga kesehatan secara khusus diperlukan dalam melindungi anak dari tindak kekerasan, antara lain berupa:

  1. Kasus yang mengancam jiwa anak ditangani secara medis.
  2. Kasus yang tidak mengancam jiwa ditangani melalui:
    • wawancara,
    • pemeriksaan fisik dan laboratoris,
    • pengobatan, dan
    • konseling.


Berikut adalah lembaga atau pihak-pihak yang dapat dihubungi apabila anak korban kekerasan memerlukan bantuan:

  1. Kepolisian,
  2. Lembaga bantuan hukum,
  3. Lembaga perlindungan anak,
  4. Lembaga sosial masyarakat/pemerintah, seperti dinas sosial.


Pesan Kesehatan

  • Dampak kekerasan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak dan mutu hidupnya. Lindungi anak dan berikan kasih sayang kepadanya.
  • Pola asuh yang tepat dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitarnya akan meningkatkan kualitas hidup anak.
  • Cegah tindakan kekerasan pada anak.

#depkes

loading...